Hari berlalu begitu cepat. Ini adalah kemoterapi ketiga untuk Haru. Anak itu kini mendekam di ruang steril. Ruangan khusus baginya yang hanya memperbolehkan orang yang hendak masuk menjenguknya harus memakai pakaian khusus, penutup kepala juga masker sebelumnya.
Anak itu terlihat semakin hari semakin kurus. Wajahnya terlihat semakin pucat tanpa binar. Matanya senantiasa terpejam erat kala obat-obat kemoterapi mulai masuk ke dalam tubuhnya. Membuatnya meringis sesekali hingga kernyitan didahinya jelas tercetak.
Selama itu juga Rada tidak diberi kesempatan Hadi juga Indira untuk melihat Haru. Beberapa kali sudah Haru menanyakan Rada namun, selalu ditepis oleh kedua orangtuanya.
Haru butuh Rada sebenarnya. Tapi kenapa orangtuanya seakan menjauhkannya dari sang pemberi kekuatan?
Hingga akhirnya bayangan sosok Rada terngiang jelas dalam ingatan Haru. Membuat sudut bibirnya melengkung mencetak senyum sebelum akhirnya matanya terpejam dan ia pun terlelap menikmati kemoterapi sambil terus bermimpi.
---
Hadi yang ada disisi pembaringan putranya buru-buru meraih tangan Haru. Perlahan kedua mata itupun terbuka. Mengerjap beberapa kali menetralkan cahaya yang masuk tiba-tiba.
"Papa," ucapnya lirih.
"Kamu udah sadar, Nak?"
"Papa."
"Iya?"
"Aku mimpi."
"Hm?" jawab Hadi heran.
"Haru mimpi sekolah, Pa."
Tangan Hadi terulur mengusap lembut surai hitam milik sang putra. "Haru pingen sekolah lagi, ya?"
Haru mengangguk lemah seraya mata sayunya menatap ke arah Hadi.
"Makanya kamu harus sembuh." Yang hanya dibalas sang anak dengan kedipan lemahnya.
"Haru udah sadar?" ujar Indira yang baru saja masuk ke ruangan sang anak.
Atensi keduanya pun beralih ke arah Indira. Sang suami tampak senyum menatap sang istri. Sedangkan Haru masih lemas dan pucat.
"Mama," lirih Haru. Indira berdiri di sisi sebelah ranjang sang anak. Mengusap lembut dahi Haru yang masih terasa hangat.
"Ada apa sayang? Mau sesuatu?"
"Pulang, Ma."
"Kamu baru aja sadar mana mungkin boleh pulang," sambut Hadi cepat.
"Papa," sela Indira penih penekanan.
"Tapi Ma, Haru baru aja sadar."
Bukannya menjawab Indira justru tidak mengacuhkan sang suami begitu saja. Ia kembali menatap mata sayu sang putra.
"Nanti Mama bicara sama Dokter dulu ya? Kalo Dokter Danu ngizinin, hari ini juga kita pulang," ujar Indira tenang.
Senyum Haru terukir manis menghias wajah piasnya. Membuat hati Indira menghangat penuh harap. "Makasih, Ma."
"Kamu pasti kangen rumah ya?" Haru mengangguk lemah sebagai jawabannya. Bukan hanya rumah dan suasananya saja yang Haru rindu tapi, Rada adalah alasan utamanya. Dia sangat rindu bermanja dengan kakak idamannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Description (Tamat)
Novela JuvenilGelap menjadi kawannya sejak kecil. Semua orang mengucilkannya seperti seekor kucing yang sudah tak lagi diharapkan. Namun, dimataku dia istimewa. Dalam sejarah hidup, dia satu-satunya manusia yang paling membenci hari besarnya, yakni hari ulang ta...
