Menunggu, menunggu dan menunggu. Aku paling tidak suka jika harus menunggu. Ya, sekarang aku sedang menunggu angkutan umum di halte depan sekolahku. Sekolah sudah bubar, semua murid pun sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kini hanya tersisa aku dan Rizky di halte.
Hanya aku dan Rizky. Entah apa yang semesta rencanakan. Kenapa harus dia yang ada di halte ini bersamaku? Malas sekali rasanya jika sudah berada didekatnya. Ditambah dengan cuaca yang sedang hujan, membuatku tidak bisa pulang begitu saja.
"Puja, lo gak dijemput?"
"Gak."
"Kok angkotnya gak dateng-dateng ya?" Dia bertanya padaku yang jelas-jelas dia sendiri tau jawabannya. Dasar aneh.
"Hujan" jawabku ketus.
Sebentar, bukannya Balqis bilang dia itu ketua ekskul basket ya? Masa sih dia pulang naik angkot? Apa dia gak gengsi kalau dia naik angkot? Tapi, biasanya kan seorang ketua eskul basket berpenampilan sok keren dan selalu membawa kendaraan ke sekolah. Bodo amat lah aku gak peduli.
"Lo kenapa sih kalau ngomong sama gue selalu jutek?"
"Hmm"
Aku bukannya jutek, tetapi dia yang belum terlalu mengenalku.
Tapi, bagaimana dengan Kris? Dia juga belum terlalu mengenalku. Kenapa aku merasa nyaman bila didekatnya?
Kris berbeda dengan Rizky. Kris berbeda dengan laki-laki lain. Dia dapat mencuri hatiku hanya dengan senyumannya.
Ah, sudahlah. Aku sedang tidak ingin membandingkannya dengan pria yang ada disampingku sekarang ini.
"Lo mau nunggu sampai kapan?" Lagi-lagi dia bertanya yang tidak penting menurutku.
"Sampai hujannya reda" jawabanku sepertinya tidak memuaskan dia."Lo pulang bareng gue aja, naik motor gue."
Aku bilang juga apa? Mana mungkin dia ke sekolah gak bawa kendaraan. Terus buat apa dia nungguin di halte lama-lama?
"Gak, makasih!" Tolakku dengan penuh penegasan.
"Lo mau nunggu sampai kapan coba? Ini udah jam 4 sore. Lebih baik lo ikut gue."
"Kalau gue udah bilang nggak, ya nggak. Lo gak punya hak buat ngatur-ngatur gue!"
Sekarang, dia kembali diam mencerna ucapanku barusan. Malas sekali jika sudah berdebat dengannya.
Kami berdua diam dan larut dalam keheningan yang hanya di isi oleh suara gemercik air hujan.
Saat keheningan mulai menguasai halte, seorang pria yang memakai seragam sekolah dan mengendarai sepeda berwarna hitam dan hijau toska berhenti tepat di depan halte. Dengan lihainya dia mengendarai sepeda miliknya itu dan menerobos hujan begitu saja.
"Puja, ayo naik!" Laki-laki itu berteriak dan memperlihatkan senyuman yang selalu aku sukai. Walaupun wajahnya basah kuyup terkena hujan, tapi senyumnya masih dapat terlihat hangat.
Aku tersenyum dan segera menghampirinya ketika melihat dia tersenyum padaku. Senyuman yang sangat ku kenal. Siapa lagi pemilik senyum yang hangat itu kalau bukan Kris.
Baru saja aku hendak menghampiri Kris, Rizky mecekal pergelangan tanganku dan menghentikan langkahku.
"Lo mau ikut dia? Emangnya dia siapa? Terus, lo mau hujan-hujanan gitu?" Tanyanya disertai dengan rasa khawatir.
"Bukan urusan lo!" Ujarku ketus sembari menepis tangan Rizky dengan kasar.
Rizky tidak perlu tahu Kris dan Kris pun tidak perlu tahu Rizky. Semua ini tidak ada urusannya dengan Rizky.
"Ayo Kris kita pulang!"
Aku menghampiri Kris dengan menerobos hujan dan segera menaiki sepedanya itu.
"Puja, gue seneng bisa liat senyum lo yang indah itu. Walaupun senyumnya bukan buat gue melainkan buat cowok yang baru dateng tadi. Lo tau gak, kenapa gue bisa tertarik sama lo? Karena lo itu beda sama cewek lain, terutama senyum lo. Disaat semua cewek lain sibuk minta perhatian gue, lo gak peduli sama semua yang dilakuin cewek-cewek itu. Bahkan disaat gue ngedeketin lo, lo juga masih gak peduli bahkan cuek sama gue. Gue pasti bisa ngeruntuhin tembok yang ada dihati lo itu." Ujar Rizky dalam hatinya setelah kepergian Puja dengan Kris.
***
Hujan.
Siapa yang tidak suka dengan hujan?
Apalagi jika kita bisa berada di bawah air hujan dengan seseorang yang spesial.
Dan kini aku tengah merasakan suatu kebahagiaan itu. Merasakan bagaimana rasanya bermain hujan bersama seorang yang spesial.
Dengan merentangkan tanganku dan mendongakan kepala ku keatas agar bisa merasakan rintikan air hujan yang mengenai wajahku.
"Akhirnya aku bisa merasakan lagi air hujan ini." Aku senang. Sangat senang.
"Puja, hati-hati nanti kamu jatuh kalau gak pegangan," ucap Kris sedikit berteriak karena suaranya tertelan oleh hujan yang sangat deras.
"Iya Kris maaf. Aku seneng banget Kris. Aku seneng bisa main hujan-hujanan lagi setelah 1 tahun terakhir."
"Aku juga seneng Puja. Aku seneng bisa main hujan-hujanan. Apalagi sama kamu"
"Hah? Apa Kris gak kedengeran"
"Nggak Puja, bukan apa-apa kok"
Sebenarnya aku tahu apa yang kau ucapkan tadi Kris. Cuman, aku hanya ingin kau mengulangi nya saja.
"Ya udah, sekarang kamu pegangan ya. Nanti kamu jatuh kalau gak pegangan"
"Iya Kris."
"Oh iya Kris, tadi kamu habis ngapain disekolah? Kok baru pulang sih?"
"Harusnya aku yang nanya itu sama kamu Puja. Kamu dari mana aja? Kok gak langsung pulang?"
"Tadi itu saat aku mau pulang, tiba-tiba hujan deras. Jadi aku nunggu di halte deh. Dari pada aku kehujanan."
"Tapi kan sekarang juga kamu kehujanan"
"Oh iya yah. Kamu juga kehujanan Kris"
"Aku gak peduli aku kehujanan. Yang penting Rembulanku baik-baik aja dan pulang dengan aman."
Sudah menjadi kebiasaan bagimu ya kalau kau selalu menerbangkanku? Kau tahu, kau semakin bersarang pada hatiku Kris.
"Oh ya, yang tadi di halte bersamamu itu siapa?"
Astaga, dia menanyakan Rizky?
"Dia teman kelasku sekarang" aku hanya menjawab seadanya saja.
"Ohh"
"Memangnya kenapa Kris?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya takut dia jatuh cinta padamu."
"Jadi intinya kamu cemburu?"
"Bukan begitu Puja. Aku kan sudah bilang kalau aku hanya takut dia jatuh cinta padamu. Tak apa sih kalau dia jatuh cinta padamu, tapi kalau kau yang jatuh cinta padanya itu baru masalah untukku."
Lagi, lagi, dan lagi. Kau telah membuatku terasa istimewa. Sungguh, aku beruntung bisa mengenalmu Kris.
"Sudah sampai Puja" ujarnya menyadarkanku dari lamunan ini.
"Oh baiklah, terima kasih Kris" ujarku sembari turun dari sepeda miliknya.
"Jangan berterima kasih padaku Puja. Ingat! Jangan ada kata terima kasih diantara kita. Ini adalah janji," ujarnya sembari mengangkat jari kelingkingnya.
"Iya Kris."
Aku pun mengaitkan jari kelingkingku pada jari nya dan tersenyum tulus padanya. Dia pun ikut tersenyum.
"Ayo masuk" Perintahnya dengan suara yang lembut.
"Kau tidak mau mampir dulu Kris?"
"Tidak. Aku kemari hanya untuk mengantarkan Rembulanku saja," ujarnya sembari mengacak pelan rambutku. Sepertinya, mengacak rambutku sudah menjadi hobi baru untuknya.
"Ya sudah cepat masuk" lagi lagi dia memerintahkan ku untuk segera masuk.
"Baiklah, sampai jumpa Kris" ujarku sembari tersenyum ke arahnya.
"Sampai jumpa juga Puja." Dia membalas ucapanku dengan kembali tersenyum padaku.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja & Rembulan
Teen FictionPerkenalan yang tidak terlihat istimewa. Perkenalan yang membawamu masuk kedalam suatu tempat dihatiku. Lalu dia pergi sebagaimana senja dan menutup hatiku rapat-rapat serta membawa satu-satunya kunci yang ku punya. Ya, tuan pemilik senyum yang hang...
