9. Permulaan

157 12 4
                                    

Hoseok dan Jimin sudah menelusuri koridor gedung asrama, tak menemukan sosok Jong Un. Di ruang cucian pun kosong tak ada tanda-tanda kalau laki-laki itu ada di sekitar gedung asrama. Jimin berjinjit saat melintasi sebuah kamar yang terdapat jendela di depan. Tidak semua kamar memiliki jendela di samping pintu, biasanya hanya kamar yang dekat dengan ujung koridor. Dia menghela napas karena tidak menemukan apapun.

"Kau yakin kalau Jong Un pelakunya?" Hoseok bertanya ketika melalui koridor terakhir. Mereka keluar gedung melalui pintu selatan, berjalan di antara pohon besar menuju gedung sekolah.

"Entahlah," sahut Jimin seraya mendesah lelah. "Aku tak ada pikiran tentang siapa pelakunya. Karena aku tak peduli."

Hoseok mengerutkan dahi, dia menatap Jimin seksama. "Apa yang kau katakan?"

"Aku tak peduli Sae Woon mati di tangan siapa, karena itu bukan urusan ku. Dan lagi pula tidak ada efeknya dalam hidup ku." Jimin menyahut dengan santainya melalui Hoseok yang tertegun mendengar jawaban tak peduli Jimin.

"Lalu kenapa kau ikut mencari dalam misi ini?" Hoseok masih berusaha bertanya.

"Apa? Ini?" tanyanya balik menatap sekilas Hoseok, dia tertawa kecil lalu melanjutkan, "Ya untuk senang-senang saja, walaupun ternyata melelahkan."

"Yaakk..." Hoseok menarik lengan Jimin, menyuruh laki-laki itu berhenti. "Kau juga tak peduli dengan Jung Kook?"

Jimin mendorong bahu Hoseok seraya tertawa. "Yaak, kenapa kau jadi serius sekali?"

Dia meninggalkan Hoseok yang masih tak percaya dengan sikap Jimin. Laki-laki itu hilang di balik pintu memasuki gedung sekolah. Hoseok menghela napas pendek, menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikirannya. Dia tak ingin berburuk sangka dengan siapapun. Sungguh ini bukan sifatnya!

Hoseok berlalu dari posisinya, setengah berlari menyusul Jimin. Namun saat memasuki gedung dia tak menemukan siapapun di sepanjang koridor. Dia berjalan seraya mengedarkan pandangan pada setiap kelas yang temaram. Hanya bercahaya rembulan.

"Jimin-ah! Dimana kau?!" Dia berteriak.

Krik... Krik... Krik...

Hening... hanya suara langkah kakinya yang terdengar dan gesekan daun di luar bercampur suara jangkirk sesekali. Hoseok menelan ludahnya sekali. Jantungnya sudah berdegup sangat kencang, dia takut hantu, bukan takut menghadapi Jong Un.

"Tae!" teriaknya lagi memanggil Tae Hyung.

Hening...

Dia terus berjalan, ditelan kegelapan beberapa detik lalu berada pada penerangan saat melintasi cahaya rembulan, lalu kembali pada kegelapan.

"Nam Joon-ah! Kalian dimana?!"

Wusshh...

Hoseok berputar dengan cepat saat ekor matanya menangkap bayangan hitam di dalam kelas. Keringatnya sudah mengalir, dia dapat merasakannya. Bahkan suara jantungnya sendiri pun dia dapat mendengarnya. Kaki Hoseok mendekat, perlahan-lahan membuka pintu kelas. Berderit, suara engsel yang sudah jelek. Matanya menelusuri sudut kelas, setiap bangku yang kosong.

Tak ada siapa pun.

"Arrghhh!"

Dia merasakan lehernya ditarik oleh sebuah tali ke belakang sangat keras. Reflek Hoseok meraih tali di leher berusaha untuk mengendurkannya. Namun tenaga seseorang entah siapa di belakang tubuhnya sangat lah kuat. Oksigen hampir habis, lehernya bahkan terasa ingin putus.

Tangan Hoseok meraba apapun di sekitarnya, menarik kursi, meja, namun semua hanyalah kesia-siaan. Matanya menatap jendela, polos tanpa tirai. Dia melihat lambaian daun tertiup angin dan... Jimin?

SAVE ME or KILL ME [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang