Jarak

158 37 4
                                        

Jarak yang ada di antara kau dan aku, kuharap akan semakin menyempit malam ini.








Sejak pengakuanku tempo hari, Yosel berubah.

Perubahan yang menyenangkan, meskipun merangkak. Hari pertama pasca pengakuanku, ia mulai mau makan lebih dari dua suapan. Sal girang sekali dan semakin rajin mengirimi kami aneka jenis makanan buatannya, berharap napsu makan Yosel akan semakin membaik. Aku dengan senang menaikkan 'dosis' suapannya satu demi satu perhari.

Hari-hari berikutnya, ia sudah mau menatap orang yang mengajaknya bicara, meski tidak menjawab. Bahkan sesekali Yosel menunjukkan ekspresi, meski tipis sekali. Meski sempat dikacaukan oleh Hermie yang suka bercanda mengeluarkan lelucon 'akhirnya aku tidak bicara pada boneka' dan membuat Yosel jadi malas berekspresi, aku senang, Yosel semakin berkembang.

Bahkan di pekan berikutnya, Yosel mau kuajak jalan-jalan mengitari taman dekat rumah dengan sepeda. Taman yang dulu tidak kuperhatikan keindahannya, namun sangat Yosel sukai. Matanya berlarian mengikuti langkah anak-anak yang asyik bermain pasir di taman. Aku tersenyum melihatnya. Satu tentang Yosel yang belum berubah, yaitu kesukaannya pada anak-anak. Setiap hari saat klinik tutup, aku selalu mengajak Yosel duduk di taman dan menonton anak-anak bermain.

Hari ini, Sal dan suaminya mengundang kami untuk makan bersama di rumahnya. Yosel diam saja,tapi aku tahu dia tidak menolak. Dia diam saja saat rambutnya kusisir dan kupakaikan jepit rambut. Ia tidak memberontak saat kunaiki di jok sepeda dan sepeda mulai meluncur.

Yosel memang diam saja, tapi aku tahu ia menyukai rumah Sal yang baru kali ini ia kunjungi, dilihat dari caranya mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah mungil Sal yang dicat kuning pucat dan dihiasi kebun bunga matahari. Sal membukakan pintu untuk kami dan langsung memeluk Yosel.

"senang sekali melihat kau datang, Yoselin. Ini pertama kalinya kau datang ke rumahku,kan? Ayo, jalan bersamaku. " sapa Sal ramah dan langsung merangkul Yoselin,mengabaikanku. "Kau sudah sering kesini, kan, Jovian? Jalan saja sendiri."

Aku mengangkat bahu, ikut melangkah mengikuti mereka.

Sal mengantar kami menuju ruang makannya yang terletak dekat dengan halaman belakang. Kami langsung duduk sementara Sal bergegas ke dapur sambil meneriaki nama suaminya. Dari jendela, terlihat jelas Cassie, anak Sal yang berumur 4 tahun sedang asyik dengan bolanya. Yosel tampak fokus sekali memperhatikannya.

Aku tersenyum tipis. "dia Cassie, kau ingat? Terakhir kali dia main ke rumah kita, dia belum segemuk itu. "

Yosel tersenyum tipis. Terakhir kali Cassie bermain bersama kami adalah beberapa hari sebelum kematian Titan.

Aku segera memanggil Cassie untuk mendekat. "ayo, beri salam pada bibi Yosel!"

Cassie tergopoh-gopoh dengan tubuh gempalnya, berjalan ke arah kami sambil tetap memeluk bolanya. Begitu melihat Yosel, Cassie langsung minta digendong. "bibi cantik! Aku kangen! "

Yosel kebingungan dan aku tertawa. Segera kuangkat Cassie dan kududukkan di paha Yosel. Yosel refleks memeluk Cassie agar anak itu tidak jatuh. Cassie lekas mengoceh pada Yosel, mengadukan apa saja, memamerkan kemampuan bicaranya yang makin bagus. Yosel benar-benar mendengarkan setiap ocehan Cassie, mengangguk atau menggeleng tipis ketika ditanya, dan membelai rambut Cassie jika anak itu merajuk.

Sungguh pemandangan yang sangat indah.

"wah, Yoselin hebat bisa memangku Cassie! Aku saja kewalahan! " komentar ramah seorang laki-laki dari arah belakang. Aku menoleh dan langsung berdiri menyambutnya. Dia Will, suami Sal.

"Will,lama tidak bertemu. " sapaku.

"koreksi untuk kita berdua yang jarang menemui satu sama lain. " Will tertawa. Kemudian ia mendekat, berbisik. "Yoselin terlihat lebih baik. "

Aku tersenyum bangga. "ya. Perkembangannya luar biasa. "

"apa yang kau lakukan? "

Mengungkapkan perasaanku, batinku mengucap, tapi tidak. Aku tidak ingin membahasnya. Biarlah itu menjadi rahasiaku. Rasaku untuknya, biarlah hanya aku yang tahu. "entahlah, berdoa? Menemaninya setiap hari? "

Will terkekeh. "kau hebat, bung. " lalu langkah kaki dari arah dapur membuat Will menoleh. Istrinya datang dengan panci berisi hidangan di tangannya.

"makanan sudah siap! " Sal berseru senang. Will bersorak dan segera mengambil Cassie dari pangkuan Yosel. "ini makanan percobaan Sal, tapi bisa kujamin rasanya enak. Kau harus menghabiskannya, Yosel. "

Yosel menatap Will meski tidak mengatakan apa-apa. Will tersenyum dan mengusak rambut Yosel sebelum duduk di sebelah istrinya. Aku sendiri lekas duduk di sebelah Yosel.

Sebelum tragedi Titan, Yosel dan Will cukup dekat. Yosel sering merengek pada Will untuk meminjamkan Cassie padanya, dan Will yang hanya pasrah karena tidak kuat mendengar rengekan Yosel.

Saat kami mulai menyantap makanan, dua perkembangan lagi kudapati. Pertama, Yosel mau makan tanpa disuapi. Yang kedua, ia menghabiskan seluruh makanan yang ada dipiringnya, meskipun ia makan dengan lambat. Aku tidak berkomentar karena tidak mau menghancurkan momen berharga itu, tetapi aku tahu mataku berkaca-kaca.

Ya Tuhan, terimakasih karena telah sedikit-demi sedikit mengembalikan Yosel padaku.

Sal dan Will juga menyadari perkembangan itu. Sal tersenyum gembira. Will berkomentar. "aku benar, kan? Makanan percobaan Sal memang enak! Yosel, mau menambah? Ambil sebanyak yang kau mau. "

Yosel menolak, namun mereka tentu saja tak ambil hati. Melihat Yosel berkembang sudah lebih dari cukup bagi kami. Aku mengelus kepala Yosel penuh sayang. Dan ia menatapku.

Selesai makan, Sal menawarkan untuk membawa pulang makanannya dan segera mengumpulkan piring kotor dibantu Will. Aku menuangkan air ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Yosel.

"Sal memang hebat dalam memasak, bukan begitu? " tanyaku. Yosel menatapku sambil meremas gelasnya yang kosong.

"kau masih ingin bermain dengan Cassie? Kita bisa disini dulu sampai kau puas. " tawarku. Yosel menggeleng, masih menatapku.

"kau mau ke taman? Ini sudah malam, tapi mungkin masih ada anak-anak yang bermain. " aku melihat jam tanganku, selain karena ingin melihat waktu, sejujurnya hal itu kulakukan karena aku salah tingkah. Yosel terus-menerus menatapku. Tidak memindahkan tatapannya dari mataku sedetikpun. Apakah aku terlihat aneh? Apakah ada yang salah? Apa yang ada di pikirannya? Aku menjadi gugup.

"atau.. Atau apakah kau ingin mencari suasana baru? Kita bisa ke jembatan besar. Bulan lalu katanya pemerintah kota memasang lampu-lampu cantik disana, terlihat indah saat malam hari. Kita harus melihatnya. Atau apakah kau mau pergi ke..... "

Ucapanku terputus saat Yosel tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku, dan menciumku.

Otakku langsung kehilangan fungsinya. Kekagetan luar biasa yang kurasakan membuatku mematung, tak mampu bahkan untuk berpikir. Bibir Yosel terasa dingin di bibirku, membuatku kebas hingga ke tulang. Aku tak mampu merasakan apapun kecuali bibirnya. Aku tak mampu melihat apapun kecuali mata indahnya yang tertutup.

Demi Tuhan.

Dalam hidupku, tak pernah sekalipun aku memiliki kekasih, apalagi mencium seseorang. Yosel adalah satu-satunya yang kuinginkan, dan aku tak bisa melampiaskan keinginanku akan Yosel kepada gadis lain. Aku sungguh sudah menerima kenyataan bahwa Yosel tak akan menjadi milikku, bahwa aku akan menghabiskan umurku untuk menantikan kapan rasa ini akan hilang, yang berarti tidak akan pernah. Yang berarti aku akan sendirian sampai aku mati.

Jadi mendapati Yosel yang menciumku tiba-tiba sungguh melumpuhkanku.

Ciuman itu singkat saja, meskipun bagiku rasanya seperti bertahun-tahun. Yosel memundurkan wajahnya lagi. Rona merah menghiasi pipi pucatnya. Ia kembali membuka matanya dan menatapku.

"Y-yosel... Apa.... " ucapku kelu. Apa maksud ciuman itu? Mengapa kau melakukannya? Bagaimana bisa? Dan seribu pertanyaan lain berputar dalan kepalaku, begitu banyaknya sampai tidak ada satupun yang keluar.

"terimakasih. aku tidak ingin kemana-mana. Aku ingin pulang, Jovian. " ucapnya lirih sambil menggenggam tanganku.







Tbc






Lama juga ya aku gak apdet, hehe.

Time for the Moon NightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang