"Tatapannya memang hanya sedetik, namun nyatanya aku beku tak berkutik."
-Rain-
***
Pagi ini jadwalnya olahraga atau biasa disebut "penjaskes". Aku, Dita, Dinar, dan Anin sudah duduk di pinggir lapangan sembari mengobrol ringan. Sedangkan anak perempuan lainnya masih berada di dalam kelas menggunakan em... apa ya tadi? Ah iya, sunblock! Fungsinya agar wajah terlindungi dari panas matahari, kata Meli.
Bola plastik berwarna putih - biru yang dijual seharga lima ribu per biji itu ditendang kesana - kemari. Jeritan - jeritan panggilan nama menyeruak gendang telinga. Lapangan benar - benar dikuasai oleh anak delapan D saat ini.
Omong - omong, lapangan di sekolahku hanya satu. Sebenarnya lapangan ini adalah lapangan basket, karena di belakang sekolahku ada lapangan bola yang begitu luas dan digunakan untuk umum. Jadi, untuk main sepak bola biasanya di belakang sekolah. Namun, sekolahku baru saja membeli gawang beberapa waktu lalu. Sehingga saat ini satu lapangan yang terdapat di tengah - tengah sekolah bisa untuk main sepak bola, futsal ataupun basket.
Mataku tertuju pada lelaki yang akhir - akhir ini secara mendadak menjadi bagian dari anganku; Cakra. Ia mengoper bola kesana - kemari dengan keren. Matanya menyiratkan kebahagiaan, mulutnya terbuka, tertawa, menampakkan deretan giginya.
"Hayo, ngelihatin siapa?!" Dita menyenggol bahuku sembari tersenyum nakal.
"Apaan sih ngagetin aja." Aku kembali menonton sepak bola, Dita tertawa kecil.
"Ngelihatin yang selama ini ngelihatin kamu dari pojokan yaa?" Tanyanya jahil.
"Apaan dah. Aku ngeliatin bolanya kok," kataku.
"Bolanya apa orangnyaaa," Dita semakin menjadi.
"Apaan ish, sana sana hush,"
"Hahaha, jangan - jangan kamu suka sama dia Ra," ujar Dita yang membuat mataku melotot.
"Ih enggak mauuuuu, dia nyebelin tau! Masa di warung soto nabrak - nabrak sembarangan. Pas dipanggil malah lari lagi. Apaan dah, cowo gajelas." Ujarku mengerucutkan bibir.
"Jangan bilang gitu, nanti kemakan omongan sendiri baru tau rasa kamu," Dita membuka air mineralnya.
"Lagian, kita tuh masih SMP, Dit. Kalau pacaran ntar masuk BK. Kena poin lagi. Kamu mau tanggung jawab?" Tanyaku.
"Ya gausah pacaran. TTM kek, atau apa kek, asal jangan pacaran, deket aja." Ujarnya.
"Lah, kamu kira aku sempak yang belum kering apa? Digantungin gitu aja?" Aku malah tersulut emosi sendiri.
"Loh, sekolah kita pada gitu semua loh, Ra. Masa kamu gatau sih? Lissa itu sama Koko katanya TTM-an. Terus si Vanka sama Ari juga TTM-an. Banyak deh pokoknya yang ga pacaran tapi di chat sayang - sayangan kayak orang pacaran," Dita malah curhat sekarang.
"Yaudahlah biarin, urusan mereka," ujarku.
Aku kembali menonton permainan sepak bola. Seperti kata Dita, aku tidak memperhatikan bolanya, melainkan orangnya.
Mataku hanya terfokus pada satu orang yang sampai sekarang masih belum pernah ku sapa sama sekali padahal teman satu kelas sendiri. Kala itu pernah satu kali. Karena aku penjaga piket, saat piket pagi aku mengabsen siapa saja yang sudah piket. Dan saat itu Cakra lah yang piket. Aku bertanya,
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember
Roman pour AdolescentsKisah hujan dan kehilangan - kehilangannya. Termasuk kehilangan kenangannya.
