Bagian 4

2.2K 184 4
                                        

Malam memang selalu sunyi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam memang selalu sunyi. Dingin melengkapi menambah kesan sendu yang kadang menenangkan batin yang sudah seharian berkecamuk dengan kerasnya kenyataan. Namun, malam tak selalu sama. Malam tak selalu menenangkan. Sendunya juga kerap mengundang air mata.

Seperti malam ini, sepasang suami-istri tengah menunduk rapuh duduk di depan sebuah ruangan Unit Gawat Darurat. Sedang di dalam sana beberapa orang tengah berusaha menyelamatkan harta berharga keduanya. Indira menangis di pelukan sang suami. Hatinya berdesir kuat kala mata kepalanya harus menyaksikan putra kesayangannya bertarung dengan penyakit sialan itu.

Di sisi lain Rada berdiri sedikit jauh dari keduanya. Raut wajahnya tak jauh berbeda dengan kedua orangtuanya. Dengan memegang erat tongkatnya juga wajah tertunduk Rada tak lelahnya merapalkan doa untuk sang adik. Satu-satunya orang yang menyanyanginya juga menganggapnya ada.

Hingga dengan tiba-tiba seseorang menampar keras pipi kanannya. Membuat Rada yang tidak tahu meringis, merasakan perih pada pipi kanannya. Dengan amarah Indira menghampiri Rada yang terduduk tak jauh dari tempatnya dan langsung menamparnya.

"Ini semua gara-gara kamu! Anak nggak berguna!" Teriak Indira memecah keheningan di sana.

Rada menangis di tempat, terisak pelan dengan satu tangannya mengusap pipinya. Dia merasa aneh disalahkan oleh sang mama sedangkan dia sendiri tidak tahu dimana letak kesalahannya.

"Berdiri kamu! Gantiin posisi Haru sekarang juga. Sana!" Lanjut Indira dengan sedikit mendorong keras tubuh Rada.

Rada tersungkur di atas lantai. Wajahnya menunduk dan semakin terisak. Sedangkan tongkatnya terlempar entah kemana.

Saat Rada berniat merangkak guna mencari tongkatnya, tangannya tertahan oleh satu tangan kuat. Indira menarik keras tubuhnya untuk berdiri dan berucap, "Harusnya kamu bisa diandelin buat jaga Haru, bukan malah nyelakain dia!"

"Ma-af, Ma. aku juga nggak tau kalo Haru kambuh di kamarnya. Aku masuk tiba-tiba Haru udah collaps. Aku minta maaf," ucap Rada sembari terisak.

"Emang dasar anak nggak berguna! Cacat! Kenapa bukan kamu aja yang di dalam sana! Kamu seneng kan dengan kondisi Haru sekarang?"

Rada sontak menggeleng kuat. Sama sekali tak ada rasa senang dalam hatinya dengan kondisi sang adik saat ini. Justru yang Rada rasakan jiwanya hilang setengah.

Dengan kasar Indira lagi-lagi mendorong tubuh Rada hingga tersungkur. Tangisnya semakin menjadi ketika didengarnya langkah keduanya menjauh meninggalkannya begitu saja. Lagi-lagi ia disalahkan atas kondisi sang adik yang memburuk. Seakan memang sebabnya sang adik tersiksa.

Description (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang