Antara menyesal dan nggak, karena begitu gue bilang kalo abang nggak perlu nganterin balik ke kost soalnya mau dijemput Doyoung, orang rumah langsung rame dong. Heboh banget gila kayak mau kedatangan anaknya presiden. Mami langsung ngajakin ayah belanja, asisten rumah tangga disuruh bersih-bersih seluruh rumah dan halaman. Sedikit bersyukur karena mami nggak sampe mengundang tetangga.
Heran banget, tumbenan begini. Padahal dulu pas masih pacaran sama Seongwoo, keluarga gue nggak gini-gini amat. Sespesial itukah dirimu, Kim Doyoung?
Mami beneran masak sebanyak itu hari ini. Kita bahkan nggak makan siang, nunggu Doyoung katanya yang bahkan berangkat dari kampus sekitar pukul 1 siang dan perjalanan kampus-rumah gue tuh bisa sampe 2 jam-an.
"Kenapa sih, Mami serepot ini?" tanya gue beberapa saat lalu pas masih masak.
"Ya nggak apa-apa, kan ada tamu."
"Tamunya kan Doyoung aja. Bukan anak presiden pula."
"Tamu tuh raja, anakku sayang."
Balasannya gitu doang, udah. Nanya ke ayah juga jawabannya sama aja.
Sekitar pukul 3an, Doyoung akhirnya datang. Ayah, Mami, Bang Chanyeol sama Haechan heboh dong menyambut ke depan pintu. Gue bahkan belum sempat menyapa, dia udah diajak jalan ke ruang makan aja.
"Doyoung," panggil ayah ketika kita baru kelar makan, tapi masih duduk di meja itu. Kata Mami, dilanjutkan dengan dessert. Udah kayak jamuan di restoran mahal aja, kan? "Om mau tanya-tanya sedikit."
"Gimana, Om?"
"Om tau pasti kamu udah yakin sama Lea, tapi om mau memastikan. Kamu yakin kan sama pilihanmu?"
IH AYAH APAAN SIH? EMANGNYA GUE INI MAU MENIKAH, APA?
"AYAH!" gue merajuk dengan wajah cemberut.
"Yakin, om!" jawab Doyoung mantap.
"Maksud Ayah, tuh. Yakin gak salah pilih cewek?" Bang Chanyeol nimbrung sambil mengunyah semangka.
"I have this feeling from the start, that she is the one."
Kontan aja, kalimat itu menyebabkan seruan dari seluruh penjuru meja makan. Hingga Haechan mukul-mukul piring pake sendok yang langsung ditegur Mami.
"Coba Mami masih muda, udahlah nih, cowok modelan Doyoung Mami embat. Walaupun tahu dia suka sama Kakak."
Kalimat Mami mendapat deheman dari Ayah. "Jangan salah, Ayah kan nggak beda jauh sama Doyoung."
"Halah, apaan. Ayah dulu tuh harus mandi kembang tujuh hari tujuh malam dulu baru berani ketemu Eyang kakung kalian."
Duh, ya Tuhan, aku pusiiiiingggg.
"Stop, ih!" Gue memukul meja dengan sendok di tangan tapi petaka banget, itu sendok malah terbang ke arah pojok ruangan dan berakhir tragis tergeletak dengan nggak hormat di atas lantai. Hhh. Untung nggak ada yang kena, meski tadi semua orang di ruangan ini sempat menahan napas.
Ah, aku malu.
Padahal, kan niatnya mau sok tegas gitu.
"Gini nih, bang. Walaupun kakak tuh suka malu-maluin?" Ini Haechan ikut-ikutan dan memulai pembahasan tentang gue lagi.
"Iya, udah sering liat kok." jawabnya lalu diikuti tawa Haechan dan Ayah.
Sering liat apa maksudnya????
"Kakak tuh mageran banget, bang. Dia bisa aja seharian di kasur, nggak mandi nggak makan nggak boker. Males banget pokoknya!"
"HAECHAN!" abis itu gue ditegur Mami karena teriak di depan makanan. Hhhh. Sementara Doyoung cuma ketawa sambil melirik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Walk You Home
Fanfiction"You might don't know me, but I am Kim Doyoung and i have crush on you. So, would you be my girlfriend?"
