Pertama Bertemu Icak

539 59 13
                                    

Kinan berlari kecil kearah halte bus di depan kampusnya. Langkahnya kian melebar karena harus memilih jalanan yang tidak terlalu becek atau lebih baik lagi jalanan yang masih kering. Ia menutup kepalanya dengan map plastik transparan yang berisikan tugas paper, hasil kuis, hingga referensi materi yang ia gunakan untuk perkuliahan. Dari kejauhan sudah bisa dilihat dari map transparan itu bahwa terdapat barisan kode dan perintah-perintah aneh yang kebanyakan orang tak mau tahu untuk apa fungsinya.

Sebagai anak jurusan Ilmu Komputer tahun kedua, Kinan mulai dipusingkan dengan tugas review paper hingga membuat laporan praktikum. Kalau sedang sial, terkadang Kinan harus mengerjakan 2 hingga 3 laporan untuk 1 kali sesi praktikum.

Hujan benar-benar tak membiarkannya bisa pulang dengan selamat dan dengan tubuh kering. Bulir-bulir air hujan mengalir turun disetiap helai rambutnya yang lurus.

Ia merogoh saku dan mengetikkan sesuatu,

"Bang, jadi jemput Kinan ga?"

Lalu mengirimnya kepada kontak dengan nama "Bang Rafie".

Apa yang ada didalam kepala Kinan adalah pulang, mandi, minum teh hangat madu dan melanjutkan tugas nya yang belum selesai sambil bergumul dibalik selimut hangat. Kenyataannya ia terpaksa meneduh di halte yang sepi karena tertahan hujan.

"Pulang duluan aja, Abang masih ada sesi lagi. Maaf ya"

Begitu kira-kira balasan dari Bang Rafie, kakak nomor dua Kinan. Ia adalah anak terakhir dari 3 bersaudara dan satu-satunya anak perempuan. Kakak pertamanya, Bang Rei, sedang melanjutkan studi di Singapore dengan mengambil jurusan Bisnis. Kakak keduanya, Bang Rafie adalah anak kedokteran tingkat akhir yang sedang sibuk koass.

Ia menatap sekitar. Sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang menunggu bus seperti Kinan. Ia memainkan genangan air didepannya dengan kaki, menciprat-cipratkannya kemana-mana. Tanpa sadar seseorang disampingnya sedikit bergeser untuk menghindari cipratan air mengenai tubuhnya.

Tanpa pikiran aneh, Kinan masuk ke bus yang akan mengantarnya pulang kerumah. Kinan benar-benar tak punya pilihan lain selain naik bus karena kalau naik gojek dari kampus ke rumahnya lumayan mahal, alasan lainnya juga karena Kinan mau tidur sebentar di dalam bus.

Bahkan hari itu Kinan tak menyangka bahwa Kinan akan bertemu dengan manusia super ajaib yang sepertinya akan menemani dan menjaga Kinan dalam waktu lama.

Kinan tak mencoba untuk menahan kantuknya dan membiarkan dirinya sendiri sesekali terlelap sambil berdiri didalam bus. Ia sedikit tak perduli meskipun ia harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.

Ia juga tak tahu apa yang sedang terjadi ketika tiba-tiba seseorang mendorong dan memposisikan tubuhnya dibelakang Kinan dengan kedua tangan orang tersebut ada di kanan kiri tubuh Kinan sambil berpegangan pada jok yang ada. Kalau mau dibayangkan, rasanya Kinan seperti hampir dipeluk dari belakang. Kedua tangan disekitar Kinan seolah menjaga tubuhnya agar tidak terbawa arus penumpang yang terombang-ambing mengikuti ulah sang supir mulai dari ngerem mendadak atau ngegas yang juga sama mendadaknya.

Sedangkan Kinan? Ia masih sibuk meladeni rasa kantuknya yang kini mulai sulit ditahan lagi. Entah menit keberapa, Kinan sadar bahwa telapak tangan orang itu mulai berkeringat dan urat-urat bermunculan karena terlalu lama menahan tubuhnya sendiri dari desakan orang-orang disekitarnya. 

"Nanti kalo bangku depan lo itu kosong, langsung duduk aja", terdengar perintah seperti itu dibelakang Kinan.

Setengah mati Kinan menahan takut karena seumur hidup ia naik bus, ia baru pernah merasa sedang dalam bahaya seperti itu. Kinan bahkan tak ada niatan untuk menjawab apapun karena yang hanya ia bisa lakukan adalah memegangi map di tangan kirinya dengan erat dan berdoa semoga Tuhan melindunginya kali ini.

My Silly Boyfriend - Park WoojinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang