Bersama

569 75 0
                                        

Hari ini.

Hari sabtu yang cukup mendung.

Sepertinya langit akan segera menangis.

Jisoo tengah terduduk di kursi taman depan rumahnya. Menikmati angin segar dari cuaca mendung.

Gadis itu memetik sebuah bunga lavender. Menatapnya takjub.

Ini hari libur dan semua hari sama bagi Jisoo.

Lalu ada seseorang tengah menatapnya dari kejauhan.

"Jin!!" Seru Jisoo dengan riang.

Biarkan segalanya tumbuh dengan bebas seperti bunga yang bermekaran. Tak ada yang melarang karena hidup merupakan sebuah pilihan.

Namun terkadang, pilihan itu tabu.

"Jisoo, halo!" Jin tersenyum. Pakaiannya pun terlihat lebih santai. Kaus hitam dengan celana jeans membuat tubuh tingginya makin terlihat.

"Kau tak bekerja,Jin?" Tanya Jisoo.

"Aku ambil cuti hari ini. Ingin bermain denganmu. Yah,, sekedar menepati janjiku kemarin."

"Ya sudah. Ayo. Eomma tak mengizinkanku pergi jauh. Jadi,, kita diam di taman rumahku saja." Jisoo menuntun tangan Jin dan mereka duduk berdua di kursi putih itu.

"Jisoo, aku membawa ini untukmu." Ah, Jisoo baru sadar jika Jin membawa beberapa bungkus makanan.

"Eh. Terima kasih. Aku akan mengambil piring." Baru saja Jisoo beranjak, Jin menahan tangannya.

Alhasil Jisoo kembali duduk dan tatapan mereka bertemu sekarang.

Baiklah,, apa boleh Jisoo berteriak sekarang?

Beberapa detik mereka tak berkutik.

Jantung Jisoo terasa berdetak lebih cepat. Jika begini, penyakitnya bisa kambuh lagi.

Dan Jin. Dia pun sama. Ada apa ini? Dan kenapa tatapan mereka sulit untuk beralih.

Namun segera Jin tersadar. Dia langsung tersenyum dan membuka suara. Meski sejujurnya, pemuda itu sangat gugup sekarang.

"Kebiasaanmu sama, Jisoo. Snack saja, kau taruh di atas piring. Aku juga membawa susu."

"A..eh..mm.. hehehe,, iya, Jin."

"Eh, kau punya sepeda?" Tanya Jin sambil melihat ke arah sepeda merah yang terparkir di depan gudang disana.

"Itu sepeda bekas Appaku. Kau mau pinjam? Silakan." Jisoo tersenyum.

"Kau ikut. Aku ingin berjalan jalan sambil berbincang denganmu." Tanya Jin dengan intonasi yang cukup serius.

"Aku akan izin pada eommaku dulu. Aku tak ingin dia mencariku." Jisoo berjalan masuk.

"Betul itu. Jangan sampai kejadian masa kecil terulang lagi hahaha.."

"Heh! Tak usah mengingat lagi!" Sebal Jisoo.

Jin justru makin tertawa, "Utututu... hahaha"

Tak lama, Jisoo keluar dan ternyata dia diizinkan.

Jin mengendarai sepeda itu dengan perlahan. Hanya tak mau jika Jisoo masuk angin.

"Fyuh.. kau berat sekali, Jisoo." Keluh Jin sambil menepikan sepedanya.

"Maksudmu aku gendut??" Jisoo melotot. Dan ini cukup membuat Jin meringis takut.

"Ehehehe,, tidak. Aku tak bilang kau gendut."

Tak lama, rintik hujan mulai turun.

"Aku harus pulang, Jin. Nanti eomma akan mengkhawatirkanku." Jin mengangguk lalu mengayuh sepedanya dengan kencang. Hal ini membuat Jisoo reflek memeluk Jin dari belakang.

Dan astaga. Bolehkah jika Jin tersenyum sekarang?

"Apa aku menyukai Jisoo? Hanya saja, baru dua hari aku kembali bertemu dengannya, itu sudah membuat hatiku selalu terasa hangat."
.
.
.
"Melayang bagai kupu kupu. Tersentuh, dan menghilang."

Longing and Leaving||Jinsoo|| [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang