DIKELAS,
12 IPA 2 tidak mendapat jam mata pelajaran terakhir. Seluruh siswa menjadi riuh tak karuan. Tetapi, keriuhan itu mendadak hening ketika ada salah seorang masuk ke kelas untuk memberitahu informasi, Sasa menebak kalau gadis itu anggota osis yang menjalani tugasnya.
"Selamat siang. Gue disini selaku anggota osis akan memberi informasi. Sebelumnya, Nama gue Friska amanda. Jadi, untuk seluruh siswa kelas 12 yang akan mengikuti camping minggu depan bisa menandatangani kertas yang gue bagi." Ucap gadis itu yang bernama Friska. "Karna sekolah kita mengadakan liburan untuk kelas 12 sebelum melakukan ujian. Okey. Ada yang mau bertanya?" Lanjut Friska.
Semua murid tidak ada yang menjawab atau pun bertanya ke pada Friska. Mereka semua hanya fokus dengan kertas yang dibagi Friska tadi. Ada sebagian yang hanya berdiam memperhatikan Friska. Entah itu melamun atau apa.
"Okey, Trimakasih udah mau nyisain waktunya buat gue. Selamat siang." Kata Friska dan langsung bergegas meninggalkan kelas 12 IPA 2.
Seluruh siswa ataupun siswi yang tadinya hening sekarang menjadi riuh kembali, entah itu ada yang membicarakan tentang camping dadakan. Ada juga yang membicarakan tentang lainnya.
"Lo ikut?" Ucap Nico tiba-tiba. Sasa kaget karna Nico yang jarang berbicara kepada Sasa itu tiba-tiba membuka suara.
"Yaps." Jawab Sasa dengan menunjukan ibu jarinya dan di jawab 'oh' saja oleh Nico.
•••
Jam istirahat Sasa hanya ingin membeli minum saja. Karena tadi pagi Sasa sudah sarapan dirumah. Dia tidak sendiri di kelas karna masih ada beberapa murid yang masih diam di kelas, terutama adalah Nico. Ya, sekarang Sasa bersama Nico. Nico tak sengaja melamun tepat ia sedang memperhatikan Sasa minum. Sasa menoleh dan Nico tersenyum ke arah Sasa. Ya, ini bukanlah hal yang biasa bagi Nico maupun Sasa. Bagi Sasa, ini sebuah keajaiban jika Nico tersenyum.
"Tadi gue ga salah liat nih?" Ucap Fina datang menghampiri Nico dan Sasa yang merasa Sangat Salah tingkah sekarang. Tak di pungkiri, Nico malah pergi meninggalkan Fina dan Sasa di saat kondisi Fina bermuka Cengo.
"Tunggu, gue udah dua tahun sekelas ama tu anak, ga pernah deh liat dia senyum gitu. Heran gue. Jadi ngeri sendiri." Lanjut Fina bergidik ngeri.
"Positif aja dia lagi berbunga-bunga." Ucap Sasa mengarang. Ya, karna ia sendiri juga tidak mengetahui mengapa Nico tersenyum padanya. Aneh.
"Berbunga? Oh gue tau. Nico pasti nelen bibit bunga kalik yak terus, bunganya tumbuh besar. Jadi gitu deh. Ihhh.. ngeri gue. Apa ga sakit tuh perutnya makan bibir bunga. Eh maksud gue bibit bunga." Kata Fina dengan nada yang di lebay-lebaykan.
BBUUGGHHH!
Yaps, sebuah buku melayang tepat mengenai kepalanya. Fina yang merasa terkejut tambah merasa sakit di kepalanya itu pun mencari siapa yang melempar se-enaknya. Di samping, Sasa hanya menyengir dengan muka tidak ada rasa bersalah apapun.
"Lo sih, kebanyakan halu." Ucap Sasa dengan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal tersebut.
"Halu? Gue jadi inget iklan es krim. AwokaWoka." Kata Fina dengan muka cengo sambil tertawa tidak jelas dan seperti melupakan begitu saja rasa sakit dikepalanya karena buku yang di lempar Sasa.
"Bodo lah bodo, Fin." Ucap Sasa frustasi.
•••
Di dalam toilet laki-laki. Nico hanya termenung memikirkan bagaimana cara mendeskripsikan perasaannya sekarang. Perihal dia tersenyum kepada Sasa itu adalah salah satu yang menjadi pikirannya sekarang. Sekali mengingat wajah dan senyum Sasa, hatinya begitu bergemuruh tak karuan. Nico tak bisa memastikan bahwa semua ini adalah perasaan yang istimewah.
Memikirkan tentang Sasa, Nico pun menjadi penasaran dengan Sasa. Penasaran akan alasan yang tidak tepat di ketahui oleh Nico. Tangannya langsung merogoh saku celana abu-abunya dan mengeluarkan benda pipih yang ada dalam sakunya. Tangannya mulai menari di atas keyboard yang mengetik pesan untuk seorang Tasha Nabila. Ia bingung harus mengirimkan pesan apa, setiap Nico mengetik selalu dihapus kembali dan seterusnya begitu saja. Sampai kecerobohan Nico datang. Tak sengaja Nico mengirimkan pesan yang bertulis 'sa..' ya meskipun Nico tidak sengaja mengirim pesan tersebut. Perasaannya menjadi lega dan menunjukan senyum manisnya yang sejuk.
Nico yang tak henti-hentinya mondar-mandir didepan toilet itu sedang merasakan panas dingin. Hatinya mulai tidak netral kembali. Ia takut jika Sasa menganggapnya aneh. Aneh karena tiba-tiba mengirimkan pesan yang menurutnya sangat bodoh.
"Nico?"
Suara tersebut menghentikan langkah Nico yang sedari tadi mondar-mandir tak berhenti. Nico berbalik dan menimbulkan efek dasyat terhadap hatinya. Samar-samar Nico memperlihatkan senyumannya kepada seseorang yang menyebutkan namanya tadi, Tasha Nabila.
"Nico, lo kenapa mondar mandir gitu?" Tanya Sasa yang kebingungan dengan tingkah aneh Nico hari ini.
"G-gue tadi habis ini, selesai mmmm... hffttt selesai ngirim pesan ke lo." Nico terkagetkan dengan omongannya sendiri, ia tidak menyadari jika kalimat yang diucapkan adalah kalimat yang dibicarakan dalam hatinya. Refleks Nico langsung pergi meninggalkan Sasa yang masih kebingungan dengan ucapan Nico. Pasalnya, Sasa tidak begitu mendengar jelas ucapan Nico. Bagaimana bisa mendengarkan dengan jelas jika Nico berbicara seperti orang dikejar banci lampu merah. Tapi tidak, Sasa mengingat kembali ucapan Nico dan yang jelas hanya 2 kata saja 'pesan, lo.'
Sasa langsung membuka ponselnya, dan benar saja ada pesan masuk yang dikirimkan oleh seorang Nico Giandra. Sasa merasa salah tingkah sendiri. Tersenyum hanya itu saja yang Sasa bisa lakukan sekarang. Ia hanya bingung saja untuk membalasnya dengan pesan seperti apa. Dia hanya membaca dan mematikan ponselnya, begitu terus sampai beberapa jam lamanya.
Diperjalanan kekelas, Sasa melewati lorong-lorong kelas. Dia melihat Daniel yang sedang membawa buku dengan pena di tangannya. Sasa mengerti Daniel sangatlah siswa yang pantas di idolakan. Karena Bukan hanya tampan, tetapi Daniel adalah salah satu Siswa berprestasi yang sering menjuarai perlombaan untuk mewakili sekolah. Daniel sangat di kenal oleh banyak orang, jadi bukanlah hal yang aneh jika banyak sekolah lain mengenal Daniel.
Dia tidak sempat berbincang bincang dengan daniel, karena arah tujuan mereka yang berlawanan. Sasa hanya bisa menebak-nebak bahwa Daniel akan ke Ruang Osis. Karena dia adalah ketua Osis di sekolahannya. Sasa pun bergegas kembali kekelas dengan senyuman yang tak kunjung pupus dari tadi jika mengingat Nico.
|\|
Huhuuu, sorry baru update :*
Author banyak tugas :') engga curhat kok.
Iyellowyou💛
KAMU SEDANG MEMBACA
FINE; On Going!
Teen Fiction'Semula duniaku hanya abu, tak ada warna yang melintas, tak ada kehangatan menyapa. Lalu, kamu datang menawarkan jutaan harapan, melahirkan jutaan keyakinan untuk mendapatkan setitik warna dunia kepadaku. Tanpa menghapus abu didalam pencariannya. Ak...
