Pagi telah menyambut. Haru masih asyik dengan alam mimpinya. Semalam dia tidak dapat tidur nyenyak sebab penyakit itu lagi-lagi mengoyak tubuhnya. Tanpa ampun dan tanpa henti. Bahkan Haru saja lupa sampai berapa lama dia bergulat seorang diri di dalam kamar dengan penyakit itu.
Haru mengerang dengan membekap mulutnya sendiri. Meredam suara agar tidak mengganggu dan menimbulkan kekhawatiran seisi rumah. Pagi ini tinggallah badan lesu juga pucatnya yang tersisa.
Rada masuk ke dalam kamar Haru. Duduk di sisi ranjang milik sang adik. Namun, nampaknya pemilik kamar masih tenang dalam lelapnya.
"Haru." Rada menepuk pelan lengan sang adik. Tubuh Haru masih bergulung dengan selimut tebal. Tanpa Rada sadari jikalau Haru yang sedang menggigil.
"Kak-" serak suara Haru menyapa.
"Bangun, Dek. Udah siang."
"Kak-" ulang Haru.
"Iya."
"Sa-kit."
Rasa khawatir langsung menyeruak dibenak Rada. Suara lemah Haru membuat hati rada berdesir kuat.
"Kita ke rumah sakit, ya? Kakak panggilin Mama sama Papa." Sebisa mungkin dia tenang, tidak boleh gegabah apalagi malah menyusahkan seisi rumah.
Baru saja Rada hendak bangkit dari tempatnya, dengan gerakan lemahnya Haru menahan niat Rada. Rada membeku. Tangan dingin Haru yang baru saja menyentuh kulit tangannya seolah membekukan tubuh serta otaknya. Rada hanya menurut kala tangan dingin itu menuntunnya untuk kembali duduk disisi ranjang.
Haru bangkit dari pembaringannya dan langsung berhambur memeluk Rada. Hangat tubuh Rada memberi kenyamanan tersendiri bagi Haru. Aroma tubuh Rada yang begitu Haru sukai menyeruak dipenciumannya.
Tangan ringkih itu memeluk erat leher Rada. Sedangkan Rada hanya diam tetap membeku. Membiarkan sang adik mencari kenyamanan dalam pelukannya. Hawa panas dari tubuh Haru mendominasi tubuh Rada sekarang. Ditenggelamkannya wajah pucat itu dileher sang kakak. Napasnya terasa panas kala mengenai kulit leher Rada.
Perlahan Rada melepas tongkat yang sedari tadi ia pegang. Tangannya beralih menyentuh rambut belakang Haru. Memberikan kenyamanan lebih lagi bagi Haru. Haru suka itu. Dia suka dimanja Rada. Terlebih lagi sentuhan tangan Rada memang titik segala kenyamanan Haru.
"Kamu panas, Ru," bisik Rada. Tubuhnya semakin merasakan hawa panas dari sang adik. Tapi, Haru tak bergeming. Dia tetap asyik dengan dekapannya pada sang kakak.
"Ke rumah sakit, ya?" lagi Rada berbisik.
Kali ini Haru sedikit menjauhkan tubuhnya dari Rada. Tanpa melepas pelukannya Haru berucap lirih, "Haru cuma mau sama Kak Rada begini terus."
Kembali Haru memeluk erat Rada. Kini wajahnya ia sembunyikan dibalik dada bidang sang kakak.
"Ru, Kakak nggak mau kamu kenapa-napa. Nurut, ya?"
Haru menggeleng. Dekapannya semakin erat. Rada makin tidak punya kata-kata lagi untuk membujuk Haru. Pasrah, Rada menuruti kemauan sang adik. Berharap setelah ini kondisinya membaik.
---
"Susah banget dibilangin ya?" omel Indira kepada sang adik. Sedangkan Haru masih saja menutup mulutnya. Menghalau niat mamanya yang hendak memasukkan sesuap bubur kemulutnya.
"Makan dikit, Sayang. Biar bisa minum obatnya. Jangan bandel dong kalo dibilangin," bujuk Indira kembali. Indira masih tak gentar terus membujuk Haru makan. Pasalnya hingga malam hari Haru belum juga memakan sesuap nasi pun. Apalagi minum obat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Description (Tamat)
Teen FictionGelap menjadi kawannya sejak kecil. Semua orang mengucilkannya seperti seekor kucing yang sudah tak lagi diharapkan. Namun, dimataku dia istimewa. Dalam sejarah hidup, dia satu-satunya manusia yang paling membenci hari besarnya, yakni hari ulang ta...
