Bagian 12

1.5K 122 12
                                        

"Kamu itu bukan anak kandungku!"

Teriakan Indira begitu nyaring membelah keheningan yang beberapa menit lalu tercipta. Indira naik darah mengingat ucapan terakhir yang keluar dari bibir putranya.

"Mama boleh benci aku karna aku buta, tapi tolong anggap Rada sebagai anak kandung, Mama," ucap Rada terisak.

Selama ini pengakuan dari kedua orangtuanya memang tidqk pernah Rada dengar sedikitpun. Tapi sekarang malah Indira terang-terangan mengatakan kalau dia bukan anak kandung Hadi dan Indira

"Tapi kamu memang bukan anak saya!" ucap Indira penuh penekanan.

"Jadi benar?" Mata sembabnya menatap lurus kedepan dengan tongkat yang ia pegang erat-erat sedari awal Indira membentaknya tadi.

Sebenarnya Rada sudah mengetahui semuanya. Pertemuannya dengan Fira, ibu kandungnya di rumah sakit kala itu. Awalnya Rada sedikit ragu. Meskipun Fira sudah dengan detail menjelaskan padanya tetap saja Rada belum puas jikalau ia tak mendengarnya langsung dari Hadi maupun Indira. Orang yang selama ini merawat dan menjaganya.

Dan saat ini, waktu penjelasan telah tiba. Semua nya telah terungkap secara jelas. Rada bukan kakak kandung Haru. Itulah yang mengiris kuat hati Rada.

"Jadi kamu sudah tahu?" sinis Indira.

"Waktu di rumah sakit aku nggak sengaja ketemu wanita namanya Fira, dia ngaku sebagai ibu kandung Rada. Awalnya Rada nggak percaya karna bukan Mama yang bilang."

"Kamu itu cuma anak pengganti dikeluarga saya. Kamu itu memang anaknya Fira pengasuh anak pertama saya. Dia gila karna kamu saya rebut paksa darinya. Dia dirawat di rumah sakit jiwa yang mau nggak mau kita harus tetap menjaga dan merawatmu."

"Setelah apa yang ibu kamu lakukan, sekarang kamu mau lakukan apa lagi kepada saya?"

"Mengambil Haru?" isak Indira pecah. Bayangan Haru yang merelakan matanya untuk Rada begitu menekan pikiran juga perasaannya saat ini.

"Enggak, Ma. Bukan mau aku. Aku sayang sama Haru," elak Rada. Dia juga ikut terisak.

Indira kalap. Mendengar suara Rada membuatnya makin membenci anak itu. Anak tidak berguna baginya.

"Apa yang kamu lakukan sama anak saya? Sampai dia mau relain mata dia buat kamu? Ha?!" Indira mendorong kuat tubuh Rada. Membuatnya terjatuh keras di atas lantai keramik rumahnya.

Rada makin terisak, sakit di siku tangannya membuatnya semakin menangis. Tertahan segala kata ditenggorokannya. Lidahnya kelu mendengar isakan pilu dari bibir sang mama.

"Maafin Rada, Ma."

"Buat apa kamu minta maaf? Ha?!"

Rada tak bergeming. Dia masih terisak. "Maafin Rada, Ma," ucapnya yang masih terisak, meraih lengan tangan Indira dengan meraba.

Saat tangannya bertemu dengan milik Indira, Rada buru-buru menariknya dan berharap Indira mau mendengarkannya. Tapi nihil, Indira malah melepas kasar tangan lemah Rada. Sampai tubuh Rada kembali tersungkur dilantai, menambah nyeri perih pada siku tangannya.

Indira berdiri angkuh, merasa risih dengan tangis pilu Rada, Indira menoleh dengan cepat dan hendak menampar Rada. Tapi, tiba-tiba Haru muncul, tubuhnya langsung luruh memposisikan tubuhnya setara dengan Rada. Membuat tamparan Indira mendarat dipipi kiri Haru

"Ha-haru?" Indira kaget. Tangannya bergetar hebat kala pipi Haru terlihat memerah.

"Kakak nggak apa-apa?" Tanya Haru tak menghiraukan Indira juga sakit dipipi kirinya.

Rada menggeleng. Mencoba tenang dihadapan sang adik. Mata Haru beralih memandang Indira yang masih pada posisinya berdiri angkuh tak jauh dari tempatnya. Binar mata Haru langsung bertemu dengan milik Indira. Indira menatap dengan binar yang tak bisa diartikan. Sedangkan Haru menatapnya dengan kilatan penuh amarah.

Description (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang