"Itu Ola Soeteja, kan?" Tanya Aryo ketika memasuki ruangan Rajata. Rajata yang masih berdiri, mengangguk sebelum berjalan ke arah meja kerjanya.
"Ngapain? Bukanya dia benci banget sama Lo?" Tanya Aryo lagi dan sekarang sudah duduk di sofa yang di duduki Ola.
"Nyari kerja." Jawab Rajata tak peduli.
"Sama Lo?" Tanya Aryo lagi, yang hanya dijawab anggukan kecil dari sahabatnya itu.
Aryo, Rajata dan Angga adalah sahabat dari mereka sekolah menengah atas hingga sekarang. Dan setahu Aryo, Ola adik sepupu Angga itu sangat membenci Rajata karena pernah menolak cintanya.
"Kok bisa?" Tanya Aryo lagi, dan sekarang dengan rasa penasaran paling tinggi.
"Ya bisa aja, buktinya dia kesini." Jawab Rajata biasa saja.
"Angga udah tau?"
Rajata akhirnya diam, lalu membalas tatapan sahabatnya itu. "Ola masih sebenci itu ya sama gue?"
Akhirnya Rajata mengeluarkan segala pertanyaan dalam benaknya sejak tadi. Dan itu membuat wajah Aryo tersenyum penuh arti.
"Iyalah secara Lo cinta monyet dia. Bayangkan, Aurora Soeteja yang cantiknya ngalahin Raline Shah dan kayanya ngalahin gue. Jatuh cinta sama lo, dan lo tolak begitu aja dengan bilang dia gendut, manja, dan berantakan gimana gak benci tuh dia sama lo." Jelas Aryo mengingat masa lalu yang membuatnya tertawa.
Namun, yang ada Rajata melemparkan pulpen ke arah Aryo. "Gak usah diungkit lagi." Balas Rajata tak suka.
Aryo meringis, dan mengusap tangannya yang terkena pulpen. "Cuman mengingatkan jika Lo dulu sekejam itu sama Ola."
"Udahlah, lo kesini mau bahas kilang minyak di Natuna itu kan?" Aryo mengangguk melupakan pernyataannya tadi.
*
*Malam harinya, Ola disibukkan dengan memilih pakaian yang harus ia gunakan untuk bekerja esok pagi. Dan hal itu membuatnya bingung sendiri.
"Dior apa LV ya, Mi?" Tanyanya pada Alana Mamminya, yang sejak tadi memperhatikan putri semata wayangnya sedang memilih pakaian.
"Pilih yang nyaman, dan sopan." Balas Alana. Ola memutar tubuhnya menghadap Alana, lalu menunjukkan sebuah setelan formal berwarna putih gading.
"Bagus gak, Mi?"
Alana mengangguk, "Bagus. Tapi kamu yakin kerja dengan Rajata? Ini Rajata yang kamu benci loh, La." Kata Alana hati-hati. Karena setelah diberitahu oleh suaminya tadi sore, Alana sempat memikirkan putri manjanya itu.
"Iya, Rajata Abiseka. Yang dulu pernah nolak Ola terus dijodohin sama Pappi." Gerutu Ola lalu membawa baju yang ia pilih dan duduk disamping Mamminya.
"Mammi gak setuju kan, kalau Ola dijodohin sama Rajata." Kata Ola, sekarang ia tatap Mamminya sungguh-sungguh.
Alana yang ditatap seperti itu oleh putrinya tersenyum lembut. "Kenapa? Dia baik kok sama Mammi, dan keluarganya Pappi dan Mammi kenal." Jawab Alana.
Ola menggeleng, "Dia itu jahat tau Mi sama Ola. Dan Ola benci sama dia. Masa iya putri cantik Mammi dinikahkan dengan pria yang begitu." Jelas Ola mencari simpati dari Mamminya. Karena jika Mamminya setuju dengan dia, pasti Pappinya akan menuruti permintaan Mamminya.
Alana tersenyum, lalu mengelus pipi tirus putrinya. "Tapi dia ngasih kamu kerja, berarti baik dong."
Ola menggeleng, " Soalnya dia juga gak mau dijodohin sama Ola, mangkanya dia ngasih kerjaan sama Ola Mi." Sanggah Ola.
"Tapi gak mungkin Rajata mau gaji kamu 10M, jika dia gak peduli sama kamu La." Terang Alana, seolah membela Rajata. Dan hal itu membuat Ola semakin menekuk wajahnya.
"Mammi ini Mammi Ola loh, bukan Rajata. Lagian Ola kan udah punya cowok."
Alana mengernyitkan dahinya, "Siapa? Mammi kok gak tau."
Ola maringis, "Adalah pokoknya, ntar aja kalau waktunya tepat Ola kenalin. Pokoknya Ola gak mau dijodohin sama Rajata." Putus Ola, tanpa menghiraukan perubahan raut wajah Mamminya.
"Yasudah, pokoknya kamu kerja yang benar. Tapi kamu kerja di bagian apa, La?" Dan pertanyaan Alana itu, menghentikan Ola yang sedang memilih sepatu.
Ola kembali menatap Alana dengan tatapan sulit diartikan. "Ola gak tau Mammi, Ola taunya gambar gaun!!" Katanya histeris sendiri. Dan hal itu membuat Alana menepuk dahinya tak percaya. Yah beginilah putri satu-satunya keluarga Soeteja.
*
*
Ceroboh, satu kata untuk Ola dari dulu. Pagi-pagi sekali ia dibuat kelabakan karena bangun kesiangan. Alarm lupa ia aktifkan, dan parahnya ponselnya mati kehabisan daya. Dan sekarang, jam tujuh pagi ia baru selesai mandi."Mati, gue." Katanya pada diri sendiri. Ola melakukan aktivitas ganti baju dengan cepat. Memasukkan ponsel beserta dompetnya kedalam tas, sebelum membawa Stiletto merah andalannya keluar dari kamar.
Suara gaduh membuat, semua anggota Soeteja menghentikan sarapan paginya. Terutama Raffi yang menggeleng melihat tingkah putri semata wayangnya.
"Ola berangkat dulu, semua." Katanya, lalu mencium tangan Raffi dilanjutkan mencium pipinya.
"Sarapan dulu sayang, nanti Pappi antar." Kata Raffi, namun Ola menggeleng dan melakukan hal yang sama pada Alana.
"No, Ola sudah telat dan Ola males dibilang anak manja di hari pertama." Jawab Ola, membuat Abangnya Alfa terkekeh.
"Bareng sama Abang?" Tawar Alfa, dan kembali ditolak oleh Ola.
"No! Ola berangkat semua, assalamualaikum."
Dan disinilah Ola, di Nassa Tower perusahaan terbesar dengan anak perusahaan yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Dari supermarket, teknologi hingga exportir membuat perusahaan yang sudah berdiri sejak tiga puluh tahun lalu itu merajai perekonomian Indonesia. Yah, Ola harus mengakui betapa kayanya Rajata. Walaupun keluarganya kaya, namun dibandingkan Rajata mungkin hanya setengahnya.
Tanpa canggung Ola melangkah ke dalam lift yang dikhususkan untuk petinggi dan tamu VIP. Ola bercermin sejenak pada pantulan pintu lift, melihat betapa cantiknya dirinya. Yah dirinya memang cantik apalagi dengan baju mahalnya. Ola jamin Rajata menyesal telah menolaknya dulu. Kepalanya menggeleng, no no no. Bukan saatnya memikirkan masa lalu, yang terpenting ia harus bekerja sebaik mungkin.
"Semangat Ola!!" Katanya menyemangati diri sendiri. Dan ketika pintu lift terbuka, langkahnya mantap menuju ruangan Rajata.
Ruangan itu masih sepi, dan Ola tidak melihat sekertaris Rajata di luar tadi. Ola melihat jam tangannya, pukul delapan dan pria itu belum datang. Ola berdecak lalu duduk begitu saja di sofa hitam milik Rajata seolah ialah pemiliknya.
Klik
Suara pintu terbuka dan tampaklah Rajata dengan sekertarisnya waktu itu. Rajata sedikit terkejut melihat keberadaan Ola di dalam ruangannya.
"Kamu bisa meninggalkan kami." Kata Rajata pada sekertarisnya yang sejak tadi tak melepaskan tatapannya pada Ola.
Wanita itu mengangguk, "Baik, Pak. Permisi." Katanya sebelum meninggalkan ruangan Rajata.
Pintu tertutup dan Ola berdiri. "So, gue kerja sebagai apa?" Tanyanya.
Rajata menatap Ola sekilas, lalu berjalan menuju mejanya dan melepaskan jas yang ia gunakan tadi. Ola masih diam, hingga Rajata tiba-tiba mengeluarkan dasi dari laci mejanya.
"Tugas mu sekarang pasangkan dasi untukku."
"What?!!"
TBC
fiachea
21 Juli 2019

KAMU SEDANG MEMBACA
Love You
RomanceMenjadi seorang putri dan cucu perempuan satu-satunya keluarga Soeteja membuat wanita bernama Aurora Putri Soeteja itu bagaikan seorang putri di negri dongeng. Dari mulai ia di kandungan Ibunya, hingga ia akan berumur 26 tahun hari ini. Seluruh cint...