chapter seven ㅡ support system

1.4K 182 12
                                        

Setelah Doyoung berpamitan pada Ayah dan Mami lalu melajukan mobilnya meninggalkan halaman, rumah gue jadi rusuh.

"CIEEEEEEE!"

Entah datangnya dari mana, Abang Chanyeol sama Haechan tiba-tiba muncul dari semak-semak depan teras sambil tepuk tangan heboh. Nggak mau kalah, Ayah sama Mami juga ikutan rame. Bahkan Mami sampai memeluk gue. Seolah gue memenangkan piala oscar aja dan membuat bangga seluruh tanah air.

"Keputusan yang tepat!"

"Akhirnyaaaaaa kakakku punya pacar!"

"Jangan lupa PJnya, dek!"

"Mereka ngapain sih di semak-semak itu?!"

"Tadi abang pikir bakal diantar cuma sampe depan gerbang, eh taunya Doyoung gentle banget, dong."

"Ayah kan udah bilang. Doyoung tuh seberani itu."

"Ayah udah kenal?"

"Tadi pagi lho, dia minta izin dulu sama Ayah. Katanya mau ngajak kakak jalan, katanya nggak tau kalo beruntung semoga pulangnya udah berubah status?"

"HAH? DOYOUNG NGOMONG GITU?"

"Iya, masa ayah bohong, sih?"

"Sini dulu, banyak yang kakak mau tanyain sama Ayah!" Gue menyeret lengan ayah, mengajaknya untuk duduk di sofa. Btw, padahal yang lain nggak diajak, tapi pada ngikut semua dan mengerumuni gue dan Ayah.

"Ayah kenal Doyoung sejak kapan?"

"Tadi pagi?"

"Serius ih, Ayaaaah."

"Lho, Ayah serius ini. Tadi pagi dia datang langsung memperkenalkan diri. Terus Ayah tanya-tanya sedikit, ternyata dia putranya adik ipar kenalan Ayah."

"Sebenernya dia datang jam berapa, sih? Kok kayaknya ceritanya panjang banget?"

"Jam 8 pagi dan kakak bangunnya jam 10. Padahal bang Doy sempat main piano di kamar aku. Dasar kebo!" Ni Haechan minta ditabok banget? Eh tunggu... DOYOUNG MAIN PIANO? JADI YANG TADI GUE BENTAK ITU TERNYATA...
oh my god! mampus malu abis.

"Kamu kok nggak bilang dia yang main piano?"

"Ya gimana kakak udah ngamuk duluan. Jadi kita kabur, deh." Haechan ngomong gitu santai banget lalu beranjak dari sofa ke ruang tengah.

Dan astaga.... gue baru menyadari keanehan ruang tengah itu. Beberapa meja dan sofa ditepikan lalu di tengahnya puluhan keping domino sudah berjajar rapi, siap ditumbangkan. Hm, nggak heran. Abang Chanyeol sudah berjongkok lagi di depan sana untuk mengatur domino itu lagi.

"Terus gimana? Si Doyoung berhasil, kan?" tanya Bang Chanyeol tanpa menengok, masih sibuk dengan dominonya yang kini Haechan juga ikutan bergabung.

"Pas ngobrol, Ayah langsung tau kalo dia itu cowok yang pernah kakak ceritain." Gue auto menoleh ke Ayah. Lalu mengingat sebentar karena gue emang pernah cerita tentang Doyoung ke Mami tapi, bukan ke Ayah. Kemudian gue melirik Mami dengan pandangan meminta penjelasan.

"Iya, Mami yang cerita ke Ayah. Nggak apa-apa, kan?"

"Udah terlanjur, Mi." Sahut gue sewot.

"Ih, gadis Ayah ini udah besar ya, ternyata." Kata Ayah sembari mencubit pipi gue.

Iya, Ayah emang seneng banget nge-baby-in anak-anaknya. Mau berapapun usia kita, bagi Ayah, kalo belum nikah, itu artinya kita masih anak kecilnya Ayah. Jangan heran kalo abang sama adek gue kelakuannya bocah banget gitu. Kayaknya cuma gue yang normal. Hahaha, maapkan.

Walk You HomeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang