Pondok ramadhan. Sejatinya, apakah pondok ramadhan begitu efisien untuk mengajarkan pendidikan agama islam saat ramadhan? Menurutku tinggal bagaimana cara orang menyikapi dan melaksanakan kegiatan tersebut-apakah aku sudah cukup bijak dengan tidak memberikan satu jawaban pasti?-
Hari pertama pondok ramadhan hanya diisi dengan ceramah oleh para guru tentang akhlak, dan sekawannya. Pemandangan yang cukup kontras jika melihat situasi di mushola saat ini. Guru yang ceramah begitu khusyuk dan para siswa yang mendengarkan ala kadarnya. Ada yang tidur, dan berbincang dengan teman-temannya.
Para murid memang dititahkan-aku tidak tau harus menyebutnya apa- untuk memakai pakaian muslim bebas tapi solan. Oleh karena itu banyak para siswi yang sebagian lebih mirip tante-tante. Mengapa aku mengatakan tante-tante? Karena terlalu riskan jika aku mengatakan para siswi SMA sementara di wajahnya ada bedak, dan lipstik serta berbagai alat make up yang seharusnya memang tidak digunakan di sekolah-Indonesia khusunya-.
Aku dan temanku sesekali berpandangan lantas tertawa jika melihat siswi yang memakai pakaian yang menurut kami norak-FYI selera berpakaian kami hampir sama- lantas mengatakan kalimat ini
Kon gelem la gwe klambi iki? (sambil menunjuk baju tersebut)
Yang jika diartikan menjadi kamu mau jika memakai baju ini? Lantas kami menggeleng bersama dan tertawa kecil. Entah sudah berapa banyak penilaian yang kami. Aku tidak tau apakah baju itu memang pilihan dia atau pilihan ibunya.
Tapi ciri khas manusia memang mengkritik orang lain kan? So, still i wrong?
Jember, 16 Juni 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
LIFE
Diversos"Terlalu sederhana untuk berujar bahwa ini adalah kisah dalam satu bulan suci" #KSI #KOMUNITASSASTRAINDONESIA #RAMADHAN SUKA CITA #CKSI
