13. No Signal

7 3 0
                                    

❌❌❌

Begitu sampai di kota, Ramdhan merasa ponselnya tak berhenti bergetar, artinya ia sudah kembali ke peradaban setelah sekian lama ia berada di daerah terpencil. Perjalanannya kali ini bersama tim memang sangat melelahkan, selain jarak yang begitu jauh dari pusat kota, medan yang dilalui juga terbilang sulit dijangkau, belum lagi tidak ada sinyal yang stabil disana. Untung hanya semalam, ia tak bisa bayangkan bagaimana jika ia harus tinggal lebih lama lagi di tempat itu. Hari gini enggak ada sinyal? Bahkan wifi portable yang biasa ia gunakan pun tidak berfungsi, akibatnya komunikasinya dengan dunia luar selama hampir dua hari ini sedikit terhambat. Sehari kemarin yang paling parah, ia tidak bisa mengirim gambar dan beberapa file kepada para kolega dan investor, sedih.

Ia mengecek ponselnya yang masih belum berhenti bergetar itu, ada ratusan chat masuk di aplikasi whatsapp-nya, email masuk, panggilan tak terjawab dari Ayah, Ibu, juga beberapa nomor asing, dan pesan-pesan lainnya yang ia lewati dulu. Hingga matanya berhenti pada satu pesan yang masuk di inbox pesannya, bukan di aplikasi berwarna hijau itu.

[From : Ayu Asuransi

Oke, gue terima perjodohan ini. And we’ll get married as soon as possible.] 19 Maret 2015 09:57 am.

Ia baca semua detail pesan itu. Berharap ia salah baca atau entahlah. Pesan itu sudah masuk sejak tadi pagi, belum sempat Ramdhan berpikir lebih jauh lagi, ada panggilan masuk dari ibunya.

Assalamualaikum, Bu.

Ya Allah Bang, kamu itu kemana aja sih? Ibu tuh telepon dari kemarin enggak bisa terus, enggak aktif terus jawabannya. Kamu baik-baik aja, kan?

Ramdhan lagi tugas di Lembang, Bu, susah sinyal. Ini baru aja nyampe di kota udah perjalanan ke Bandung lagi, baru ada sinyal,

Tapi kamu baik-baik aja kan? Ibu khawatir.

Alhamdulillah Ramdhan baik-baik aja.

Kamu udah baca pesan ibu?

Yang mana?

Ya Allah Bang, dilihat dong.

Bu, baru dapat sinyal ini lho, pesannya juga baru masuk, belum sempat baca ibu udah telepon,

Dia tahu, ayah dan ibunya memang mengirim pesan untuknya, namun pesan dari Ayu jauh lebih menarik perhatiannya.

Kamu bisa pulang sekarang enggak, Bang? Eyang Ratih masuk rumah sakit, kemarin sempat ngedrop.

Ramdhan terkesiap, alih-alih fokus pada penjelasan ibunya, pikirannya malah mengembara pada sebaris pesan dari Ayu tadi. 

Oke Bu, Ramdhan pulang sekarang.” Ia putuskan untuk segera ke bandara, berharap masih ada penerbangan malam tanpa transit menuju ke Surabaya.

Memesan tiket pesawat dengan aplikasi online memang lebih mudah tapi kondisi saat ini tidak begitu baik, sinyalnya belum begitu stabil untuk transaksi memesan tiket. 

“Damn! Please be kind.” umpat Ramdhan, ia geram dengan sinyal yang tak bersahabat dengannya.

Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya ia berhasil mendapatkan tiket. Sesampainya di bandara yang memakan waktu sekitar dua jam, ia segera check in di counter maskapai penerbangan bergambar burung garuda itu. Menunggu sekitar satu jam ia gunakan untuk ke toilet dan sholat Magrib dan Isya’ yang ia jamak sekaligus.

Pukul 20.17 pesawat itu mulai mengudara, membawanya ke bandara Surabaya. Di dalam pesawat pikirannya sudah mengembara, memikirkan banyak hal, memikirkan isi pesan dari Ayu, terlintas di benaknya wajah perempuan itu. Perempuan yang ia anggap bukan tipe idealnya, namun ia terampil memasak makanan favoritnya, juga teringat kata-katanya yang terasa pedas, juga tentang sikapnya yang ingin meracuninya dengan teh rasa rempah. Ah, lelaki itu berusaha mengenyahkan segala pikiran tentang Ayu, namun tak pernah berhasil. Wajah natural tanpa riasan itu membayang di kepalanya. 

“Shit.” Ramdhan melenguh lemah demi mengingat sosok itu. Rachel Ayu, ia terlihat mengganti nama di kontak ponselnya dengan nama itu.

📲📲📲


Stay with me, DearTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang