[5] Seberkas Rasa Kecewa-2

104 11 0
                                        

Pukul 06.10 Puja sudah berada disekolah.
Saat hendak memasuki kelas, Puja masih merasa ragu-ragu. Karena disana hanya terdapat 2 orang laki-laki. Satu orang berperawakan tinggi dan putih name tag nya bertuliskan nama Fauzi . Dan yang satu lagi berperawakan agak pendek dan manis, name tag nya bertuliskan Adit.

"Aduh, yang lainnya kemana sih? Itu kan temennya Kris yang kemarin. Gimana nih?," ujar Puja ragu yang masih terdiam di ambang pintu.

"Tapi, aku takut mereka tau aku ,"ujar Puja yang kembali menciut karena takut temannya Kris mengenalinya dan membully dirinya seperti yang Kris bilang kemarin.

"Ayo Puja kamu pasti bisa. Bismillah," ucap Puja meyakinkan dirinya dan mulai memasuki kelas mereka.

"Assalamualaikum," Puja memasuki kelas dan memberikan salam.

Kedua laki-laki itu hanya menatapnya dengan tatapan merendahkan.

"Bodo amatlah mereka gak jawab salamku, yang penting aku udah mengucapkan salam," cerocos Puja dalam hatinya.

Setelah berkutat didalam hatinya, Puja segera menduduki bangkunya.
Tetapi, ketika Puja hendak membuka buku untuk membaca, kedua laki-laki itu menghampiri Puja.

"Bro, itu kan cewe yang kemarin sok kenal sama si Kris. Kita samperin yuk," ujar Adit sebelum menghampiri Puja.

Puja yang mulai merasakan akan kehadiran mereka pun merasa tidak peduli dan melanjutkan aktifitas membacanya.

"Hey!," seru Adit memanggil Puja.

"A-aku kak?," jawab Puja sembari menoleh dan menunjuk dirinya sendiri.

"Hey tayo, hey tayo, dia bis kecil ramah melaju melambat, tayo selalu senang," ujar Adit mengerjai Puja sembari mengayun-ayunkan tangannya.

"Jeng jengg. Hahahahaha," lanjut Fauzi yang sembari tertawa.

Puja pun kembali menunduk merasa malu karena tingkah 2 kakak kelasnya itu.

"Udah bro udah, kasian nih tuan putri nya Kris malu, hahahaha," ujar Adit yang kembali mempermalukan Puja.

"Oh iya kasian juga ya. Oke nona cantik, lo kok bisa-bisanya sok kenal sama Kris sih?," tanya Fauzi yang mulai serius.

"Jawab dong," ucap Adit sembari mencolek dagu Puja.

Puja yang tidak terima dirinya disentuh oleh sembarang laki-laki pun akhirnya menepis tangan Adit dan menggebrakan meja yang ada dihadapannya.

"Wow, nona cantik ini marah bro," ujar Fauzi yang meremehkan kemarahan Puja.

"Maaf kak, saya tidak suka anda berperilaku seperti itu. Kalian seperti banci, yang beraninya hanya dengan perempuan," bentak Puja dengan lantang.

Plakkk!
Suara tamparan dipipi Puja yang dilakukan oleh Adit karena dia tidak terima dirinya disebut banci oleh seorang perempuan.
Para murid yang baru datang pun seolah tidak peduli dengan apa yang telah Adit dan Fauzi lakukan.

Sebenarnya mereka bukan tidak peduli, tetapi mereka takut oleh 2 orang itu. Jelas, 2 pria itu terkenal akan gengnya yang suka membully tanpa memandang laki-laki ataupun perempuan yang mereka bully. Bahkan guru-guru pun sudah jengah akan kelakuan mereka.

Puja tidak mengetahui kalau Kris dan teman-temannya adalah geng yang sangat terkenal akan perlakuannya. Karena Puja tidak terlalu suka berinteraksi dengan teman-teman di sekolahnya.

"Apa-apaan kalian? Kenapa kalian nampar Puja? Kalian berani sama cewek? Cowok macam apa kalian? Hah?" ujar Kris yang baru saja datang dan langsung membentak kedua temannya.

"Tapi dia yang mulai duluan Kris," ujar Fauzi yang dari tadi hanya diam mematung. Sedangkan Adit sudah mulai marah dan benci kepada Puja.

"Mau dia yang mulai duluan kek, mau kalian yang mulai duluan kek, kalian gak usah nampar dia. Ngerti kalian!" ujar Kris dengan wajah yang penuh amarah.

"Kok lo jadi ngebelain dia sih?," tanya Fauzi yang masih heran dengan apa yang Kris lakukan.

"Gue bukannya ngebelain dia," jawab Kris.

"Terus lo kenapa marah-marah sama kita kalau kita nampar dia? Apa urusannya sama lo?," giliran Adit yang bertanya kepada Kris.

"Lo masih nanya apa urusannya sama gue? Ya jelas itu urusan gue dit, karena lo udah nyakitin perempuan yang gak bersalah," jawab Kris masih dengan amarahnya.

"Tapi biasanya lo gak peduli sama cewek manapun Kris. Kalau pun ada cewek yang kita bully kek, diapain kek, biasanya lo cuek. Tapi kenapa kalau dia yang kita gangguin lo jadi marah?," tanya Adit kepada Kris dengan panjang lebar.

"Karena...," jawab Kris yang masih berfikir untuk menjawab pertanyaan Adit.

"Karena apa Kris? Karena lo suka sama dia? Jawab gue Kris!," tegas Adit yang masih heran dengan gelagat temannya itu.

"Gue gak suka sama dia!," jawab Kris sembari menoleh ke arah Puja.

Puja yang dari tadi hanya menunduk kini ia kembali mengangkat kepalanya karena mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kris.

Kau tau Kris? Tamparan yang dilakukan oleh temanmu itu tidak sakit bahkan tidak terasa sedikit pun.
Tapi kenapa apa yang kau katakan tadi berkali-kali lipat sakitnya dari tamparan tadi.
Kemarin kau memperlakukanku seolah akulah wanita yang paling bahagia di dunia ini.
Bahkan tadi kau sempat membelaku.
Tetapi sekarang, kau seperti menganggapku tidak ada Kris.
Apa yang kau pikirkan Kris? Apa yang kau mau dariku?.

"Ada apa ini?," tanya Pak Budi yang baru saja datang dengan amarahnya.

"Tidak pak tidak ada apa-apa. Kami hanya sedang bercanda," ucap Puja berbohong.

"Ya sudah kalau begitu langsung saja dimulai ujiannya," ujar Pak Budi.

"Baik pakk!," jawab semua murid dengan serentak.

"Kau harus bersabar Puja. Fokos dulu pada ujianmu jangan terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi tadi," ujar Puja meyakinkan dirinya sendiri dalam hati.

*******

Senja & RembulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang