CH 13, JUST...SAD

460 69 3
                                    

Tzuyu segera menepis tangannya dari tarikan tangan Taehyung. Mereka berdua terhenti.

"Apa? Kamu masih mau tidur dikelas? Sampai kapan?"

Taehyung memandangi Tzuyu dengan heran sekaligus bingung. Tzuyu menarik bibir bawahnya gemetar. Entah perlakuannya ini pantas atau tidak, rasanya Ia akan segera berteriak sebentar lagi.

Aku sudah sering melakukannya. Bahkan orang-orang tak memperdulikanku. Dia bukanlah orang baru yang bisa bersikap tiba-tiba seperti ini padaku seenaknya.

Bahkan karenanya Aku mendapat masalah, tak puaskah Ia membuatku merasa terancam?

Tzuyu dan Taehyung langsung menjadi pusat perhatian siswa-siswa disekitar gerbang. Tzuyu mundur perlahan sambil beberapakali melirik kekanan dan kekiri. Gadis itu. menunduk dengan tubuh agak gemetar.

"Chou Tzuyu... " panggil Taehyung melihat tingkah Tzuyu yang terlihat seperti ketakutan akan sesuatu.

Sedetik kemudian Tzuyu pergi, berlari meninggalkan Taehyung jauh dibelakangnya. Taehyung menatap bingung kearah punggung Tzuyu yang  semakin menghilang dari pandangannya.

Ada apa ini?
Kenapa semuanya berubah tanpa seizinku?
Apa yang membuat mereka seakan melihatku untuk pertamakalinya?

Tzuyu tak berhenti dan terus berlari, tujuannya yang jelas saat ini adalah rumahnya. Kalau bukan rumahnya tempat mana lagi yang Ia harus kunjungi sekarang?

BRUKK!

Tzuyu membulatkan matanya sempurna, mendapati dengan cepat bahwa tubuhnya kini melayang dan terjatuh kejalan yang dipenuhi kerikil.

"Aargh!" Tzuyu meringis kesakitan, menjerit karena sakit yang ditimbulkan oleh luka terbuka yang mengeluarkan sebercak darah segar dari lututnya.

"Cih, makanya! Jalan tuh liat-liat!" ledek seorang gadis yang tak sempat Tzuyu kenali karena cahaya matahari menerobos penglihatannya lebih dulu saat dirinya hendak mendongak melihat kesosok pelaku.

Gadis itu kemudian berpindah, memblokir cahaya yang menyilaukan.  Sehingga Tzuyu kini dapat melihat wajah itu dengan jelas.

"Tadinya rencanaku cuman mau menjambak. Aku tak menyangka Kamu bisa jatuh disini" ketus gadis itu, rupanya Dia Yerin.

Yerin menjongkok mengamati Tzuyu yang masih terjatuh. "Wah, lukamu pasti sakit. Maaf... Sikutku pasti telah mendorongmu hingga terjatuh saat sedang lari"

Tzuyu diam, mencoba sedikit bangkit dan mundur secara perlahan kebelakang. Yerin tersenyum simpul "Hei, Aku tak akan membunuhmu disini. Tapi... Aku harap ini menjadi peringatan untukmu" bisik Yerin langsung berbicara didekat telinga gadis itu.

Tzuyu mendelik, cemas dan takut. Dia benar-benar tak pernah berpikir harus mati sia-sia.

"J-jangan lakukan itu padaku" ucap Tzuyu lirih dengan ragu-ragu.

Yerin tersenyum lebar. Berdiri dan melambaikan tangan pada Tzuyu "Daah! Aku harus pulang!"

Yerin pergi setelah dijemput oleh mobil hitam. Sementara Tzuyu masih duduk diantara kerikil-kerikil yang menyakiti kakinya. Sesekali Tzuyu meringis kesakitan sepanjang jalan pulangnya. Betapa sialnya harus mempunyai nasib buruk seperti ini.

Lima belas menit sudah berlalu, Tzuyu sekarang berada dijalan alternatifnya yang sepi. Tempat yang cocok untuk meratapi dirinya sendiri sambil menangis tersedu-sedu.

Sebuah bayangan hitam didepannya muncul begitu saja, Tzuyu yang menunduk langsung menaikkan rahangannya lalu sedetik kemudian Ia menyeka air matanya dan bergegas membalikkan badannya.

Gawat!
Pria bertato dan Aku dijalan yang sepi!

Wallflower [𝑟𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang