XII

1.6K 255 72
                                    

Sudah tiga hari, aku hanya berbaring diatas kasurku dengan infus terpasang dilengan kiriku dan tak berbicara satu kata pun dengan siapapun. Aku bahkan tidak mempedulikan ibukku yang selalu memohon agar aku makan dan berbicara padanya.

Sejak aku berteriak histeris karena mengetahui aku sedang hamil, aku memohon pada dokter Pang agar mengugurkan kandunganku, tapi aku menjadi terdiam saat ibukku sendiri menamparkku karena aku bersikeras untuk mengugurkan anak ini. Tak bisakah ibukku memahamiku?

Tak adakah orang yang mau mengerti keadaanku?

Aku ini seorang pria. Pria ditakdirkan untuk menghamili wanita.

Lalu diriku?

Aku hamil dan parahnya aku hamil karena diperkosa oleh mahluk yang bernama Werewolf.

Bisakah kau bayangkan betapa mengerikannya jika menjadi diriku?

Aku membenci mereka semua, terutama Tae yang membuatku menjadi pria menyedihkan dan menjijikan seperti ini. Tae membuatku membenci diriku sendiri lebih dari apapun.

"Tee, Aku membawakan mu bubur. Makan dulu na.." aku memutarkan kedua bola mataku dengan jengah. Kepalaku menjadi sakit saat mendengar suaranya.

"Tee..." aku menaikkan salah satu alis ku saat ia duduk dipinggiran kasur dengan membawa semangkuk bubur ditangannya.

"Makan dulu na.. Please.." Tae menatapku dengan khawatir. Tae terlihat sangat berantakan. Kedua matanya sembab dan memerah, bahkan kantung hitam matanya tergurat sangat jelas.


Tapi aku tidak peduli. Aku tidak menyuruhnya untuk menangisi ku dan tidak tidur berhari-hari. Bahkan aku juga tidak memintanya untuk menemaniku setiap hari. Aku lebih bahagia jika ia menghilang dari hidupku.


"Tee, aku mohon makan sedikit saja. Tae akan melakukan apapun yang Tee minta jika Tee mau makan na.."

"Jika aku ingin kau menghilang dari hadapanku selamanya, apa kau akan melakukannya?" Balasku dengan menatap benci kearahnya. Tae hanya tersenyum miris seraya mengelus telapak tanganku.

"Khap. Tae akan melakukannya.." Aku sedikit tersentak saat ia menjawabku dengan sangat yakin dan tanpa keraguan sama sekali. Tapi aku tidak ingin berhenti sampai disini, jika ia bilang akan menghilang selamanya, maka kita lihat saja apakah ia akan melakukannya atau tidak.

"Baiklah. Aku akan makan dan aku harap kau akan menghilang dari hadapanku selamanya setelah ini.." jawabku seraya merebut paksa mangkuk dari tangannya.

"Sebelum Tae menghilang dari hadapan Tee, maukah Tee mendengar pesan terakhir Tae?" Aku hanya diam dan menyendokkan bubur kedalam mulutku.

"Tidak apa jika Tee tidak mau mendengarnya, tapi maaf, Tae akan tetap mengatakannya khap..."

Aku menguyahkan bubur ini dengan pelan saat merasakan telapak tangan Tae yang besar mengelus kepalaku.

"Maafkan Tae yang membuat hidup Tee menjadi seperti ini. Andai dari awal Tae lebih cepat menyadari jika Tee adalah mate Tae, maka Tee tidak akan mengalami hal buruk seperti ini. Maaf. Maaf. Dan Maaf.."

TES

Air mata Tae jatuh diatas kasurku. Aku menelan buburku dengan susah payah saat aku mendengar dengan jelas jika Tae tengah terisak sekarang. Tapi aku terlalu takut untuk menatapnya. Aku takut, aku akan mengasihaninya dan memaafkannya dengan cepat. Padahal perbuatan kejinya sangat tidak termaafkan.


MY WOLF Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang