Jungkook sebenarnya makan di restoran bernama Dang Ol hanya karena penasaran akan menunya.
Maka Jungkook memilih meja paling sudut kanan, memesan menu sesuai instingnya, lalu mengetuk-ngetuk asal meja. "Lama sekali." gumamnya.
Matanya berkeliling sembarang arah. Dalam hati mengutuk sang adik yang menyita ponselnya dengan alasan terlalu banyak bermain permainan menang-menang-ayam-makan malam.
Kemudian ia ingin lari. Kemana saja, terserah. Asal tidak bertemu dengan lima lelaki yang baru saja masuk.
Namun kemudian tersadar akan satu hal.
Ini bukan yang Jungkook harapkan, namun mungkin inilah akhir terbaik.
Sebenarnya agak lucu mengingat dirinya yang mengharapkan pertemuan yang baik, toh, pada akhirnya ia bertemu di tempat seperti ini.
Restoran Dang Ol. Restoran kesukaan kelima kakaknya.
"Jungkook?"
Ah, itu Jimin, 'kan? Terakhir Jungkook melihat berita tentangnya, Jimin dan keempatnya mengadakan konser hari ke dua mereka di Toronto. Itu kapan, ya? Kalau tak salah empat bulan yang lalu.
Sebenarnya Jungkook kembali merasa ragu. Namun mejanya sudah penuh dengan berbagai menu dan juga lima lelaki yang turut duduk.
Tidak ada yang mencoba bicara kendati satu sama lain saling melirik.
Jungkook berdeham dan semua menatapnya.
"Oke, um ... hai?" Jungkook kembali pada memori lamanya. Ia ingat, empat tahun lalu saat dirinya dengan datar memperkenalkan diri.
Kemudian suasana terasa hening. Entah karena restoran sudah di tutup sementara untuk publik karena lima lelaki ini masuk dan membiarkan mereka yang sudah lebih dulu ada disini untuk tenang dan tetap bertingkah biasa, atau mungkin Jungkook saja yang merasakannya?
Terserah. Yang Jungkook tahu, keadaan ini membuatnya risih.
"Ini ... tidak ada yang ingin bicara? Aku tidak akan tergila-gila pada kalian, ya, karena kalian sudah terkenal begini."
Karena kalimat yang terlontar itu tak mengundang balasan, Jungkook hendak mengatakan beberapa hal lagi namun suara Taehyung menuntunya untuk diam.
"Kau, apa yang kau lakukan disini?"
"Sial, sudah sejauh ini masih saja brengsek. Hih! Yang pasti bukan menjadi fans yang mengikuti kalian diam-diam. Maaf saja."
Lalu Jungkook dibuat sedikit gemetaran saat Taehyung menggebrak meja.
Semua kembali tenang saat lelaki tua yang Jungkook yakini adalah penanggung jawab mereka angkat suara. Tapi, tidak, Jungkook merasa menjadi satu-satunya yang tidak tenang.
"Jungkook, apa yang terjadi?"
Pun Jungkook tidak tahu ternyata dirinya yang mulanya tidak ragu dijatuhkan begitu saja karena pertanyaan Jimin.
Namun lagi dan lagi, Jungkook mengingat satu hal, janjinya pada Yoongi.
"Apa yang terjadi? Banyak sekali, kak Jimin." Oh, ingatkan Jungkook bagaimana euforia saat dirinya kembali memanggil nama itu.
"Kau, baik?" masih Jimin.
Jungkook mengangguk. "Tentu. Kurasa aku baik. Banyak hal yang terjadi tapi aku sudah berjanji pada Min Yoongi, jadi, ya, kurasa aku baik. Aku bahagia."
Saat itu, Jungkook benar-benar merasa terlepas dari janji yang membelenggunya selama empat tahun. Jungkook tak pernah mengatakan ini, namun mari mengetahuinya. Mungkin rasanya tidak adil, tidak puas dan sangat menggantung untuk beberapa pandangan. Tapi tak apa, Jungkook tidak ingin memaksakan keinginannya. Terakhir ia ingat, banyak sekali orang yang terluka karena dirinya yang kekeuh akan satu keinginan.
Jadi, penyelesaian terbaik Jungkook, ia sudah cukup bahagia dengan mendapati dirinya yang berhenti menjadi alasan kesengsaraan banyak orang. Ada satu hal lagi, Jungkook merasa bahagia mengetahui ... bahwa dirinya pernah memiliki hari untuk bermimpi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Day to Dream
FanfictionTak ada yang begitu peduli tentang bagaimana perjuangan yang dilaluinya, namun mengingat bahwa dirinya pernah memiliki hari untuk bermimpi ... sudah, Jungkook sudah cukup bahagia. ©2019, fanfiction by Conamoon Status, sudah selesai. Terimakasih suda...
