Setelah sampai dirumahnya, Puja langsung membersihkan dirinya.
"Pertemuan yang indah," ujar senja sembari tersenyum dan merebahkan tubuhnya di atas kasur serta sedang menuliskan sesuatu di sebuah buku.
Sebuah Pertemuan
Semesta, tadi aku bertemu dengan seseorang.
Dia tidak tampan. Tetapi, dia unik.
Dia datang secara tiba-tiba saat aku sedang menyaksikan senja lalu dia memperkenalkan dirinya padaku.
Semesta, kau yang membuatku jatuh cinta padanya ya?
Dengan caranya sendiri dia dapat mengenalku dekat, padahal baru saja aku dan dia bertemu.
Semesta, mengapa kau jatuhkan hatiku padanya?
Jangan jatuhkan hatiku padanya semesta, dia nakal.
Baru saja bertemu sudah membuatku kesal.
Oh ya, aku tidak habis pikir. Ternyata ada seorang pria yang datang ke taman hanya untuk menyaksikan rembulan.
Aku dan dia tadi sempat berdebat. Perdebatan yang tidak terlalu penting juga hanya memperdebatkan masalah sepele menurutku.
Tapi, menurut dia itu hal yang besar.
Dasar aneh, masalah kecil saja dibesar-besarkan.
Semesta, baru saja kami bertemu tetapi dia sudah membuatku terasa istimewa.
Aku takut tadi itu hanya kebetulan. Aku sudah terlanjur menyukainya, terutama senyumannya dan mata yang hanya terlihat satu garis saat tertawa.
Aku sudah terlanjur menyukainya semesta.
Aku sudah terlanjur mencintainya.
-Bandung, 17 Maret 2018
Setelah menuliskan beberapa hal di buku catatan pribadinya, Puja segera membereskan buku-buku untuk sekolah besok.
"Yaampun aku lupa, besok kan ada ulangan akhir semester. Bagaimana ini? Aku belum belajar satu bab pun," sadar Puja dengan wajah panik.
"Aduhh! Besokkan kelasnya dicampur, mana kelasnya dicampur sama kelas 11 lagi," ujar Puja sembari menepuk dahinya.
"Oke. Sekarang, mari kita belajar!!!!," lanjut Puja bersemangat.
***
Keesokan paginya, Puja telah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Ayo cepat Puja! Ini sudah siang," titah Ayahnya Puja.
"Iya pah, sebentar," ucap Puja sembari menalikan tali sepatunya.
Setelah selesai Puja pun langsung berangkat ke sekolah bersama ayahnya.
"Semoga lancar ujiannya nak," ucap ayah Puja sembari mengelus-ngelus kepala Puja.
"Iya pah, aamiin," jawab Puja.
"Baiklah, papah berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum," pamit ayah Puja.
"Waalaikumsallam," jawab Puja.
Setelah sampai diruangan tempat berlangsungnya ujian Puja, ia langsung menduduki kursinya yang kebetulan sekali paling belakang dan dia pun duduk sendirian.
"Hai Puja," ujar teman sekelas Puja yaitu Aulia dan Amalia yang kebetulan satu ruangan dengan Puja.
Disaat Puja, Aulia dan Amalia sedang mengobrol, tiba-tiba Puja mendadak berhenti berbicara. Seseorang baru saja masuk ke ruang kelas mereka.
"Sebentar, itu kan Kris. Yaampun, ternyata kita satu ruangan," ujar Puja yang menghentikan kegiatan mereka.
"Hah, siapa?," tanya Amalia kepada Puja.
"Yang baru masuk tadi," jawab Puja meyakinkan.
"Kau kenal dengan dia?," tanya Aulia pada Puja.
"Hmm, tidak tahu," jawab Puja malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja & Rembulan
Teen FictionPerkenalan yang tidak terlihat istimewa. Perkenalan yang membawamu masuk kedalam suatu tempat dihatiku. Lalu dia pergi sebagaimana senja dan menutup hatiku rapat-rapat serta membawa satu-satunya kunci yang ku punya. Ya, tuan pemilik senyum yang hang...
