Sebut saja dia dengan nama Ada.
Dia berjalan menyusuri jalanan sepi yang membelah rumah - rumah bertingkat berlapis besi dan beton sebagai Pagarnya.
Ada memperhatikan setiap rumah yang dia lewati. Hati dan Akal berdiskusi seru di dalam dirinya.
Akal ngotot bahwa kehidupan di dalam rumah-rumah itu pasti berjalan dengan bahagia. Alasannya dengan rumah itu mereka dapat aman dari kejahatan yang dapat menghancurakan rumah-rumah kecil nan reyot di pinggir sungai disana. Dengan rumah itu, mereka dapat menyimpan banyak uang dengan aman. Di dalam rumah itu pula, mereka dapat mengumpulkan seluruh keluarga dalam satu tempat tanpa perlu berdesakan.
Ada merasa pendapat Akal benar. Rumah-rumah ini memenag terlihat seperti yang dikatakan Akal. Ada mengangguk tanda setuju. Akal memang benar.
Hati dengan bijak menolak pendapat Akal. Hati mengaggap Akal terlalu naif. Hati tahu, tidak semua hal dapat dinilai dari permukaannya saja. Beberapa terkadang perlu dilihat lebih jauh ke dalam. Hati juga tahu, besarnya ukuran rumah-rumah itu tetap tidak dapat mengobati rasa takut dari para pemiliknya. Mereka masih takut akan dicuri uang milik mereka, mereka masih takut akan kedatangan pencuri di dalam rumah mereka, mereka masih merasa takut -walau ditambah dengan penjaga yang banyak- akan hilangnya harta benda mereka.
Hati melanjutkan. Dalam hal mengumpulkan orang banyak, rumah-rumah itu memang bisa diandalkan. Tetapi masalahnya, apakah ada orang lain yang datang mengunjungi rumah-rumah itu?. Tidak, tidak ada orang yang akan datang. jika memang ada, pastilah hanya segelintir orang saja yang jumlahnya dapat dihitung jari.
Bagaimana bisa begitu? Itu semua karna para pemilik rumah-rmah itu terkena penyakit yang bernama individualisme. Oleh karna itu pula, mereka membangun rumah-rumah bertingkat ini. Mereka tak memercayai tetangga sebelah rumah mereka sendiri, mereka tak memercayai sahabat dekat mereka sendiri, mereka tak memercayai penjaga-penjaga yang mereka bayar sendiri. Mereka hanya memercayai sebuah hal, diri mereka sendiri.
Mereka tak peduli tentang nasib orang lain, mereka tak peduli dengan sesuatu yang menimpa orang lain. Mereka semua takkan peduli. Mereka akan selalu memikirkan diri mereka sendiri, tidak kepada orang lain.
Hati tersenyum. puas dengan pendapatnya barusan. Ada memikirkan kata-kata Hati. Sedikit mengada-ngada memang. Tapi Ada tahu bahwa itu bisa saja benar.
Akal berubah berang dengan perkataan Hati. Akal berkata, Bahwa segala sesuatu yang tak terlihat itu tidak dapat menjadi dalil. Dalil harus berasal dari sesuatu yang konkrit serta dapat dilakukan.
Hati hanya tersenyum mendengar perkataan Akal. Karena diacuhkan Hati, Akal bertambah berang.
Akal mengatakan kepada Ada bahwa Hati hanya mengkhayal saja. "Segala yang terlihat adalah kebenaran mutlak. Tidak ada yang seperti dikatakan Hati".
Akal berteriak, "HATI BENAR-BENAR GILA!"
Hati kembali tersenyum menanggapi ocehan Akal. Dengan lembut, Hati membawa Akal berjalan menyusuri kembali jalanan diantara rumah-rumah bertingkat tadi.
Mereka berjalan menyusuri jalan yang mengarah ke tempat tenggelamnya matahari. Di ujung jalan itu, Hati membawa Akal ke sebuah rumah yang paling besar diantara rumah-rumah lainnya. Akal memasang seringai gembira di wajahnya. lantas berkata, "Pemilik rumah ini pastilah orang yang paling bahagia di sini".
Hati lagi-lagi hanya tersenyum mendengar pendapat Akal. Hati terus membawa Akal menuju rumah itu hingga masuk kedalamnya.
Di dalam rumah besar itu, Hati membawa Akal untuk melihat seorang lelaki yang tertawa lepas di atas sofa empuk berwarna hijau. Ketika melihatnya, Akal langsung berkata dengan suara tinggi di depan muka Hati, "KAU SALAH, BODOH!".
Hati tak terpancing dengan kelakuan Akal. Hati hanya tersenyum untuk kesekian kalinya.
Akal dengan sombong tertawa di depan wajah Hati. "Dasar keras kepala", kata Akal. Tetapi karena rasa penasaran Akal yang begitu besar, Akal tetap melihat lelaki itu kembali.
Sebuah bingkai foto -yang semula tergantung di dinding sebelah sana- telah berpindah tempat ke pangkuan lelaki itu. Dia terus tertawa sambil memandanginya. Setelah beberapa lama, tiba-tiba lelaki itu menangis tersedu-sedu. Dia membelai foto itu. Dia meminta maaf kepada foto itu, karna telah membunuhnya dengan tangannya sendiri. Dia rindu dengannya. Dia merasa takut dan kesepian tanpa kehadirannya di rumah besar ini.
Setelah mengatakan seluruh isi hatinya, lelaki itu tetap menangis dengan suara lirih. Akal dan Hati tetap memerhatikan kelakuan lelaki itu. Ketika matahari terbenam sempurna, mendadak lelaki itu berdiri hingga membuat sofa yang didudukinya terjungkal. Wajah lelaki itu berubah marah. Matanya melotot melihat foto di dalam bingkai kayu yang di genggamnya.
Dalam hitungan nafas, lelaki itu telah melempar foto itu ke lantai. Seketika suara pecahan kaca memenuhi rumah itu. Pecahan-pecahan kaca bertebaran di depan lelaki itu, ada yang mengenainya. Beberapa bahkan menciptakan luka-luka yang tidak bisa di bilang kecil. Patahan-patahan kayu berterbangan ke segala arah , bahkan salah satu potongan itu hampir mengenai Akal.
Foto itu tergeletak diantara pecahan kaca dan serpihan-serpihan kecil kayu milik bingkai miliknya dulu. Lelaki itu menatap tajam foto tersebut. Lelaki itu masih tetap menatapnya hingga beberapa menit setelahnya.
Kemudian lelaki itu mulai melangkah mendekati foto itu, kakinya terluka setiap kali dia menginjak pecahan-pecahan kaca yang berserakan di depannya. Dia tetap terus melangkah walau setiap itu pula kakinya menjadi semakin terluka.
Lelaki memungut foto itu. Dia membersihkan kotoran dari foto itu. Lelaki itu membelai foto itu lagi. Lantas merobeknya hingga menjadi kecil dalam hitungan detik dengan kasar.
Lelaki itu mengumpulkan semua robekan-robekan itu kedalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat. Wajahnya berubah datar setelah menelan robekan-robekan itu dan terdiam mematung seketika.
Akal menelan ludah. Keadaan tiba-tiba menjadi canggung dikarenakan lelaki itu masih mematung setelah beberapa menit, dia menoleh kepada Hati meminta penjelasan. Dengan lembut, Hati berbisik di telinga Akal, "belum berakhir".
Akal terkejut. "Belum berakhir?", gumamnya.
Dengan enggan dia kembali menoleh untuk melihat apa lagi yang akan di lakukan lelaki gila itu.
Lelaki itu masih dalam keadaan yang sama, tak ada yang berubah. Beberapa detik kemudian tiba-tiba tangan lelaki itu bergerak turun ingin memungut sesuatu. Tangan itu kemudian memungut sebuah pecahan kaca. Lelaki itu memandangi kaca itu sambil tertawa. Dia terus tertawa. Sejurus kemudian, lelaki itu menangis. Kaca itu diangkatnya tinggi-tinggi lalu dihujamkannya kuat-kuat kearah dadanya. Darah hangat kehidupan memancar deras dari lubang yang ada di dadanya. Di setiap darahnya yang keluar, dia mengucapkan. Aku minta maaf, Aku minta maaf, Aku minta maaf, Aku minta maaf, Aku minta maaf...
Lelaki itu meninggal di atas genangan darah dan kencingnya sendiri. Tanpa seorang pun yang berduka akan kematiannya. Tanpa ada seorang pun yang peduli.
Akal dibuat ternganga oleh kejadian tadi. "Cepat sekali, katanya". Hati tersenyum melihat Akal. Kemudian seseorang menepuk pundak Akal. Akal berbalik, ternyata Ada telah mengikuti mereka hingga ke sini. Ada juga telah melihat kejadian itu dari awal. Ada menggeleng lalu berkata kepada Akal. "Sepertinya kau takkan pernah bisa menyaingi Hati".
KAMU SEDANG MEMBACA
NEBULA
No FicciónAntologi cerita pendek maupun coretan hasil produksi nebula yang tak berujung bersemayam di ruang kepala penulis sejak tahun 2018 hingga waktu terkini sebagai museum dan gudang menaruh aspirasi dan segala tulisan yang terlintas dan tumbuh sebelum la...
