Ini sudah hari ketiga Ayu nggak pulang ke rumah. Selain karena alasan pekerjaan, dia juga sedang marah sama eyang.
Kali ini benar-benar marah. Mungkin lebih tepatnya sih, kecewa sama eyang2. Gimana enggak coba?
Jadi ceritanya, sehari sesudah acara masak di rumah bu Rhea itu, eyang mendapatkan kabar bahagia. Bahwasanya, Ramdhan bersedia untuk dijodohkan sama Ayu. Dan eyang dengan sangat semangat menyampaikan kabar tersebut kepada Ayu, tepat saat dirinya baru pulang kerja.
Ayu yang masih dalam kondisi capek pulang kerja ditambah mendengar cerita dari eyang tentang semua ini, membuat Ayu semakin kesal.
"Apa Yang? Ayu beneran dijodohin sama Ramdhan? Alasannya kenapa coba?" Ayu begitu shock mendengar berita itu.
"Karena Ramdhan bersedia dengan perjodohan ini," jawab eyang jujur.
"Terus kalau dia mau, eyang kira Ayu bakal mau juga, gitu?" Ayu mulai ketus.
"Ya kenapa enggak, sih?" tanya eyang sabar.
"Eyang nggak adil tahu nggak sih? Ayu tuh nggak mau dijodohin sama siapapun." jawab Ayu kesal lalu pergi begitu saja, ke luar dari kamar eyang dan menuju mobilnya lagi.
"Yu, mau kemana kamu?" Bagus terlihat bingung melihat Ayu yang pergi begitu saja tanpa pamit.
Sementara di dalam rumah, Bik Sumi sudah heboh, karena eyang terlihat kesakitan sambil memegang dada kirinya.
Eyang terluka, Ayu pun juga terluka.
Sambil terus menyetir kemudi mobilnya dan tak tahu harus kemana ia pergi, tiba-tiba dia menangis sendirian.
"Eyang jahat banget sih, kenapa eyang terima gitu aja? Kenapa eyang nggak mikirin gimana perasaan aku? Kenapa eyang nggak pernah ngertiin aku, selalu aku yang ngikutin kemauan eyang. Aku capek." Ayu meratap seorang diri.
Tanpa pikir panjang, ia belokkan mobilnya kembali ke kantor. Ia tidak peduli dengan tatapan aneh dari beberapa temannya yang masih berada di kantor, mereka tidak banyak bertanya dengan kondisi Ayu yang terlihat kacau. Mungkin mereka tidak ingin mendapat masalah karena mencampuri urusan Ayu. Sekeras apapun ia coba tutupi bekas air matanya, namun Via tetap menyadarinya.
"Yu, lu kenapa?" tanya Via heran. Yang ditanyai hanya menggeleng lemah.
"Bukannya tadi udah pamit mau pulang? Kok balik kantor lagi?" lanjutnya. Ia dekati Ayu yang terlihat begitu kacau.
"Gue abis berantem sama eyang," ucap Ayu lirih.
"Serius lu? Kenapa?" tanya Via begitu hati-hati, ia seolah tak percaya dengan apa yang Ayu ucapkan.
"Gue beneran dijodohin, Vi. Gue enggak mau, enggak bisa gue." desah Ayu, lalu kembali terisak.
"Mau sampai kapan sih lu kayak gini, Yu? Mau sampai kapan lu terus menghindar ama cowok? Enggak semua cowok sama kayak Danang, kan?" Dengan berat hati Via mengatakan semua itu, luka yang sudah bertahun-tahun Ayu sembunyikan dari dari eyang.
"Kenapa lu bahas dia, sih?" Ayu terdengar tidak suka ketika Via mengucapkan nama itu.
"Kita tahu Yu, lu kayak gini karena cowok brengsek itu. Dan elu salah kalau lu nganggap semua yang cowok kayak dia." Akhirnya Via mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan sejak lama.
"Cukup Vi! Lu enggak usah sok tahu tentang gue. Lu enggak pernah tahu kan gimana rasanya dikhianati ama sahabat dan pacar lu sekaligus?"
"Gue udah kehilangan banyak orang yang gue sayangi, mulai dari ibu gue, orang yang gue pikir sahabat karib dan ternyata malah selingkuh sama pacar gue. Betapa gue berusaha banget buat bangkit jadi Ayu seperti yang kalian lihat sekarang. Gue enggak siap untuk kehilangan lagi, Vi." ungkap Ayu menguras emosi. Tangisnya pecah lagi, ia terisak mengingat betapa sakit hatinya kala itu. Ia sempat sangat rapuh ketika dua orang yang dia anggap setia ternyata malah menusuknya dari belakang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Stay with me, Dear
ChickLitPerjodohan yang awalnya hanya menimbulkan banyak konflik dan perang batin antara mereka. Namun seiring berjalannya waktu ternyata mereka sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain. "We need to talk." ucap Ayu sendu. "Kita akan menikah secepatnya."...