Monokrom; “hanya satu warna”
merupakan istilah yang secara umum diartikan sebagai lukisan, rekaman, atau foto yang hanya terdapat satu warna saja.
Monokrom biasa dikaitkan dengan hal perpisahan, karna dominan menggunakan warna "hitam". Hitam diartikan damai, tenang, dan indah..
Tapi? Apakah monokrom disini berarti itu? Atau monokrom ini akan Indah?
*
“eh lo bisa nemenin gue beli buku nggak nanti?” pesan masuk dari Leo, mantanku.
“gue ijin Uzra dulu ya” jawabku
Lalu aku langsung ijin ke Tuan
“Tuan, Leo minta temenin beli buku”
“Tuan?”
“Sayang?”
Tuan tidak membalas pesanku, mungkin Tuan sedang sibuk. Kembali aku mengirim pesan ke Leo
“eh gue gatau bisa apa nggak soalnya blm dijawab”
“oh yauda oke” jawab Leo
Setelah pulang sekolah, seperti biasanya aku menunggu sekolah sepi terlebih dahulu, dan tebak siapa yang datang. LEO!
*
“buruan anterin bentar kali ah” paksa dia kepadaku
“gabisa maaf gue lagi nunggu dijemput” jawabku sambil menatap hpku
“udah ntar gue anter, buruan ih lama amat” paksa leo
“gue gabisa maaf” aku terus menolak Leo sampai Leo menarik tanganku untuk naik ke motornya.
“apa sih kasar banget jadi cowo” marahku kepada Leo
“salah siapa juga lama, masih aja kayak dulu lemot” kata dia
Aku disitu hanya diam, aku takut Tuan marah kepadaku..
“emm Leo lo cari buku yang lo cari,gue di buku puisi” kataku ke Leo
“ngga mau,mauku bareng kamu aja” kata Leo.
“ah apa si sana” sambil aku meninggalkan Leo untuk mencari buku puisi.
Setelah Leo selesai mencari dan aku juga sudah menemukan buku yang aku cari, akhirnya kita pulang tapi sebelum itu Leo berkata
“gue laper” sambil menarikku untuk duduk di kursi food court.
(ANJIR COWO MODUS DASAR KAMPUNGAN) gumamku dalam hati.
Dari arah yang lain seorang laki laki berjaket hitam menatapku terus menerus. Aku pun takut dan mengajak Leo untuk pulang, tapi seorang laki laki itu lari kearahku dan menarik tanganku
“katanya cuma mau sama aku?” kata lelaki itu dari belakangku sambil menarik tanganku
“Tuu.. An?” kataku
“kenapa kaget?”
“aku tadinya gamau tapi aku dipaksa” jawabku
“ayok pulang” ajak Tuan
Disitu aku meninggalkan Leo yang sama sekali tak merasa bersalah atau membelaku dan memberi alasan mengapa aku disitu, jika tidak dipaksa aku tak akan pernah mau.
*
Dijalan aku hanya terdiam dan menangis
“udah diem gausa nangis”
“aku tadi nyariin kamu disekolah, aku kira kamu naik ojek” jawab Tua tenang
“tadi aku dipaksa, aku gamau dia narik aku” jawabku
“ini mau berhenti disini apa mau sambil jalan?” kata Tuan
“berhenti didepan aja ada taman”
Akhirnya kita berhenti di taman untuk membicarakan hal ini.
“kemana tadi kamu? Aku nyariin kamu, jangan gitu”
“aku nganterin Leo cari buku, awalnya aku gamau dia maksa aku narik narik aku” jawabku sambil tersedu-sedu
“tenangin dulu, jangan nangis”
“kenapa engga ngabarin aku?” tanya Tuan
“aku udah ngabarin kamu, kamu ngga bales” jawabku kepada Tuan
“mana ngga ada, oh ni baru masuk” sambil melihatkan hpnya.
“maafin aku”
“aku ngga bermaksud jalan jalan sama Leo”
“untung aja tadi aku ngikutin kamu hehe” Jawab Tuan.
Entah apa yang aku pikirkan tiba tiba aku memeluknya dan berkata ‘kau boleh marah, ini salahku mengingkari janji’
Tuan hanya tersenyum seraya berkata "aku tak marah, aku tau kau tak akan tergoda dengan lelaki manapun. Kau wanita sabar yang menunggu ku. tapi lain kali kalo ada apa apa bilang dulu, siapa gitu Siska atau mamah atau siapa biar aku ngga keliling sekolah kamu” sambil mengelap air mata ku,kemudia Tuan mengajakku membeli es krim.
*
“beli es krim ayok”
“beneran?”
“ayok beli ayok”
Badai akan berhenti, monokrom akan cerah jika kau beri alasan yang masuk diakal.. Dan alasan itu adalah sebuah kejujuran.
“terimakasih telah memilihku dan maaf jika mengecewakanmu”
— puan
KAMU SEDANG MEMBACA
Tuan dan Puan
RomancePertemuan Tuan yang mengobati luka Puan menjadikan Puan menganggap Tuan adalah penghuni rumah barunya. Puan adalah rumah. Penikmat band Indie, senja dan kopi. Seperti luasnya lautan dan tingginya pegunungan, Puan mencintai Tuan.
