Bagian 5

2.3K 206 8
                                        

Bruk!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bruk!

"Ya allah Haru!"

Argh!

Remaja itu meringis kesakitan kala kulit tangannya terluka akibat jarum infus yang tercabut secara paksa sebab dirinya tiba-tiba terjatuh dari atas brangkar. Salahkan dirinya yang nekat bangkit dari pembaringan padahal tenaganya belum benar-benar kembali.

"Haru, kamu nggak apa-apa, Sayang?" Indira segera berhambur meraih bahu putranya. Namun, Haru menepis tangan tersebut.

Hadi melepas cengkraman tangannya dan membiarkan anak pertamanya. Pria paruh baya itu langsung berhambur ke lantai saat matanya melihat sang anak sudah tersungkur dengan tangan mengeluarkan darah. Hadi bergegas meraih tubuh sang anak mencoba membantunya untuk kembali brangkarnya. Namun, belum sempat tangannya menjamah sang putra penolakan sudah ia terima.

"Tangan kamu berdarah, Sayang."

"Aku nggak apa-apa asal Papa jangan usir Kak Rada," mohon Haru disela-sela ringisannya.

Hadi mengerang dalam hati. Belum selesai amarahnya terhadap putra pertamanya, putra keduanya justru menolaknya mentah-mentah.

"Kamu bahayain diri kamu sendiri cuma demi dia, manusia nggak berguna itu! Kamu mau mati! Ha?" Bentak Hadi dengan nada tinggi.

Rada mencelos. Membuang pandang kosongnya berlawanan arah. Menghalau sesak yang kembali ia dapatkan. Meski ini bukan kali pertama baginya mendengar kalimat semacam itu dari kedua orangtuanya, namun ucapan Hadi kali ini tepat menohok perasaan. Terlebih lagi Hadi membentak sang adik yang mempertahankan hadirnya.

"Argh!"

Dengan napas terengah-engah Hadi mengusap wajahnya kasar. Menyadari bahwa barusan ia membentak putra kesayangannya yang tengah kesakitan. Tak kuasa melihat mata memerah sang putra, Hadi memilih berlalu. Meninggalkan kamar rawat putranya sebelum emosinya benar-benar meluap lebih parah.

Indira mengekor dari belakang. Menenangkan suaminya adalah pilihan terbaik sekarang daripada menolong putranya yang kesakitan. Karna emosi Indira juga sama seperti emosi sang suami saat ini. Menyisakan Rada dengan Haru yang meringis di atas ubin.

"Bodoh!" Cerca Rada.

Kepala yang semula menunduk kontak saja terangkat cepat. Menampakkan wajah sendu Haru yang malah dapat umpatan dari sang kakak.

"Kak Rada," lirihnya. Kedua tangannya masih setia bertautan. Menghalau darah yang keluar dari punggung tangannya.

"Mestinya kamu nggak perlu ngelakuin hal bodoh seperti itu. Akhirnya, Papa marahin kamu, 'kan? Dasar anak bodoh!"

Mata sayu itu semakin meredup. Memejam  dengan menundukkan kepala-menetralisir rasa panas yang menjalar di kedua netranya. Namun, selang beberapa detik kemudian tangan besar tampak bertengger pada bahunya. Mengusapnya pelan, menyalurkan kenyamanan.

Description (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang