Nico masih bingung dengan barang apa saja yang akan ia bawa saat camping. Sedangkan jam sudah menunjukan pukul dini hari, semalam dia tidak sempat mempersiapkan barang bawaannya karena bermain game. Ya kalau saja Reza dan Fino tidak mengomporinya untuk bermain game mungkin ia tidak susah-susah mempersiapkan dimata yang sudah mengantuk.
"Tau gini gue gak bakal ngikut omongan duo curut. Arrgggh." Ucap Nico dengan mengacak rambutnya frustasi. Dia memutuskan untuk tidak membawa barang-barang yang tidak penting baginya. Mungkin kalau makanan dia bakal bergabung dengan Reza dan Fino.
Setelah berjam-jam mempersiapkan barang bawaan untuk camping, Nico langsung merebahkan badannya yang sudah encok tak karuan itu. Nico melihat ponselnya, dan berharap akan ada pesan masuk dari gadis yang selama ini menjadi bahan pikirannya. Ternyata, nihil. Tidak ada pesan satupun yang masuk.
Nico pun termenung sambil menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan kekonyolan yang ia perbuat disekolah. Nico tersenyum. Dia sangat senang bisa mengenal gadis yang selalu membuatnya penasaran itu. Karenanya dia bisa tersenyum kembali setelah sekian lama.
•••
"Anak-anak, kalian yang disebutkan namanya masuk ke Bus nomor 1 atau 2 dan sisanya kalian bisa masuk ke Bus nomor 3. Paham semua?" Suara intruksi dari Bapak Ahmad sudah di siarkan. Celoteh anak-anak yang bersahutan menjadi senyap dan menjawab apa yang diucapkan oleh Pak Ahmad.
"Devina, sela, Nico, Fina, Sasa, Fino..." Kata Pak Ahmad menyebutkan nama yang akan memasuki Bus nomor 1 atau 2 setelah itu sisanya masuk ke Bus nomor 3.
"Lah Za lo gak bareng kita." Ucap Fino ketika nama Reza tak kunjung di panggil oleh pak Ahmad. Reza yang hanya bermuka pasrah itu langsung meninggalkan Nico dan Fino untuk menuju ke Bus nomor 3.
Setelah beberapa lama, murid-murid sudah memasuki Bus yang sudah di tentukan dan langsung memulai perjalanan ke tempat camping di tentukan. Sasa dan Fina duduk tepat di belakang kursi Nico dan Fino, dan sasa tidak mengetahui itu. Di salam bus, murid-murid menghibur diri dengan bernyanyi, bermain game dan lain sebagainya.
"Woy, gantian dong yang main gitarnya. Masa iya cuma alfin aja yang mainin. Heh Nico! Lo kan mantan anak band." Ucap salah satu murid yang sepertinya sudah jengah melihat Alfin bermain gitar dengan nada yang sama-sama saja.
"Nico. Nico. Nico" Banyak yang ingin melihat dan mendengar Nico bermain gitar. Semua murid di dalam bus 1 itu bersorak untuk Nico agar mau bermain gitar menggantikan Alfin. Tanpa basa basi, Nico pun berjalan ke belakang untuk bergabung dengan yang lain dan mulai bermain gitar. Nico dengan lihainya bermain gitar.
Disatu sisi, Sasa hanya diam ditempatnya. Tetapi, setelah bosan dengan hanya memandangi jalan-jalan kota, dia langsung mengikuti Fina yang sudah bergabung di antara murid lainnya. Fina yang mengetahui Sasa menghampirinya langsung mengisyaratkan untuk duduk disebelah Fina dan tepat di sebelah Nico bermain gitar juga. Nico mengganti lagunya dengan lagu berjudul 'Cinta luar biasa- andmesh' yang lain hanya mengikuti Nico bernyanyi.
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu.
Du... Du... Du... Hari hari berganti
Kini cintapun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggung terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamuu. Ooooooo.
Terimalah lagu ini. Hmm...
Dari orang biasa
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cinta ku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Terimalah cintaku yang luar biasa tulus padamu.
Tak sadar mata Nico dan Sasa bertatapan sampai lagu selesai. Dan Semua bersorak ketika mengetahui Nico dan Sasa Bertatapan. Semua murid juga tertawa banyak yang menjodoh-jodohkan Nico dengan Sasa. Karena pasalnya, Nico tak pernah diketahui berpacaran dengan siapapun. Sasa yang sedikit salah tingkah itupun langsung meninggalkan kerumunan untuk kembali ke kursinya lagi. Ia tak menyangka akan menikmati permainan gitar Nico dan membuat Sasa tersenyum tak karuan. Mata Sasa sudah tidak terkontrol. Sasa pun tertidur dan mengabaikan orang yang datang menghampiri kursinya.
Nico terkagetkan ketika melihat Sasa tertidur di kursinya. Ia yakin, jika Sasa salah tempat. Ya, Sasa tidak sadar telah tertidur di kursi yang ditempati oleh Nico. Nico yang tak tega jika membangunkan Sasa itu, langsung duduk saja disamping Sasa. Jika Fino datang ia bisa menyuruhnya untuk duduk bersama Fina atau bersama Sasa. Tetapi, jika Nico yang pindah kebelakang bersama Fino untuk bertukar kursi. Nico otomatis membangun kan Sasa yang sedang tertidur di pundaknya sekarang.
"Astagfirullah. Kalian pacaran di dalem bus!" Ucap Fino ketika menyadari ada Sasa yang tertidur dan menumpangkan kepalanya di pundak Nico. Nico hanya mengabaikan penuturan Fino dan kembali fokus kepada ponselnya saja.
|\|
Iyellowyou💛
KAMU SEDANG MEMBACA
FINE; On Going!
Teen Fiction'Semula duniaku hanya abu, tak ada warna yang melintas, tak ada kehangatan menyapa. Lalu, kamu datang menawarkan jutaan harapan, melahirkan jutaan keyakinan untuk mendapatkan setitik warna dunia kepadaku. Tanpa menghapus abu didalam pencariannya. Ak...
