Kami berdua berlari menghindar dari amuk massa. Orang-orang itu membawa segala hal yang bisa dijadikan senjata. Ada yang membawa pisau dapur, gunting, tongkat golf, hingga sapu lantai bergagang besi.
Kami terus berlari menyusuri gang-gang sempit yang kami temui. Hebatnya, kami selalu bisa ditemukan oleh mereka. Bahkan beberapa kali hampir tertangkap.
Kami terus berlari. Hampir seluruh kota kami hampiri untuk mencari tempat perlindungan yang aman. Terkadang kami menyambangi pintu-pintu rumah yang kami lewati. Beberapa penghuninya bersimpati. Tapi melihat massa yang mengejar kami, mereka ketakutan dan kembali menutup pintu mereka seketika itu juga. Ya, inilah yang terjadi dengan kami. Inilah yang terjadi di dunia tanpa kasih sayang.
Sebuah kelokan terlihat olehku. Sambil tetap berlari aku memberitahu Reina dan menariknya menuju kelokan tersebut. Aku berpaling, massa yang mengejar kami masih lumayan jauh tertinggal di belakang. Aku mencari tempat yang dapat dijadikan tempat bersembunyi.
Beruntung sebuah pintu muncul di kananku. Dengan cepat aku kembali menarik lengan Reina masuk ke dalam pintu dan menutupnya kembali.
Untuk sementara waktu, kami dapat bernafas dengan lega.
Setelah aku perhatikan baik-baik, ternyata ruangan yang kami masuki adalah sebuah gudang yang telah lama ditinggalkan. Memang sedikit gelap di sini, tapi ruangan ini sudah lebih dari cukup untuk bersembunyi.
Sebuah tangan menggenggam lenganku di kegelapan. Tangan itu terasa dingin dan berkeringat. Setelah beberapa saat mataku menyesuaikan dengan kegelapan, aku dapat melihat dengan jelas wajah Reina. Dia ketakutan setengah mati. Aku rangkul dia dari samping dan menariknya mendekat denganku.
"Apakah kita aman?" Katanya dengan nafas memburu.
"Untuk sementara waktu, kita aman" jawabku.
Aku membelai rambutnya yang basah oleh keringat. Dia mengangkat wajahnya untuk memandangku, aku membalas tatapannya.
"Ada apa?" Tanyaku heran.
"Apakah hal ini benar?" Dia balas bertanya.
"Tentu saja benar" Jawabku.
"Lalu mengapa orang-orang itu mengejar kita. Ingin membunuh kita"
Dia menangis. Air mata berjatuhan menyusuri wajah cantiknya. Aku memeluknya, dia membalas pelukanku. Sekarang dia menangis di dadaku.
"Jangan khawatir. Mereka hanya iri dengan kita. Mereka tak pernah mengenal apa itu kasih sayang, tapi kita mengenalnya. Mereka layaknya robot, tak memiliki perasaan. Tapi kita memilikinya. Jangan khawatir, api ini akan padam sebentar lagi" Aku berusaha meyakinkannya.
Oke, aku ingin bercerita sejenak mengenai penyebab masalah ini darimana asalnya. Mungkin perlu waktu yang cukup lama. Tapi ini penting untuk meluruskan pandangan kalian kepada kami.
Kemarin pagi, aku mengendarai skuter elektrik milikku bersama Dall ̶Private Assisstance milikku-. Kami sedang menuju kantorku yang berjarak sekitar dua kilometer dari apartemenku.
Di sepanjang jalan, Dall selalu mengoceh tentang laporan harian yang dia buat. Dall adalah hadiah dari ibuku. Saat ibuku sudah ingin pergi, dia berpesan kepada Dall agar menjagaku setelah dia tiada. Karena itu, Dall sedikit cerewet tentang hal-hal yang terkait keselamatan dan kebersihanku.
Dengan dua rotor mungilnya, Dall terbang di sampingku. Membacakan laporan keuangan milikku kemarin.
"Dall, apakah kamu dapat menghentikan itu sekarang?" Tanyaku memohon.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEBULA
Non-FictionAntologi cerita pendek maupun coretan hasil produksi nebula yang tak berujung bersemayam di ruang kepala penulis sejak tahun 2018 hingga waktu terkini sebagai museum dan gudang menaruh aspirasi dan segala tulisan yang terlintas dan tumbuh sebelum la...
