10. Dia

149 14 0
                                    

Kelopak mata laki-laki itu begerak, membuka mata perlahan. Seluruh indera di tubuhnya bekerja, dia dapat merasakan sakit di sekujur tubuh dan bahkam matanya. Dia merasakan ada ganjalan besar di kelopak mata kanan, membuatnya melihat sekilas dengan samar-samar. Dia menggelengkan kepala mencoba untuk mengembalikan indera penglihatan. Cahaya temaram, isak tangis, ringisan, bayangan seseorang terduduk jauh di depannya dengan... terikat.

Ngiiiingggg... bahkan telinganya masih berdenging. Apa? Kenapa? Apa yang terjadi padanya? Aahh... dia ingat. Kepalanya dihantam oleh sesuatu yang keras. Apa ini? Indera penciumannya menghirup aroma amis begitu kental. Dia menggerakkan lagi kepalanya dengan kesadaran yang belum pulih. Menyandarkan kepalanya ke belakang, walaupun hasilnya sungguh menyakitkan. Dia mengernyit, memejamkan mata kuat-kuat seraya meringis.

"Hyung... Hyung..."

Jung Kook? Dia mendengar suara lirihan itu. Apakah laki-laki itu baik-baik saja? Dia membuka matanya, mencoba untuk mengembalikan penglihatannya dengan normal. Wajah Jung Kook berada jauh di depannya, menampilkan wajah khawatir dan super kusam. Lebab biru, darah yang mulai mengering, tangan terikat, kaki terikat, terikat?

Dia berpikir sejenak, seperkian detik membuatnya reflek menggerakkan tangan dan kaki. Dia juga terikat! Apa ini? Apa yang sedang terjadi?

"Hyung!"

Dia mengangkat kepalanya, menatap Jung Kook. Dia mengedarkan pandangan, Hoseok juga terikat, plus dirinya.

"Nam Joon-ah!" Hoseok berteriak, mencoba untuk menyadarkan laki-laki itu. Matanya menelusuri sekitar dengan was-was. Mereka semua belum tahu siapa pelakunya, yang mengikat mereka di sini.

"K-kkalian baik-baik saja?" tanya Nam Joon terbata-bata, menahan rasa sakit di bibirnya. Dia tidak ingat bagaimana dia terjatuh saat tak sadarkan diri, mungkin wajahnya menghantam lantai. "Siapa pelakunya? Apa benar Jong Un?"

Jung Kook dan Hoseok menggeleng.

"Dimana yang lain? Seok Jin?" tanyanya membabi buta. "Aku mendengar Seok Jin berteriak."

"Aku melihat Jimin ketika seseorang mencekikku, dia..." Ucapan Hoseok tergantung ragu-ragu. "Mungkin dia masih mencari Jong Un di luar gedung."

Jung Kook mendesah. "Aku hanya melihat sosok laki-laki bertopeng."

"Aku juga," sela Hoseok cepat. "Saat dia memukul kepala mu," lanjutnya merujuk pada Nam Joon.

Nam Joon mencoba untuk mencernanya, namun yang lebih penting adalah melepaskan diri.

"Apa kalian ada ide?" tanyanya seraya menggerak-gerakkan tangan yang terikat di belakang kursi. "Untuk melepaskan diri," lanjutnya lagi menjelaskan.

Jung Kook dan Hoseok ikut mencoba untuk melepaskan diri. Nam Joon menggerakkan tubuhnya untuk mendekat ke mereka berdua, dia mendapatkan ide!

"Yaakk, mendekatlah!" seru Nam Joon. "Kalian, saling membuka."

Mereka berdua langsung begerak sesuai perintah. Jung Kook mengangkat kursi maju, sedangkan Hoseok mundur. Nam Joon yang jaraknya lebih jauh berusaha untuk mendekat pada mereka. Jung Kook sudah berada di depan Hoseok, dia melihat seluruh tali yang terikat sempurna. Menimbang-nimbang dengan cara apa dan bagaimana.

"Gunakan gigi mu Jung Kook-ah!" seru Nam Joon.

Jung Kook menurut, dia menarik tubuhnya ke belakang lalu menghentakkannya ke depan, membuat kursinya terjatuh ke bawah dengam posisi dengkul yang mendarat. Dia menduduk, mencoba untuk membuka tali dengan giginya. Hoseok mencoba membantu dengan menggerakkan pergelangan tangan untuk mengendurkan talinya.

"Lebih kencang Jung Ko--"

Pintu aula terbuka, mereka menoleh ke sumber suara dengan deru napas memburu. Rasanya suhu udara di ruangan begitu panas, dan jantung berdetak sangat cepat seperti berlari, bahkan napas mereka hampir habis seolah seperti sedang tanding.

SAVE ME or KILL ME [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang