Jisoo dan Rose adalah Kakak beradik. Mereka mempunyai teman sepermainan bernama Kim Taehyung. Rose tetap bertukar kabar saat Taehyung pindah keluar Negeri. Bahkan Taehyung mengatakan saat ia kembali ke Korea suatu saat nanti. Rose adalah orang perta...
Sejak saat itu, sudah 2 bulan berlalu. Sang ayah belum pernah lagi pulang kerumah. Jika Rose bertanya pada ibunya, tentu saja jawabannya akan sama 'Ayahsibuk bekerja.'. Jadi Rose tak menanyakan hal yang sama secara langsung. Dara semakin sering mengajak Rose pergi ke gereja sepulang sekolah. Ia melantunkan doa setiap harinya, Rose yang disamping ibunya pun ikut berdoa, walaupun ia agak bingung untuk siapa doa-doa yang dilantunkan sang ibu.
Langit cerah seperti biasa. Matahari tak telalu menyengat. Rose pulang sekolah diantar ibu Jennie, Chaerin. Lalu Dara sendiri, kenapa tak menjemput? Tante Chaerin berkata bahwa Dara sedang tak enak badan. Tak berapa lama, tibalah mereka didepan pagar rumah Rose. Ia turun dari mobil yang ia tumpangi. Tak lupa berterima kasih dan melambaikan tangan tanda perpisahan pada Jennie, Samuel, dan Chaerin. Tak menduga itulah adalah pertemuan terakhir.
Rose bergegas masuk. Dibukanya pintu utama rumah. Kini ia melihat sekeliling, tak nampak sosok sang ibu. Rose menutup kembali pintu setelah tubuhnya masuk kedalam rumah. "Ibu, Rose pulang," ucapnya dengan nada ceria.
Rose menuju kamar ibunya yang berada dilantai 2. Langkah kaki Rose sedikit lebih cepat. Sekarang ia sudah didepan kamar Dara lalu ia mengetuk perlahan pintu kamar sang ibu. "Ibu, Rose masuk ya." Rose pun membuka pintu tadi. Dapat dilihat nya sang ibu tertunduk menggenggam bingkai photo. Diphoto itu terdapat potret masa lalu Rose dan kedua orang tuanya. Dara tak menjawab sapaan dari Rose seperti biasa. Rose masih diposisinya berdiri memperhatikan sang ibu. Isak tangisan dari Dara tertangkap oleh indra pendengaran Rose. Sang Ibu meneteskan air mata, walau langsung dihapus. Rose pun memberanikan diri mendekatkan pada Dara. "Ibu, kenapa menangis?" tak ada sahutan. Terlihar matanya sembab dan basah. Tangisan pun tak terbendung lagi. Rose menatap kebingungan.
Dara mencoba menenangkan diri, dihapusnya air mata itu menghela nafas sejenak. "Mulai sekarang ... Rose harus menurut pada ibu. Jangan membantah. Jadilah anak yang baik. Jangan cengeng juga manja karna mulai sekarang hanya kita berdua...." Dara menghentikan ucapannya menatap sendu sang anak. "Ayah sudah tenang disana. Kita harus mengiklaskannya. Rose berdoalah pada Tuhan, jika Rose merindukan ayah." lanjutnya mengusap surai panjang anaknya. Air mata kembali berkumpul dipelupuk matanya. "Ayah pergi kemana, Bu? Kenapa ayah tak mengajak kita?" Rose menyadari ada yang tak beres. Melihat Dara kembali menitikkan air matanya Rose pun mulai menangis. Sang ibu memeluk nya erat, mengelus pungung sekitaran kepalanya, tapi itu membuatnya semakin menangis menjadi-jadi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah 3 hari semenjak kejadian kemarin. Setiap hari pemandangan yang tak sengaja Rose lihat adalah sang ibu yang secara sembunyi menangis. Rose melihatnya, tapi ia tak tau apa yang harus dilakukan. Rose pun juga tak kalah bersedih.
Setelah lambat laun Dara menjelaskan semuanya. Dara mengatakan Haejin mengalami kecelakaan dan terluka parah. Setelah itu Haejin mengalami koma, sebelum akhirnya meninggal dunia. Rose pun setiap hari berdoa pada Tuhan agar mengembalikan ayahnya.