Longing and Leaving

615 71 0
                                        

"KURANG AJAR!!"

Jisoo dan Jin segera melepaskan tautan mereka. Suasana begitu canggung. Bahkan Jin masih memegang pipi Jisoo.

"Eomma?" Jisoo mulai tegang. Baru kali ini dia melihat sang eomma begitu marah.

Lalu wanita paru baya itu menghampiri Jin dan memukulnya dengan penuh emosi.

"Berani sekali kau melecehkan putriku!" Jin masih menunduk sambil memegang pipinya.

"Eomma.. dia tidak.."

"Diam, Jisoo! Tak akan kubiarkan pria sepertinya merusak dirimu!"

"Aku tidak melakukan apa apa, nyonya. Aku minta maaf. Aku tak berniat untuk melakukan itu bersama putri anda." Jin masih menunduk.

"Eomma,, aku pun tak apa. Aku mencintainya, eomma. Aku mencintai Jin." Jisoo tersenyum dengan air mata yang masih mengalir.

"Apa kau Kim Seokjin?!" Tanya sekaligus bentakan yang dilontarkan nyonya Kim.

Jin hanya mengangguk.

"Bagus! Dulu, kau pergi meninggalkan putriku. Jika saja kau tak pergi dengan tiba tiba, pasti Jisoo tak akan bersusah payah berlari mengejar mobilmu! Putriku kelelahan saat itu, namun dia memaksakan kakinya untuk terus berlari, hingga jantungnya melemah. Kau tahu siapa penyebab kesakitan Jisoo selama ini?! Dirimu! Kau penyebabnya! Dulu, hampir setiap malam Jisoo mengigau dan menyebut nyebut namamu. Dan aku tak akan membiarkan kau menyakitinya untuk kedua kali!"

Air mata tak dapat terbendung lagi dari pelupuk mata Jin.

"M..maafkan aku hiks.. itu semua bukan keinginanku." Jin lalu menoleh dan menatap Jisoo yang masih menangis.

"Eomma Kim benar. Aku tak akan menyakitimu untuk kedua kali, Jisoo. Aku harus pergi." Lalu Jin beranjak dan berlari menjauh.

"Jin!!" Jisoo juga turut beranjak. Namun sang eomma menahannya.

"Jangan, Jisoo. Tetap disini!"

"Tidak,eomma! Aku harus mengejar Jin." Dan Jisoo melepaskan pelukan eommanya lalu berlari.

"Jisoo!!" Nyonya Kim juga mengejarnya.

Jisoo terus memacu kakinya, meski rasanya begitu lemas.

"Jin!! Tolong jangan pergi!" Jisoo masih dapat melihat tubuh Jin, meskipun samar.

"Jin,, tunggu aku. Aku mohon." Anak itu terus berlari dengan kaki mungilnya.

"Jinnie!! Tunggu aku. Aku mohon, jangan pergi lagi..." Jisoo masih menangis. Dia tak memerdulikan tatapan banyak orang.

"Jin, jangan pergi hiks..." anak perempuan itu masih setia mengejar mobil yang ditumpangi oleh anak lelaki itu. Dia tahu, mungkin kecepatannya akan kalah.

"Hahh!!! Akh,, sakit... Jin!! Eomma!!" Jisoo memegang dadanya yang berdenyut nyeri. Dia tak perduli. Dia terus berlari meski kakinya begitu lelah dan dadanya begitu sakit.

"Jin,, akh!! Eomma,, sakit..." kasihan anak itu. Berlari sambil memegangi dada kirinya.

"Jin!!!" Pemuda itu menoleh saat ada sebuah teriakan yang menyebut namanya. "Jisoo!" Jin berlari ke arah gadis itu.

Namun Jisoo hanya tersenyum, pertahanannya runtuh.
"J..Jin..." ucapnya dengan lirih.
.
.
.

Di ruangan berdinding putih.

"Alat pacu jantung,cepat!"

Jin ada disana. Dia menjadi salah satu yang membantu dokter itu.

"Dokter, detak jantungnya semakin melemah." Kata salah satu perawat.

Okey,, mereka tak boleh panik. Tapi apa boleh Jin panik sekarang?

"Terus coba pacu jantungnya! Tak boleh menyerah." Kali ini Jin yang bersuara.

Terlihat samar jika Jisoo meneteskan air matanya.

Tiiiitttt.....
Sebuah suara begitu nyaring. Menandakan sudah tak ada kehidupan pada diri pasien.

"Jisoo!!" Jin jatuh terjerambah pada sisi ranjang hijau itu. Menjadi saksi bisu atas kematian orang yang dicintainya.

Usai sudah segala harapan, tenggelam, dan terbenam bersama purnama rindu.

Longing and Leaving||Jinsoo|| [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang