bagian 6

774 101 45
                                    


Karena sepanjang jalan dari kantor menuju rumah seokjin, ia terus di cuekin sama irene. Seokjin memilih fokus menyetir ajah, sesekali ngelirik irene yang masih asik sama ponselnya sambil senyum senyum sendiri.

Pengennya sih ngobrol. Tapi ada daya sang kekasih masih belum mau di ajak ngobrol.

Huh. Kangen irene yang cerewet. Tiba tiba seokjin mengerucutkan bibirnya.

'yang udah nyampe' irene pun tidak sadar kalo mereka udah sampe rumah seokjin.

Irene lekas mematikan handphone nya dan memasukannya ke tas jinjing miliknya dan sekilas merapihkan lagi rambut hitam panjangnya.

Tapi sebelum irene membuka pintu, seokjin mencegah irene, meraih tangan kecil nya.

'yang, kita lagi di rumah aku, jadi jangan cuekin atau diemin aku ya? Nanti ibu ayah curiga' seokjin sudah masang muka memelas, dia hanya malas berurusan dengan orang tua nya jika ada masalah dengan irene. Biar masalah ini mereka sendiri saja yang hadapi. Itung itung latihan buat nanti kalo udah berumah tangga. Kelak. Kalau jadi itu juga.

'iya, kan ada di rules nya juga' jawab irene dengan santai.

Irene berjalan memasuki rumah milik keluarga kim seokjin itu dengan santai, dan tanpa ragu.
Seokjin hanya mengikuti irene dari belakang.

'kak irenee' seperti biasa, si burung beo keluarga ini selalu menyambut orang orang yang baru saja membuka pintu utama rumahnya, seolah punya pendengaran ultra sonik, yerim dapat menebak dengan benar biasa saja yang datang.

Iya lah, pasti kalau bukan ayah, ibu atau abang nya yang dateng.
Kalau irene yang dateng, pasti ibunya yang sudah cerita.

'hai yerrr' irene tak kalah antusias saat bertemu dengan yerim

'ibu, ayah.. Kak irene udah dateng nih'

Ck. Abang nya lupa di sambut, malah di cuekin. Karena merasa di cuekin, Seokjin langsung masuk ke kamarnya. Ganti baju.

'irene...' ibu dan ayah nya yang mendengar anak gadis nya memanggil langsung menghampiri tamu yang di tunggu sang ibu

'ibu, ayah, apa kabar? Sehat?' Irene dan ibu seokjin terlibat adegan peluk pelukan untuk beberapa detik, ayah seokjin hanya melihat saja sudah bahagia.

'makan dulu yuk' tanpa basa basi sang ibu ngajak tamu nya untuk makan malam bersama, memang mereka datang pas di jam makan malam

'loh, abang mana dek?' tanya ayah nya saat menyadari tidak menemukan keberadaan anak laki laki nya. Irene pun ikut mencari seokjin yang terakhir ia lihat ada di belakangnya, masa hilang dirumah nya sendiri?

'di kamar kayanya'

'abang makannnnn' saat yerim mencoba berteriak di depan pintu kamar seokjin berniat memanggil kakak nya, pintu kamar nya terbuka dan menampakkan seokjin yang sudah berganti pakaian menjadi lebih santai. Seokjin hanya mengganti kemejanya dengan kaos lengan panjang yang agak kebesaran di badannya.

'berisik beoooo' seokjin sedikit menoyor kepala adiknya karena berteriak tepat di depan mukanya.

Untung ibunya gak liat tuh.
.

Mereka makan malam seperti biasanya, biasa ibunya banyak nanya nanya ke irene, seokjin hanya bisa diam kalau tidak di tanya sang ibu. Takut salah ngomong juga.

Yerim yang daritadi memperhatikan abang nya yang banyak diem dari biasanya, merasa aneh. Teringat sama kejadian tempo hari, perjanjian dengan abang nya, saat meminta bantuan untuk mengawasinya saat bermain game takut kebablasan.

BREAK (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang