Pulang ke rumah adalah salah satu cara buat gue ngelupain sejenak semua masalah yang berkaitan dengan kampus dan lain sebagainya. Karena di rumah, gue punya tukang lawak double yang merangkap sebagai saudara kandung, eh apa kebalik ya? Pokoknya itu lah. Gue bersaudara bertiga, ada abang, gue dan adek. Selain itu juga ada Mami sama Ayah yang nggak kalah serunya kalo udah jahil-jahilan.
Jarak rumah ke kampus gue memang sejauh itu sehingga gue memutuskan buat ngekost, dan biasanya pulang di akhir pekan. Kadang pulang sendiri, kadang minta anter Bona sama Yooa, kadang minta jemput ayah atau nggak abang. Tapi abang paling susah kalo disuruh jemput. Alasannya nggak mau ke area kampus gue soalnya nanti dia keinget mantannya yang dulunya kuliah sekampus sama gue. Huh, abang macam apa sih itu?
Jadi kali ini pun, gue pulang ke rumah sendiri, pake kereta. Gue rada-rada takut pake kereta tapi ya mau gimana lagi dan nggak mungkin juga gue make taksi yang ada duit jajan gue seminggu habis buat ongkos dong?
Gue naik kereta nggak sampai setengah jam udah nyampe dan bisa aja gue minta ayah atau abang jemput ke stasiun tapi karena gue mau kasih kejutan, ciela, gue dari stasiun ke rumah pake taksi hehehe kalo ini memang nggak sejauh itu.
Ketika gue buka gerbang, rumah keliatan sepi padahal nanti malem ada acara keluarga. Biasanya tuh keluarga besar gue kayak tante-tante gitu pada udah dateng jam segini, buat bantuin mami nyiapin hidangan.
"Mamiiiii." panggil gue karena tau kalo jumat siang begini Ayah pasti masih di klinik.
"Abaaaang! Adeeeek! Kakak pulang nih!" teriak gue lagi. Sambil ngeletakin tas diatas meja ruang tamu. Nggak lama Mami keluar dari kamar.
"Mami denger ih gak usah teriak-teriak gitu." Gue salim dan cipika-cipiki sama Mami.
"Kok nggak kaget kakak dateng sih, Mi?"
"Udah tau kok kakak bakal pulang."
"Tapi kan kakak surprise, gak dijemput lho???"
"Terus mami harus bilang 'WOW' gitu?"
Mami kok ngeselin sih ekspresinya? Abis itu mami ketawa sendiri.
"Abang sama Adek kemana nih? Tumbenan sepi banget?"
"Loh emang tadi kakak gak ketemu di pos satpam depan?"
"Pos satpam mana? Depan komplek? Nggak ada tuh cuman ad--- WAIT JANGAN BILANG MEREKA LAGI NGUMPUL SAMA BOCAH-BOCAH KOMPLEK?"
Mami mengangguk kalem sambil jalan ke dapur. Gue mengekori di belakangnya dengan pandangan gak percaya. "Ngapain sih, Mi?"
"Abang baru beli racer tamiya apalah itu, katanya mau ngajak duel anak-anak lain."
"Oh My God." Gue menepuk dahi sendiri.
"Mi, coba deh di periksa!"
"Periksa apa?" Mami menyerahkan segelas es jeruk yang baru diambil dari dalam kulkas kearah gue.
"Abang itu lho, mentalnya. Dia beneran umur 25 kan???"
"Hush. Nggak boleh ngomong sembarangan gitu." Gue tersedak karena Mami mendorong pundak gue ketika lagi minum.
"Mami! Kalo kakak meninggal karena kesedak gimana?"
Mami cuma balas nyengir. Lalu mengelap tumpahan minuman dibaju gue. "Udah dibilang jangan ngomong sembarangan." tegur Mami lagi.
"Waaah kakakku paling cantik sudah dataaangg."
"Mami mau jeruknya juga dongg."
Gue sama Mami sama-sama menoleh pada dua pemuda yang baru datang, menenteng sebuah kotak ditangan mereka masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Walk You Home
Fanfiction"You might don't know me, but I am Kim Doyoung and i have crush on you. So, would you be my girlfriend?"
