1.Miyawaki Sakura is My Name

813 84 1
                                        

"My biggest mistake wasn't falling for you, It was thinking that you had fallen for me too."

-unknown-


"Nona Miyawaki...Nona Miyawaki?!" suara seorang pria tua terdengar semakin dekat dan nyata.

Sakura tersentak kaget saat sang pemilik suara menepuk pelan bahunya

"Ah? Takagi-san? Ada apa?" Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mengembalikan fokus.

"Ah maafkan saya Nona,hanya saja sudah tiba waktunya keberangkatan anda." Pria tua bernama Takagi membalas sambil tersenyum tenang khasnya.

"Oh? Benarkah?" Sakura terkejut,sudah berapa lama dia termenung? 30 menit? 1 jam?

"Anda terlihat lelah? Apa ada yang menggangu pikiran anda,Nona?" Tanya pria paruh baya yang sudah dianggap seperti ayah ini oleh Sakura.

"Ah..tidak, aku hanya emmm..." Sakura bingung mencari kata-kata yang tepat.

"Jangan khawatir Nona, anda pasti bisa menikmati waktu anda di Seoul. Ibu anda pasti senang menyambut anda" Takagi berusaha menenangkan wanita muda itu.

Sakura hanya tersenyum pahit,tentu saja dia senang bertemu Ibu namun dia lebih khawatir jika bertemu 'orang itu'. Tapi dia tak mungkin mengatakannya kepada Takagi,ini bukanlah hal yang penting.

"Nona Miyawaki? Anda termenung lagi" Takagi menatap wanita muda di hadapannya dengan heran

"Ah? Iya..semoga aku baik-baik saja disana" Sakura menjawab dengan ragu.

"Anda pasti baik-baik saja" Takagi menegaskan.

"Aku pasti akan merindukan Takagi-san selama disana" Sakura berkata lagi tapi kali ini sambil memeluk pria tua di depannya.

"Your attention please, passengers of Japan Airlines on flight number JAL720 to Seoul,South Korea please boarding from door A10, Thank you."

Terdengar suara dari pengeras suara,pesawat yang akan ditumpangi oleh Sakura akan berangkat sebentar lagi. Sakura menatap Takagi dengan sedih. Dia akan berpisah dengan pelayan yang setia menemaninya selama 2 tahun terakhir ini.

"Baik-baiklah Nona disana" Takagi menatapnya sendu.

Sakura mengangguk dan melambaikan tangannya sekali lagi sebelum benar-benar melangkah pergi.Ah..dia pasti akan merindukan Tokyo,meskipun waktu yang dihabiskan hanya sebentar disini tapi Tokyo merupakan tempat terbaik untuk melupakan patah hatinya.

_________________________________

Baru saja Sakura menemukan tempat duduknya dan menaruh ransel di kabin pesawat,tiba-tba ponselnya bergetar pertanda telepon masuk.

"Halo?" Sakura menjawab dengan malas

"Apakah kau sudah di bandara? Maafkan Ayah,tadi ada pertemuan yang penting,tidak bisa diti-"

"Sudahlah Ayah,aku sudah di dalam pesawat.Sebentar lagi akan berangkat" Sakura menjawab dengan cepat. Sudah bosan dia dengan alasan Ayah. Ayahnya memang begitu bukan hanya sekarang tapi sejak dulu.

"Hubungi Ayah jika sudah tiba di sa-"

"Ya..ya" Dia memutuskan sambungan telepon. Malas mendengarkan ocehan ayahnya.

"Maaf Nona,pesawat akan lepas landas sebentar lagi. Mohon non-aktifkan ponsel anda" tegur seorang pramugari yang tiba-tiba berdiri disamping Sakura.

"Ah..iya maafkan saya" Sakura segera mengaktifkan flight mode pada ponselnya.

_________________________________

SAUDADETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang