What's Your Name?

1.5K 213 22
                                    

Taehyung's PoV

Ramyun. Aku tidak ingat sejak kapan aku menyukai makanan itu. Baik yang dalam bentuk instan maupun yang sering kupesan di berbagai restoran, aku selalu melahapnya dengan hati senang. Maka itu aku selalu membeli banyak stok ramyun untuk diriku sendiri. Terlebih sekarang aku sudah memisahkan diri dari keluargaku di Daegu, hasratku untuk makan ramyun setiap hari semakin menggebu saja.

Ah, aku mendadak ingat Ibuku yang selalu memberi ceramah panjang kali lebar jika aku merengek minta dibelikan ramyun cup setiap kali kami berbelanja di supermarket. Tapi berbeda dengan Ibu,  Ayah akan dengan senang hati menuruti apa kemauanku. Selagi aku menjadi anak baik, maka apapun itu, Ayahku akan mengabulkannya untukku.

"Hmmm, rasa apa lagi yang mau kubeli yaa?" aku menggumam sendiri sembari memilih banyak varian rasa ramyun yang tersusun rapi dalam rak. Sekilas aku melirik keranjangku yang sudah berisi banyak ramyun untuk stok selama dua minggu. Aku membeli lebih karena ingin membaginya dengan Namjoon, tetangga apartemenku di Seongnam.

Omong-omong soal Namjoon, menurutku dia tipikal orang yang sangat canggung dan kaku. Tapi meski begitu, dia orang yang baik dan cukup perhatian. Tata bicaranyapun lembut, bahkan seingatku aku tak pernah mendengarnya berteriak dan memaki jika sedang kesal. Aku malah tidak yakin kalau orang itu bisa marah. Karena selama aku menjadi tetangganya, aku selalu melihat wajahnya yang tenang. Terkadang naluri usilku ingin memancingnya agar mengeluarkan amarahnya. Tapi yang kudapati hanya tatapan heran darinya saja.

Sungguh tidak seru.

Bahkan setelah kukatakan padanya bahwa aku ini penyuka sesama, dia hanya terkejut sesaat lalu kembali ke mode semula. Seakan apa yang baru kuungkapkan bukanlah sesuatu yang bisa mengubah pemikirannya tentangku. Mungkin pikirnya berkawan dengan orang macam aku ini bukanlah hal yang patut dipermasalahkan?

"Permisi, apakah aku bisa mendapat potongan harga untuk ramyun-ramyun ini?" tanyaku pada kasir minimarket yang terlihat kurang bersahabat itu. Lihat saja mata kecilnya yang menukik tajam ketika melihatku membawa keranjang penuh ramyun di hadapannya.

Hei, kurasa itu kurang sopan, Nona!

"Maaf?" kepalanya mendongak, dan aku bisa mendengar suara beratnya meski tak keras.

Suara berat? Eh, tunggu. Bukan. Dia seorang laki-laki astaga!

"A-ehm. Aku tanya, apakah aku akan mendapat potongan harga karena membeli ramyun sebanyak ini?" aku sedikit tergagap akibat keterkejutan ini.

Bagaimana mungkin seorang pria memiliki kulit seputih itu? Apa dia termasuk golongan albino? Dan lagi, posturnya juga tak seperti ukuran laki-laki pada umumnya. Tingginya mungkin hanya sebatas leherku, tubuhnya kurus dan hanya menyisakan gumpalan lemak pada kedua pipinya. Kedua matanya terlihat lucu bak mata kucing. Dan bibirnya yang berwarna merah muda ituㅡehey. Kenapa aku jadi memerhatikannya begini?

"Terima kasih sudah berbelanja, anda bisa kunjungi kami lain waktu."

Aku tertegun. Apa? Dia hanya mengatakan itu sebagai jawaban atas pertanyaanku? W-woah! Apa menurutmu itu sesuai dengan apa yang kutanyakan? Secara tidak langsung aku meminta potongan harga tapi kenapa dia tidak memberi respon yang semestinya?

Kasir kurang ajar!

"Hey, apakah aku tidak akan mendapat potongan harga? Aku belanja banyak! Ini sungguh tidak masuk akal!" aku coba protes, tapi kasir itu justru memasang wajah masam. Mata kecilnya makin menukik tajam kala menatapku.

"Silakan datang kembali lain waktu."

Dia mengulang ucapannya sembari menundukkan kepalanya tanpa kembali memberi respon yang kuharapkan.

Twinkle Sparkle (Taegijoon) ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang