Mencoba mengingat

639 88 6
                                        

Masih di hari yang sama. Jisoo terpaksa memakan bubur itu. Jika saja ibunya tak marah, maka mungkin Jisoo tak akan pernah makan.

"Eomma, aku kenyang." Jisoo memalingkan wajahnya saat sendok itu mendekat.

"Hey! Baru 5 sendok. Jangan buat eomma kesal. Kau harus cepat sembuh." Dan lagi, Jisoo terpaksa menelan makanan itu.

"Eomma,, sudah kenyang." Jisoo memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangan di depan dada. Hanya sebuah tanda penolakan darinya.

"Hmm.. ya sudah. Lumayan lah, lebih dari sepuluh sendok. Anak eomma yang pintar..." Nyonya Kim hanya tersenyum sambil mengusap rambut anaknya dengan sayang. Usapan,, dengan sejuta luka dibaliknya.

"Jisoo,, eomma pulang dulu sebentar, ne? Nanti eomma akan kesini lagi." Nyonya Kim berkata sambil menyimpan mangkuk makanan di meja nakas Jisoo.

"Ne,eomma. Hati hati." Jisoo tersenyum. Nyonya Kim lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar.

Setelah sang eomma pergi, Jisoo menatap kosong dinding putih di sekelilingnya. Entah kenapa, rasanya begitu damai.

Gadis itu menghela nafas kasar. Siapa tahu beban fikiranku berkurang, fikirnya.

Lalu entah disebabkan apa, tanpa angin maupun tsunami, gadis itu tersenyum begitu manis.

Hanya mengingat. Ya. Mencoba mengingat kebodohannya dahulu.
.
.
.
Terkadang, realita dengan fantasy tak jauh beda. Bahkan hampir tak ada bedanya. Namun jauh,, kau harus tahu jika itu semua berbeda.

Longing and Leaving||Jinsoo|| [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang