Gelap menjadi kawannya sejak kecil. Semua orang mengucilkannya seperti seekor kucing yang sudah tak lagi diharapkan.
Namun, dimataku dia istimewa. Dalam sejarah hidup, dia satu-satunya manusia yang paling membenci hari besarnya, yakni hari ulang ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
- - - Breaking News!
Kecelakaan lalu lintas melibatkan 4 mobil pribadi dan 1 bus besar terjadi di jalan tol lingkar selatan Daejeon, Korea Selatan. Senin 30 Maret 201x pukul 00.09 KST.
---
Telinga kecilnya bergerak pelan saat suara sirine dari luar menarik kembali kesadarannya. Sesak, perih dan sakit, itulah hal yang perlahan mulai menyambangi tubuh kecil Rada yang baru saja kembali tersadar. Ia rasa tubuhnya terhimpit sesuatu dari belakang, atas, dan juga bawah. Namun, tubuh besar seseorang seolah melindungi dirinya dengan cara memeluknya erat. Rada meringis dan menangis kala denyut di kepalanya menyiksa dengan tiba-tiba. Padahal Rada baru bergerak sedikit.
Bocah kecil itu meraung seorang diri. Menangis sekencang-kencangnya, berharap ada seseorang yang datang menolong mereka. Sungguh, rasanya ini sangat menyiksanya. Terlebih lagi tengkuk lehernya yang seperti terjepit diantara kepingan remuk bagian mobil tersebut.
"Oma, Opa," panggil Rada berulang kali.
Sosok yang memeluknya tak bergerak barang sedikitpun. Kendati tubuhnya meronta, minta dilepaskan. Bau amis menyeruak, memenuhi rongga hidung Rada yang masih kepayahan untuk bernapas. Bahkan tetes-tetes air berwarna merah turun bagai hujan, melewati pelipis dan berakhir mengotori bajunya.
Rada kecil semakin menangis, tangannya bergerak lemah berusaha melepas tangan yang masih memeluk tubuhnya kuat. Hingga suara pintu mobil yang sudah remuk terdengar terbuka, membuat kepala kecilnya berusaha menengadah meski sangat sulit baginya.
Samar, dua orang berbaju terang mengulurkan tangan ke arahnya. Berharap jari mungilnya bisa menggapai tangan tersebut lalu menggenggamnya. Namun, jangankan meraih, melihat saja Rada mulai kesulitan. Semua yang tadinya terlihat jelas perlahan mengabur dan memburam. Hasilnya hanya udara kosong yang mampu tangan mungilnya gapai.
Butuh waktu hampir satu jam untuk membebaskan Rada kecil yang terhimpit badan mobil. Wajah imut itu sudah penuh dengan lumuran darah. Baik itu dari lukanya maupun dari darah sang oma yang melindunginya.
Kini mata kecilnya sudah menutup sempurna. Sakitnya makin menjalar, memenuhi tiap inci bagian tubuhnya. Hingga terasa dua tangan sukses mengangkatnya lalu merebahkannya pada brangkar yang kemudian di dorong dengan tergesa-gesa. Setelahnya, tak ada lagi cahaya ataupun suara yang mampu ia tangkap karna hitam lebih pekat menerjangnya.
Tamparan keras langsung menyambutnya kala tersadar. Melukis jejak merah dipipi gembilnya yang seputih salju itu. Suara makian beradu dengan isakan tangis saling bersahutan. Memojokkan si kecil yang bahkan tidak tahu apa salahnya.
"Anak pembawa sial! Dasar pembunuh!"
Rada menggeleng. Siapa yang ia bunuh? Bahkan dia baru saja sadar dari masa komanya. Lalu bagaimana caranya membunuh kalau tubuhnya saja tergeletak tak berdaya di ruang ICU selama 4 bulan?