Bagian 10

1.2K 75 3
                                        

Haru kembali ke kamarnya. Usai percakapannya dengan Rada selesai dia kembali terduduk dimeja belajar kamarnya. Suasana kamar yang begitu ia rindukan. Dadanya terasa begitu sesak, susah payah Haru menghirup udara di sekelilingnya.

"Payah," umpat Haru tatkala udara susah ia peroleh. Dia meletakkan kepalanya asal di atas meja belajarnya.

Setelah berjuang untuk bernapas normal lagi Haru kembali mengangkat wajahnya. Meski masih terasa berat tapi dadanya sedikit mereda. Haru buru-buru meminum beberapa butir obatnya. Setelahnya dia menelan mentah-mentah butir pil obatnya tanpa bantuan air.

Kepalanya kembali berdenyut akan tetapi bukannya beranjak untuk ke kasurnya. Haru justru mengambil pena juga buku di atas mejanya dan mulai menulis.

Disisi lain Indira selesai merapikan beberapa barang yang ia bawa dari rumah sakit. Memisahkan baju kotor dan yang masih bersih. Indira selesai. Dia bergegas untuk melihat sang putra di kamarnya. Namun, belum juga sampai langkahnya tertahan oleh suara sang suami tiba tiba.

"Mau kemana, Ma?" tanya Hadi pada Indira.

"Lihat Haru udah tidur apa belum."

"Biar aku aja." Hadi bangkit dari duduknya. Meletakkan begitu saja laptop miliknya.

Sesampainya di kamar sang putra, Hadi yang disusul Indira sudah menemukan Haru tertidur dengan kepala bertumpu di atas meja belajar.

Dimas menghampiri. Mengecek suhu badan juga ritme napas Haru. Semuanya nampak baik-baik saja. Meski berat napas Haru terdengar teratur. Meski dalam lelappun Haru masih terlihat amat pucat.

"Kebiasaan. Tidur asal nempel," ujar Hadi.

"Mirip kamu 'kan, Mas. Pelor. Dikit-dikit tidur. Nggak tau tempat," ejek Indira yang duduk disisi ranjang putranya.

Hadi mendengus. Memang benar. Dulu jaman mudanya Hadi memang gampang sekali tertidur tidak tahu tempat. Tapi itu dulu. Sekarang, semenjak memiliki seorang anak Hadi banyak berubah.

Kemudian Hadipun mengangkat tubuh Hari untuk dibaringkan ke kasur sang anak. Indira merapikan meja belajar Haru. Tapi sebelumnya Indira sempatkan untuk membaca tulisan hasil buah tangan putranya.

Tuhann, aku mau mati aja. Semuanya rasa sakit. Terlebih setelah tahu kalau Kak Rada ternyata bukan kakak kandung aku. Meskipun pada kenyataannya memang Kak Rada bukan kakak kandungku, kenapa Mama sama Papa nggak pernah mau bilang ke aku?

Mereka malah siksa Kak Rada, mereka malah jauhin aku sama Kak Rada.

Jadi sekarang aku udah tahu alasan mereka benci sama Kak Rada. Karna dia bukan anak kandung mereka?

Sebenernya aku masih mau berjuang Tuhan, tapi aku rasa tubuh aku udah nggak sanggup lagi. Sakit banget.

Tapi sebelumnya aku nggak mau mati dengan percuma. Aku mau ngasih hadiah terindah buat Kak Rada. Sosok yang selalu ada buat aku dan tetap sayang sama aku. Mungkin bagian tubuhku udah nggak ada lagi yang bisa dibutuhkan untuk Kak Rada terkecuali satu. Yakni, mataku.

Aku mau ngasih mataku buat Kak Rada aku----

Tulisan itu terhenti begitu saja. Nampaknya coret yang tergambar terakhir menunjukkan Haru yang tidak kuat lagi menahan kantuknya. Indira menutup buku itu tiba-tiba. Indira membeku, pandangnya beralih kembali ke meja belajar Haru dan menemukan sebuah kartu pendonor organ dalam.

Mengingat kalimat terakhir yang Haru tulis Indira pun seketika ambruk. Hadi yang masih berada di sisi ranjang Haru pun beranjak menghampiri sang istri yang hampir saja ambruk ke lantai.

"Mama kenapa?" tanya Hadi cemas.

"Ha-Haru, Mas."

"Haru kenapa? Haru baik-baik aja, Ma. Dia nggak kenapa-kenapa. Dia udah gak demam kamu tenang aja." Hadi mengusap lengan Indira. Menenangkan.

Indira menyodorkan buku Haru dan Hadi pun membacanya. Hadi baru mengerti sekarang. Dia sama halnya dengan sang istri. Lemas dan merasa putus asa. Hadi berhambur memeluk tubuh sang istri sedangkan Indira sudah menangis di pelukan Hadi.

"Mungkin udah saatnya kita belajar ikhlas dari sekarang."

"Tapi aku nggak mau! Aku mau Haru sembuh," rancau Indira.

"Mama, dia udah berjuang selama ini. Bukannya sembuh kita justru menyiksa Haru, Ma."

Indira terdiam. Dia makin keras menangis. Memukul dada Hadi dengan brutal. Sedangkan Hadi terus menenangkan sebisa mungkin. Dalam pejamnya, meskipun samar Haru masih bisa mendengarkan percakapan kedua orangtuanya. Namun, kantuk lebih mendominasi. Membuat matanya enggan terbuka guna mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Rada tidak pernah tuli. Telinganya begitu jeli. Dan anehnya secara tidak sengaja ia selalu mendengarkan percakapan orangtuanya mengenai kondisi Haru yang semakin hari semakin memburuk.

Kaku. Rasanya Rada kehilangan fungsi kakinya. Ia tertahan tepat di depan pintu kamar Haru. Membeku dengan tangan mencengkram gagang pintu dalam diam.

Mata?

Haru mau mendonorkan mata untuknya?

Rada menggeleng ribut. Memutar langkahnya guna kembali ke kamarnya. Baiknya memang dia yang menghilang dari rumah ini. Bukan Haru yang harus terus berkorban untuknya.

Lebih baik dia yang mati. Jangan Haru.

"Mas Rada."

Pintu terketuk. Menampilkan sosok Bik Rumi masuk ke dalam kamar gelapnya.

Rada menoleh. Menatap Bik Rumi meski tidak tepat.

"Bibik buatin Mas Rada teh hangat. Diminum ya, Mas." Bik Rumi meletakkan gelas di atas nakas. Yang dibalas anggukan oleh anak majikannya.

"Makasih ya, Bik."

"Mas Rada istirahat. Muka Mas Rada kelihatan pucet. Kasian Mas Haru kalo sampek Mas Rada sakit."

"Muka aku pucet, Bik?"

"Iya. Makanya itu Bibik buatin teh hangat buat Mas Rada. Bibik juga bawain obat buat Mas Rada."

Rada mengulas senyum manisnya. "Sekali lagi terima kasih, Bik."

"Yaudah jangan lupa diminum ya, Mas. Bibik permisi keluar dulu."

"Iya, Bik."

Setelah kamar kembali hening. Rada meraba-raba nakasnya. Menemukan teh hangat juga beberapa pil obat di sana. Bersyukur masih ada Bik Rumi.

Tbc


Description (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang