We're Friends, aren't we?

995 154 14
                                    

Namjoon masih mematung di depan minimarket sepi pengunjung itu. Tatapannya sendu, saat tak melihat sosok yang ingin sekali dilihatnya di tempatnya biasa berdiri. Sengaja ia meluangkan beberapa menit untuk menunggu si pucat misterius itu, tapi hasil yang didapat rupanya nol besar.

"Apa dia tidak bekerja hari ini?" gumam Namjoon bertanya pada dirinya sendiri.

Helaan napasnya terdengar lesu, lantas ia putuskan untuk melangkahkan kakinya dari sana setelah melirik jam tangannya. Andai ia masih memiliki sedikit waktu untuk menunggu, tapi sayangnya bos di tempat konstruksi tak bisa diajak negosiasi.

Beberapa detik setelah Namjoon pergi, seorang pemuda berkulit pucat datang dengan tergesa. Ia masuk ke dalam minimarket dan segera melepas topi dan jaketnya untuk menempati meja kasir.
Yoongi, menghela napas lega karena setibanya di minimarket rekan kerjanya, Jimin, masih belum beranjak pergi untuk lakukan perpindahan shift.

"Harusnya kau tidak perlu terburu-buru datang ke mari, Min. Toh pelanggan hari ini tak seberapa banyak," Jimin berucap sembari mengemasi barang-barangnya.

"Tak apa, aku hanya tak ingin kau pulang terlambat."

"Oho, jadi kau diam-diam mencemaskanku, hm?" Jimin mengerlingkan matanya usil pada Yoongi yang seketika mendengus jengah.

"Pulanglah, kekasih cantikmu itu sudah menunggu."

Jimin terkekeh, "Oh, omong-omong soal menunggu. Tadi ada seseorang yang belakangan sering terlihat ada di depan minimarket. Anehnya, dia tidak berniat masuk dan hanya memandang dari luar saja. Aku sama sekali tidak mengenali wajahnya, jadi kupikir mungkin dia adalah seseorang yang mengenalimu."

Yoongi mengernyitkan dahinya, "Huh? Seingatku di sini yang memiliki banyak kenalan itu kau, bukan aku."

"Tapi kali aku sungguh tak mengenali pemuda itu."

"Pemuda?" kedua bola mata Yoongi melebar, "Seperti apa ciri-cirinya?"

Jimin mengetukkan telunjuknya di dagu, "Hmm, dia tinggi dan cukup tampan. Tunggu, apa kau mengenali seseorang?"

Yoongi tersenyum tipis mendengarnya. Entah kenapa yang kini berada dalam benaknya adalah pemuda yang tempo hari menyelamatkannya dari kepungan anjing liar.

"Apa itu Kim Taehyung?" gumam Yoongi.

"Huh? Kau bicara apa?"

"Ah, tidak tidak. Sudahlah jangan dipikirkan, kau lebih baik pulang sekarang."

"Hum, baiklah. Kabari aku jika ada sesuatu, oke?"

Yoongi mengangguk bersamaan Jimin yang kemudian pergi meninggalkan minimarket. Senyumnya terulas kembali, memikirkan jika selama ini Taehyung diam-diam suka menunggunya di depan minimarket.

"K-kenapa jantungku berdebar? Astaga. Ini konyol!" Yoongi menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Mendadak ia kesulitan mengontrol perasaan yang membuncah dalam dada.

...

"Baru pulang?" Taehyung menyapa kawannya yang baru kembali bekerja dengan kedua tangan penuh dengan tinta.

Namjoon mengernyit heran melihat penampilan Taehyung yang celemotan juga berantakan begitu, "Apa yang sedang kau lakukan?"

"Ini? Membuat kaligrafi. Hehehe. Aku sedang bosan melukis makanya aku cari kegiatan lain," Taehyung menjawab santai.

"Ooh, begitu. Tapi ini sudah malam, lebih baik kau berhenti dan segera tidur, Taehyung."

"Uh, sebenarnya aku menunggumu pulang. Aku tidak ingin makan ramyunku sendirian. Hehe."

"Astaga, kau menungguku hanya demi ramyun?

"Sudah kubilang kan aku tidak ingin memakannya sendirian."

"Ya ya ya, aku mengerti. Biarkan aku menaruh barangku dulu setelah itu kita makan bersama."

"Asyiikkk! Kau terbaik Kim Namjoon!" Taehyung melonjak kegirangan lalu masuk ke dalam apartemennya. Membuat Namjoon yang melihatnya berdecak sembari gelengkan kepala.

...

"Namjoon-ah," panggil Taehyung di tengah acara makan ramyun mereka.

"Hm?"

"Apakah kau pernah merasa penasaran dengan seseorang?"

Namjoon berjengit kaget mendengarnya, "K-kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Uuhh, tidak ada. Hanya ingin tau saja. Selama ini kau kan tidak terlalu banyak cerita padaku."

Namjoon mengunyah ramyunnya, "Hmm, ya. Aku mungkin sekarang sedang merasakannya. Ada seseorang yang diam-diam aku pikirkan."

"Benarkah? Lalu apa yang kau lakukan terhadapnya?"

"Tidak ada. Aku hanya.. Memandanginya dari jauh. Itu saja," Namjoon mendecih, ia teringat belakangan jarang melihat objek yang didambakannya itu.

"Kenapa hanya diam dan memandanginya? Kenapa kau tidak melangkah maju dan melakukan sesuatu?"

"Misalnya apa?"

"Mengajaknya makan ramyun bersama?"

Namjoon tertawa kecil, "Aku tidak memiliki keberanian bahkan sekadar mengajaknya berkenalan."

Taehyung mendengus tak percaya, "Yang benar saja. Kau ini pemuda macam apa kenapa tak berani mengajak seseorang berkenalan?"

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku?"

"Hum, apa kau berani melakukan sesuatu?"

"Haahh, itu pekerjaan yang sangat mudah asal kau tau. Terlebih jika aku sudah tertarik dengan orang itu. Pastilah segalanya akan terasa lebih mudah."

"Apa kau tidak merasa gugup atau semacamnya?"

"Tentu saja tidak."

"Ah, kau membuatku iri."

Taehyung terkekeh, "Apa kau mau belajar satu hal dariku, Kim Namjoon?"

"Huh? Belajar sesuatuㅡapa maksudmu?"

Taehyung tersenyum miring, "Kau tentu ingin berkenalan dengan orang itu kan? Maka aku akan mengajarimu tata cara berkenalan yang baik dan benar agar orang itupun balik menatap dirimu. Bagaimana?"

Kedua mata Namjoon membola, "Se-serius?"

"Tentu saja. Kita teman, kan? Sudah sewajarnya aku ada untuk membantu temanku."

Namjoon tak mampu membalas apapun lagi selain tersenyum lebar pada kawannya itu. Sejak bertemu Taehyung, Namjoon merasa harinya jauh lebih baik dan terasa 'hidup' dari sebelumnya. Dan untuk kali ini, Taehyung berkenan membantunya untuk selangkah lebih dekat dengan sosok misterius di minimarket itu.

"Jadi, kapan kita akan mulai misi ini Kim Namjoon?"

"Um, besok?"

"Call!"

To be continued..

Ngga bisa nulis panjang-panjang lantaran kondisi tangan sedang tidak memungkinkan. Hehe. Minta doanya ya moga cepet pulih :)

Minggu depan kita ketemu lagi yak!

Twinkle Sparkle (Taegijoon) ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang