“Chen-ssi ini … tidak sedang mencoba mencuri kesempatan dalam kesempitan, bukan?” selidik Wendy berbisik pelan sambil menyenggol Chen yang sedang terkekeh karena nada bicara perempuan ini lucu sekali. “Ayolah! Kita sedang di kelas, kenapa ada fan service?”
“Bicara apa kau ini?” tanya Chen sambil menoleh ke belakang sebentar. Seola sempat menatapnya dan dengan segera menunduk membuat adonan. “Berhenti membuat gosip.”
“Cih.”
Sikap apa adanya milik Wendy ini membuat Chen tidak segan untuk menyahut lagi dengan gaya yang santai, aura yang dipancarkan mereka benar-benar jauh dari rasa canggung. Wendy ini selalu punya bahasan untuk menggodanya seperti barusan ketika ia benar-benar murni ingin membantu Seola.
Fan service apanya, coba?
“My Love … there’s only you in my life.”
Chen menoleh ketika Wendy bersenandung barusan, ia sedang sibuk membumbui makanannya. Sesaat ia tersenyum dan berkata, “Suaramu bagus.”
“Tentu saja.” Jawaban penuh percaya diri itu membuat Chen menggeleng-gelengkan kepalanya, Wendy sendiri langsung tersipu karena baru saja menyombongkan diri di depan penyanyi hebat. Dasar tidak tahu malu, pikirnya.
Chen berbalik ke pantry belakang di mana gitarnya tersimpan di sana, sebuah ide muncul di kepalanya sekarang.
“Wendy, kau mau meng-cover lagu barusan denganku?” tawar Chen tiba-tiba sampai membuat Wendy yang sedang mencicipi kimchi miliknya langsung tersedak. Sontak hal itu membuat perhatian seisi ruangan jatuh padanya.
Chen jelas kelabakan mencari air minum dan memberikannya pada Wendy. “Mana mau? Senandungku disandingkan dengan penyanyi hebat sepertimu?! Jangan bercanda!”
“Hayo, kalian mengobrol di kelasku?” tanya Irene berkacak pinggang. Chen jadi malu sendiri karena baru saja menciptakan keributan. Ia membungkuk minta maaf dan mencubit pelan pipi Wendy.
Dasar, tenang sedikit memangnya susah apa?
× ARC EN CIEL ×
Tapi pada akhirnya Wendy menyetujui ajakkan Chen tadi, kesempatan belum tentu datang dua kali. Wendy ini sebenarnya memang suka menyanyi, bidangnya memang ada di sana. Keributan di kelas tadi hanya candaannya saja.
Sepulang dari kelas, mereka memilih pinjam dapur Irene ini untuk sehari saja. Untung ‘kan Chen ini jadi saudaranya?
“Tapi bukannya kau bilang ada menu tambahan sepulang kelas dengan Chef?” tanya Chen mengambil kursi dan mengeluarkan gitar dari tasnya.
“Keinginanku untuk bernyanyi lebih besar untuk sekarang, hehe. Sudah sejak lama aku hanya terus menyenandungkan bumbu-bumbu masakan di dapur,” jawabnya membuat Chen tergelak. “Bawang putih dan merah, bawang putih dan merah, jangan lupakan bombanya~ bawang-bawang yang enak~”
Lagu Selamat Ulang Tahun itu diganti liriknya dan Chen merasa hal ini unik. Suara Wendy juga bagus, sepertinya memang dia suka menyanyi.
“Terus kenapa kau ikut kelas memasak? Aku pikir kau berusaha sekeras ini untuk belajar jadi Chef,” kata Chen mulai memetik gitar dan menyesuaikan senarnya.
Dengan senyum lebarnya Wendy menjawab, “Kalau masak itu ‘kan kemampuan yang wajib dipelajari perempuan!”
Chen ikut tersenyum lebar, gemas sekali rasanya. Sampai tangan yang awalnya ada di atas senar kini beralih mengacak rambutnya sampai sedikit berantakkan. Wendy mematung sebentar … selanjutnya terkekeh malu.
Chen sendiri? Ah, dia baru saja merutuk tentang apa yang dilakukannya barusan. Untung saja Wendy tidak menunjukkan gestur canggung, kalau iya? Pasti Chen akan sangat bingung mencairkan suasananya.
Chen … sepertinya kau harus lebih bisa mengontrol rasa gemasmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arc En Ciel
Fanfiction[FICLET] [SONGFIC] [EXO 04] Umpamamu adalah pelangi. Hanya itu yang aku pikirkan saat kita menghabiskan waktu selama seminggu ini. - Kim Jongdae.
