“Liz maaf, sekali maaf, aku tau kamu maafin aku kan, kamu gak lagi bercanda kan liz,”
***
Sinar matahari sungguh terik siang ini ditambah lagi dengan kerumunan anak sekolah yang baru pulang. Dan tak lupa dua sejoli yang saling adu mulut di sepanjang perjalanan ke halte bus.
“Ngambek nihh,” goda Vito.
“Bisa diem gak sih, Mau itu mulut aku copot,” bentak Liza.
“Ya maaf,” ucap Vito masih dengan cengiran menyebalkannya.
“Nyebelin huhh!” desis Liza.
Yah begitulah mereka, duo rival yang tak dapat akur sepanjang hari, jika salah satunya diam atau tidak berdebat itu pasti ada yg bermasalah diantara mereka. Tapi adu mulut mereka bagai candu jika saja tak ada perdebatan salah satunya pasti merasa kesepian.
“Liz,” panggil Vito.
“Hm... “ Liza hanya menanggapinya dengan gumaman.
“Kalo cewek sukanya dikasih apa?” tanya Vito agak gugup.
Liza mengernyitkan alisnya dia merasa ada yang aneh dengan Vito, berbagai pertanyaan muncul di pikirannya.
Apa mungkin dia ingin PDKT? Ataukah dia ingin jadian?.
“Tumben nanya kayak gituan mau ngapain emangnya?” tanya Liza penasaran.
“Jawab aja sih cepet, kamu gak mau pulang emang?” ucap Vito.
“Ya ya bentar, mungkin coklat, em...atau bunga mawar,” jawab Liza sekadarnya.
“Okelah siipp thanks yak, dah pulang sono,” usir Vito.
“Kebiasaan nih anak kalo udah gak ada maunya aja yah, awas kalo ada apa apa liat aja,” ancam Liza.
“Gak kok rival ku yang galak, kabur...!!!” ledek Vito dari kejauhan.
“Dasar anak gaul, bisa bisanya yah punya rival kayak gitu, huh!” gumam Liza.
Esok harinya di sekolah Liza tak sengaja melihat sahabatnya Flowren sedang bercakap cakap ria dengan Vito tak biasanya seperti itu.
“Ekhmm ekhmm, maaf numpang lewat,” tanpa menengok sedikit pun ke arah mereka berdua.
“Za tunggu!!!” Panggil Flowren.
“Apa bukannya sono sama si orgil,” cetus Liza
“Apaan sih aku gak ada apa apa sama dia,” jelas Flowren
“Gak nanya sumpah,” desis Liza.
Entah kenapa hari ini mood hatinya jadi kacau kayak abis di terpa angin ribut, dalam hatinya masih mengganjal pertanyaan tentang sahabatnya Flowren dan rivalnya Vito. Sedikit ada rasa cemburu ketika mereka berdua malah semakin akrab.
Hari demi hari berlalu, entah hanya perasaan Liza kalau Vito menjauh atau memang kenyataannya seperti itu. Tak seperti biasanya yang selalu memulai debat dan candaan kali ini Vito hanya melewatinya saja.
Tak terasa telah satu minggu Liza menjaga jarak dengan rival dan sahabatnya. Terlalu banyak pikiran di otaknya akhir-akhir ini, dan dia juga sering melamun seperti kehilangan sosok penyemangat dalam hidupnya, dan sosok itu adalah Vito.
“Hey ngelamun aja, kesambet nanti lho” ucap Vito yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Liza.
Liza hanya melirik sekilas, lalu langsung membuang muka ke arah lain. Keheningan tercipta diantara mereka, rasa canggung muncul seperti orang yang belum saling kenal.

KAMU SEDANG MEMBACA
Entschuldigung ; Galaksi Aksara
Storie brevi"Mengucap MAAF bukan berarti Kau kalah dan Dia menang. Tapi, berarti Kau berhasil mengalahkan egomu " -Galaksi Aksara. Berisi kumpulan cerita-cerita pendek yang dituliskan oleh banyak kepibadian dan pengalaman yang tersirat di dalamnya. Dengan menga...