CREEPYPASTA: “THE RUSSIAN SLEEP EXPERIMENT”
Part II
WARNING! GORE CONTENT!
Cr : humanunpad.com
***
**
*
Kedua subjek tes lainnya diberikan operasi yang sama. Mereka berdua juga tidak diberikan anastesi selama operasi. Mereka disuntikkan obat pelumpuh saraf untuk membekukan tubuh mereka. Namun walaupun begitu, dokter bedah yang menanganinya masih menemukan mustahil untuk melakukan prosedur tersebut selama sang pasien masih tertawa terus-menerus. Sekali dilumpuhkan, para subjek hanya mampu mengikuti gerakan para dokter dengan mata mereka. Obat pelumpuh saraf itu secara abnormal kehilangan pengaruhnya secara cepat dan mereka mulai menggeliat, mencoba melepaskan diri.
Pada saat mereka dapat berbicara kembali, mereka meminta gas stimulan. Para peneliti mencoba bertanya, mengapa mereka mencoba melukai diri mereka sendiri, mengapa mereka mencabik dan mengeluarkan isi perut mereka sendiri, dan mengapa mereka begitu ingin diberi gas itu kembali.
Jawaban mereka satu2nya adalah, “Aku harus tetap terbangun.”
Semua ikatan pada ketiga subjek yang tersisa diperkuat dan mereka ditempatkan kembali di dalam ruang tahanan, menunggu keputusan tentang apa yang harus dilakukan terhadap mereka. Para peneliti bersiap menghadapi amarah dari pihak militer yang telah mendanai mereka. Karena gagal mencapai tujuan proyek mereka, para peneliti mulai mempertimbangkan untuk meng-euthanasia (menyuntik mati) ketiga subjek yang tersisa. Komandan yang berkuasa, seorang mantan KGB, justru melihat potensi dan ingin melihat apa yang terjadi apabila tahanan2 itu dikembalikan dalam ruangan ber-gas. Para peneliti dengan tegas menolaknya, namun mereka tidak dapat melakukan apa2.
Dalam persiapan untuk kembali mengurung subjek tes yang tersisa, mereka dihubungkan dengan monitor EEG untuk diamati aktivitas otaknya. Mereka juga akan dimasukkan ke sana dalam ranjang yang terikat. Secara mengejutkan, begitu tahu mereka akan dibawa kembali ke dalam, ketiga subjek tes itu berhenti melawan. Pada titik ini terasa jelas bahwa perlawanan mereka tadi bukanlah agar mereka dibebaskan, namun agar mereka tetap terjaga.
Salah satu subjek yang mampu berbicara mulai bersiul dengan keras, terus-menerus. Subjek yang bisu mulai meluruskan dan menekuk kakinya secara berurutan, pertama yang kiri, kemudian yang kanan, kemudian yang kiri lagi, seperti berusaha untuk fokus terhadap sesuatu. Sedangkan subjek satunya mengangkat kepalanya agar tidak menyentuh bantal sambil terus berkedip dengan cepat.
Dengan bantuan kabel EEG yang ditempelkan di pelipis mereka, para peneliti kini mampu memonitor gelombang otak mereka. Di luar dugaan, gelombang otak mereka naik turun seperti otak normal, namun pada saat tertentu, garis mereka tiba2 menjadi datar. Terlihat seakan-akan mereka mengalami kematian otak sementara, kemudian kembali normal. Saat para peneliti fokus kepada kertas-kertas hasil EEG yang menggulung keluar, salah satu perawat melihat salah satu subjek menutup mata begitu kepalanya menyentuh bantal. Gelombang otaknya berubah pendek seperti pada orang yang mengalami tidur nyenyak, kemudian mendatar seiring jantungnya berhenti berdetak.
Satu2nya subjek yang masih dapat berbicara mulai berteriak, meminta agar ia segera dikurung sekarang. Gelombang otaknya menunjukkan garis datar yang sama seperti yang baru saja meninggal akibat jatuh tertidur. Komandan memberikan perintah untuk menyegel ruang tahanan dengan kedua subjek di dalamnya, bersama dengan 3 peneliti. Salah satu dari peneliti yang disebut namanya segera menarik sebuah pistol dan menembak sang komandan tepat di antara kedua matanya, kemudian mengalihkan moncong pistolnya ke arah subjek yang bisu, meledakkan kepalanya.
Ia kemudian menodong satu2nya subjek yang tersisa yang masih terikat di atas tempat tidur, dengan sisa tim medis dan para peneliti melarikan diri.
“Aku tak sudi dikunci di dalam sini dengan kalian! Tidak denganmu!” ia berteriak di depan wajah subjek yang terikat di atas ranjang, “APA KAU INI SEBENARNYA?” ia meminta penjelasan, “Aku harus tahu!”
Sang subjek tersenyum.
“Sudahkah kau lupa dengan begitu mudahnya?” sang subjek bertanya dengan suara hampir menggeram, seakan menahan tawa, “Kami adalah kamu. Kami adalah kegilaan yang mengintai di dalam kalian, mengiba untuk dibebaskan pada setiap kesempatan, menunggu agar kalian kembali menjadi hewan. Kami adalah apa yang kalian sembunyikan dalam tidur kalian setiap malam. Kami adalah apa yang kalian bius di dalam keheningan dan kelumpuhan ketika kalian terlelap dalam mimpi indah, dimana kami tak bisa bangkit.”
Sang peneliti berhenti. Ia membidik jantung sang subjek dan menembak. Garis EEG mendatar ketika sang subjek perlahan tersedak oleh darahnya sendiri.
“Kami …. akan … bebas ….”
#
##
###
Selamat malam. Dan terimakasih!
KAMU SEDANG MEMBACA
Sleep With Nightmare
HorrorMari kita tidur dengan mimpi buruk!. . . ⚠CREEPY PASTA AREA 🚧 URBAND LEGEND ⚠ RIDDLE . . Dari sebagian cerita ada yg real buatan saya dengan hastag #ID
