chapter five ㅡ A day with him

1.8K 203 21
                                        

Pagi itu gue terbangun akibat suara berisik yang gue yakini berasal dari kamar sebelah, kamarnya Haechan. Entah setan apa yang merasuki dia pagi ini karena tumben-tumbenan main piano. Biasanya berisiknya dari suara sendiri, entah itu teriak dengan alasan melatih pita suara atau hanya ingin berteriak aja. Pilihan lain yang bakal membuat keributan kayak gini tentunya Bang Chanyeol, tapi Abang tuh nggak bisa bangun pagi, beneran sesusah itu. Dia biasanya bangun kalo matahari udah diatas kepala, alias lewat tengah hari karena beliau tidurnya jam 3 pagi. Kalong emang kakak gue itu.

"Haechan berisiikkkk." Teriak gue membuat permainan pianonya terhenti lalu sebuah suara pintu tertutup terdengar. Jangan bilang dia mau ke kamar gue?

Tapi nihil. Setelah itu gak ada suara sama sekali. Aneh. Biasanya Haechan bakal dengan sengaja mengganggu ketenangan minggu pagi gue. Karena gue emang gak niat tau dia mau ngapain, alih-alih tidur lagi, gue meraih ponsel dari meja samping kasur.

Beberapa pesan dari grup kelas dan angkatan yang sama sekali gue gak ada niatan untuk baca. Jujur aja, gue mengharapkan ada pesan dari Taeyong, tapi apaan sih, siapa gue minta dikabarin tiap saat? Haha mari tertawakan diri gue.

Yang lainnya dari temen-temen gue termasuk dari Seongwu. Tuh anak ngelapor kalo dia malmingannya ngenes di kamar kosan sendirian. Ya hello memangnya gue peduli?

Karena semalem gue tidurnya kecepetan jadi sekarang gue sudah lapar dan akhirnya turun dari kasur buat keluar kamar. Serta nggak tau jam berapa acaranya selesai semalam. Yang jelas, gue rasanya tante-tante gue nggak mengganggu pulasnya tidurnya gue. Karena biasanya mereka kalo pamitan tuh riweh banget.
Gue nengok ke kamar sebelah, pintunya ditutup. Gue panggil sekali gak ada sahutan. Kemana ini bocah sepagi ini? Tumbenan.

Gue akhirnya turun tangga dengan keadaan super berantakan. Kaos hitam kebesaran dan celana tidur warna pink yang belel. Jangan tanyakan keadaan rambut gue karena gue yakin pasti sekarang udah kayak rambut singa.

"Hallo manis." Itu suara Haechan dari arah ruang makan, gue tau bahkan tanpa menoleh. Tetapi begitu gue menoleh, gue refleks terduduk di anak tangga terakhir dan mencoba bersembunyi di antara besi pegangan tangga. Mustahil memang tapi karena gue lagi gak berpikiran jernih, jadi gue harap gue bisa bersembunyi disana.

"Anak gadis udah bangun?" itu suara Ayah. tapi gue sama sekali nggak berani menoleh. Gue pengen kabur sejauh-jauhnya. Tapi lebih dari itu, pertanyaan terbesar gue adalah;

BAGAIMANA BISA KIM DOYOUNG ADA DI MEJA MAKAN ITU? DUDUK BERSEBELAHAN BARENG AYAH DAN HAECHAN?

Apakah ini hanya kehaluan akibat semalem gue kepikiran dia terus?

Nggak sumpah, ini bukan mimpi apalagi halu. Ini nyata karena gue bisa merasakan sakit akibat cubitan di pipi gue.

"Aduh!" Haechan udah ada di depan gue, baru selesai mencubit pipi gue.

"Mandi sana, dandan yang cantik." tanpa sadar, dia sudah meraih tangan gue lalu mendorong badan gue untuk naik ke tangga lagi lalu menutup pintu kamar dari luar. Seakan baru tersadar, gue buru-buru berlari ke depan cermin dan meratapi penampilan gembel gue.

"Kak?" suara Mami terdengar lalu pintu terbuka. Mami melongokkan kepala.

"Cepetan. disuruh siap-siap."

"SAMA SIAPA?" gue memburu mami, menariknya untuk masuk ke kamar. "ADA APA INI MI? KENAPA DIA BISA DISINI?"

"Doyoung?" Mami bahkan tau namanya? "Ya naik mobillah. Nggak pake unta." Maaf mi, tapi ini nggak lucu. "Udah ah, jangan planga plongo gitu. Cepetan mandi terus dandan yang cantik."

"Mau kemanaaaa????" gue merengek. sumpah masih bingung sama yang terjadi.

"Ya jalan bareng Doyoung-lah. Emang mau kemana lagi?"

Walk You HomeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang