Sore yang indah di kota Kembang Bandung dengan senja yang memikat. Seorang gadis sedang duduk di sebuah bangku taman yang tidak jauh dari rumahnya.
"Senja, aku mohon sekali saja kau menetap pada langit dengan waktu yang lama dan tidak meninggalkan langit begitu saja", ujar gadis itu.
Dalam waktu sekejap senja pun mulai surut dan hanya meninggalkan kegelapan.
Dengan penuh kekecewaan gadis itu pun hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu suka senja ya?", tanya seorang pria yang baru saja datang dan menghampiri gadis itu.
"Iya, aku suka senja".
"Pantas saja".
"Memangnya kenapa?".
"Tidak, aku hanya bertanya saja".
"Kamu juga suka senja ya?", ucap gadis itu.
"Tidak, aku tidak suka senja", jawab pria itu.
"Lalu, kamu sukanya apa?", tanya sang gadis.
"Aku suka rembulan. Aku suka rembulan karena dia tetap bercahaya walaupun dalam kegelapan. Bahkan dia lah yang menyinari bumi dengan cahayanya sendiri ketika malam hari", jelas pria itu.
"Aku kira kamu juga suka senja", ujar gadis itu dengan penuh kecewa.
"Aku tidak suka senja, tapi aku juga tidak membenci senja. Oh ya, kenapa kamu menyukai senja?".
"Karena senja adalah hal indah tetapi singkat yang langit suguhkan untukku", jelas gadis itu.
"Kenapa kamu tidak menyukai senja? Padahal hampir semua orang menyukai senja?", lanjut sang gadis.
"Senja hanya datang sesaat, seperti yang kamu bilang tadi".
"Tapi walau hanya sesaat, dia dapat dinikmati keindahannya".
"Semua orang pasti akan bilang seperti itu", tegas pria itu.
"Aku tahu", ujar sang gadis dengan singkat.
Pria itu hanya membalas senyum atas perilaku sang gadis. Senyuman yang khas dengan kehangatan didalamnya.
"Namaku Kristian Alvaro Aldish. Umurku 17 tahun, rumahku tidak jauh dari sini", ucap pria itu sembari memperkenalkan diri.
"Oh ya, namamu?", lanjut Kris.
"Apa aku harus memberitahukan namaku?", balas gadis itu.
"Tidak harus juga. Tapi kalau tidak, kita tidak akan saling mengenal", jawab Kris.
"Puja".
"Hanya itu?".
"Tidak".
"Lalu?"
"Puja Alika Putri".
"Baiklah Puja, senang bisa berkenalan denganmu", ucap Kris sembari menjulurkan tangannya.
Puja hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Kris pun kembali menarik tangannya.
"Aku menyukai rembulan, dan kau menyukai senja. Kita berbeda", ujar Kris dengan suara khasnya.
"Hal yang kurang penting untuk diperbincangkan Kris", ucap Puja.
"Menurutku itu penting Puja", jawab Kris.
"Terserah kau saja Kris", ujar Puja dengan wajah pasrah.
"Kau unik Puja. Ketika membincangkan senja saja kau bersemangat, tetapi saat membincangkan hal lain kau tidak peduli", omel Kris panjang lebar.
"Aku memang seperti itu Kris".
"Baiklah. Oh iya, aku sampai lupa. Berapa umurmu Puja?", tanya Kris.
"Apa har...", ucap Puja terpotong.
"Tidak Puja, jangan mempertanyakan hal itu. Kau tidak usah memberitahu orang lain. Tapi kau harus memberitahuku", potong Kris.
"16 Tahun", jawab Puja dengan singkat.
"Kita hanya selisih satu tahun", ujar Kris.
"Aku tahu itu Kris", jawab puja dengan kesal.
"Aku tidak ingin membuatmu marah Puja", ujar Kris dengan suara yang memelan.
"Aku tidak marah Kris. Aku hanya sedikit kesal kepadamu", ucap Puja dengan penuh kehati-hatian.
"Maafkan aku", ujar Kris dengan suara memelan.
"Kau tak usah minta maaf. Kita baru saja bertemu dan kau sudah minta maaf lagi", jawab Puja.
"Baiklah, aku tidak akan meminta maaf", ujar Kris meralat perlakuannya.
"Hmm", jawab Puja dengan singkat.
Disela-sela percakapan mereka terdengar suara lantunan Adzan Isya yang terdengar tidak jauh dari mereka.
"Astagfirullah, aku lupa belum melaksanakan shalat magrib. Apa kamu sudah shalat magrib?", tanya puja dengan wajah paniknya.
"Aku tidak melaksanakan shalat", jawab Kris dengan wajah datar.
"Loh kenapa?", tanya Puja kembali yang tidak menyadari sesuatu.
"Agamaku tidak memerintahkan itu", jawab Kris.
"Yaampun, kenapa kamu baru bilang Kris. Aku minta maaf, aku tidak tahu", ujar Puja dengan penuh penyesalan.
"Kau tak usah minta maaf. Kita baru saja bertemu dan kau sudah minta maaf lagi", jawab Kris menirukan ucapan Puja.
"Itu kalimatku Kris", ujar Puja.
"Aku tahu itu".
"Kau suka menirukan orang lain ya?", kesal Puja.
"Tidak, aku tidak suka menirukan orang lain. Aku hanya menirukanmu saja", ujar Kris dengan wajah jahilnya.
"Kau menyebalkan", kesal Puja sembari mengangkat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya.
"Aku hanya bercanda Puja", ucap Kris membujuk Puja.
"Aku akan pulang saja!", ujar Puja yang sudah mencapai emosinya.
"Silahkan saja. Kenapa kau harus meminta izin padaku?", ucap Kris dengan wajah tengilnya.
"Ishhh, aku sangat kesal padamu. Aku akan pulang", jawab Puja dengan penuh emosi.
Baru saja Puja meninggalkan bangku itu beberapa langkah.
"Puja!!", teriak Kris memanggil Puja.
"Ada apa?", tanya Puja.
"Dompetmu tertinggal", jawab Kris dengan menganggkat sebuah dompet berwarna ungu.
"Huftt, terima kasih", ujar Puja buru-buru dan kembali melangkahkan kakinya.
"Puja!!", teriak Kris memanggil Puja sekali lagi.
"Apalagi Kris?!", jawab Puja dengan wajah kesal.
"Selamat malam. Sampai bertemu lagi besok", ujar Kris dengan tersenyum tulus sembari melambaikan tangannya.
Puja langsung membalikkan tubuhnya yang tidak karuan.
"Astaga, ada apa ini semesta? Mengapa dia membuat hatiku tidak karuan seperti ini?", omel Puja sembari memegang dadanya.
"Tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Karena kita kan baru saling mengenal", lanjut Puja.
Ketika Puja menengok lagi kebelakang ternyata Kris masih berada disana.
Dan Kris pun kembali memberikan senyuman hangatnya pada Puja.
"Yaampun, ada-ada saja dia", ujar Puja sembari melanjutkan langkah kakinya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja & Rembulan
Teen FictionPerkenalan yang tidak terlihat istimewa. Perkenalan yang membawamu masuk kedalam suatu tempat dihatiku. Lalu dia pergi sebagaimana senja dan menutup hatiku rapat-rapat serta membawa satu-satunya kunci yang ku punya. Ya, tuan pemilik senyum yang hang...
