Dirumah yang lebih mirip disebut mansion itu, Kennady Narendra atau akrab dipanggil Ken tinggal selama tujuh belas tahun kurang tujuh hari lamanya. bersama kembaran dan keluarga hangatnya.
Semua nampak baik-baik saja, kicauan burung yang riang, celotehan Ken yang abstrak, umpatan kesal Kevin, atau bahkan teriakan menggelegar sang Bunda. sebelum pagi suram itu datang tanpa di duga oleh siapapun. Tanpa prediksi, dan tanpa rencana.
"Ken. cepetan, woy. Lama banget lu di dalem. Telat, bangke," teriak Kevin -Kembaran Ken- yang terlihat seratus delapan puluh derajat berbeda sikap dan sifat dengan Ken. Ken yang lebih condong ke sifat wanita yang ... Tidak bisa dibilang lemah lembut tapi sedikit manja. Dan Kevin yang terlalu bar-bar dengan segala sikap buruk bad boys pada umumnya.
Lain halnya dengan Ken yang terlihat sedang membungkuk mengeluarkan isi muntahan yang lebih dominan berwarna merah di situ. Sebelum ia ambruk bertemu lantai. Dia masih sadar.
Tapi ini begitu sakit.
Akhir-akhir ini, penyakit yang ia khawatirkan timbul dengan sering. ia sering muntah darah atau bahkan mimisan secara mendadak. Tak ada yang tahu, karena Ken pandai menyimpan dan merahasiakannya. Ia tak mau orangtua atau bahkan Kevin yang mungkin akan khawatir dan tak membencinya lagi. Yah, ia tahu Kevin amat membenci Ken karena kepintaran dan keuletannya dalam akademik. Padahal, ini semua demi jaminan Kevin, agar sewaktu ia berulah di sekolah mereka, akan ada jaminan anak terpandai mengorbankan nilainya demi Kevin. Dan itu terbukti.
"Ken!" Gedoran diluar pintu semakin menuntut. jangankan beranjak, menyahut saja rasanya ada segumpal Godam yang menyangkut di tenggorokan, membuatnya kesulitan berucap.
Mungkin ini waktunya oranglain tahu apa yang ia sembunyikan akhir-akhir ini
Sebenarnya ia masih mendengar samar pintu coklat yang sempat ia kunci tadi di buka paksa oleh lelaki berjaket jeans biru dengan celana abu-abu. Ken bahkan masih mendengar umpatan kasar Kevin.
"Anjing! Ken bangun," teriak Kevin tak sabar.
Ken masih merasa tubuh lemahnya di guncang hebat oleh Kevin yang menimbulkan rasa pening mendalam di kepalanya. Sungguh, mengapa ia tak langsung pingsan saja. Ini menyiksa sekali.
Sepersekian detik Ken merasa doanya terkabul. Semoga bukan mati yang ia dapat. ia ditarik paksa bayangan hitam yang muncul di depannya. Seolah tersihir, ia terlelap begitu saja tanpa memikirkan perasaan apa yang dirasakan manusia bar-bar di depannya ini.
*****
KEVIN Narendra atau yang akrab dipanggil Kevin merupakan kembaran dari Ken yang tiga ratus enam puluh derajat begitu mirip Ken. Tapi, sifatnya jauh berbeda. Kalau Ken kebanggakan keluarga, justru Kevin yang membuat keluarga Narendra malu akan sifatnya.
Kalau Ken anak yang begitu rajin mengerjakan PR sekolah, meneliti sains hingga tengah malam, Kevin justru lebih suka balapan malam dibanding harus mengerjakan PR yang segunung dan begitu rumit.
Sungguh, sifat bad boys begitu melekat di dalam namanya.
Tapi, semua berubah.
Kevin ingin meninggalkan semuanya.
Semua.
Demi adiknya.
Demi manusia manja yang sialnya menjadi kembaran sekaligus adiknya.
"Anjing! Ken bangun."
Ia bodoh. Mengapa ia baru mengetahui setelah semua terasa begitu berat. Setelah ia melihat jejak-jejak darah di sekitar wastafel dan sudut bibir Ken.
Dan ia tahu, semuanya akan berubah.
*****
NAMANYA Naya Raina Pramudya, atau sering Ken panggil Nay. Sahabat Kecil Ken dan Kevin.
Naya suka hujan. Cocok dengan nama tengahnya 'Raina' yang sering ia artikan hujan sebagai sifat seseorang, manusia yang dengan ikhlas terjatuh menyirami dan menyejukkan bumi meski tahu ia sering di caci.
Naya begitu manja pada Ken.
Sifat Ken berubah seratus delapan puluh derajat bila sedang di samping Naya. Perhatian. Bahkan, hampir seluruh siswa Garuda High School menganggap Naya dan Ken memiliki hubungan spesial. Tapi nyatanya mereka masih sahabat.
"Selamat pagi, semua," seru Naya berteriak di depan pintu putih dan menyembulkan kepalanya ke sebuah ruang kelas.
Tak ada yang terkejut, karena memang sifat Naya yang berteriak-teriak, tanpa sadar suaranya menyakiti gendang telinga orang-orang di sekelilingnya.
"Duh, kebiasaan deh teriak-teriak kek dihutan," celetuk Kia sahabat Naya yang kebetulan sedang ghibah di bangku depan, dekat pintu masuk kelas XI IPA 2.
"Yeeee, suruh siapa pagi-pagi ngeghibah mulu." Naya melotot tajam dan langsung berjalan melewati Kia, duduk di bangku ketiga dekat kusen jendela. Tak jauh dari Kia yang sedang asyik berceloteh ria kembali.
Kenapa manusia hobi ghibah sih?!
Dilain sisi ruang kelas yang berbentuk persegi, manusia-manusia yang ada di kelas baru sedikit. Mungkin karena cuaca mendung di luar, jadi mereka jalan siput buat nyampe sekolah.
*****
Apalagi nih? Wkwk. Emang hobi bet bikin cerita tapi nggak namatin yang lain, astaga. 🤣
Semoga judul ini dapet hidayah sampe tamat🤪
To be continue 💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Distrutto (COMPLETED)
Random(New cover) "Sometimes following your heart means breaking someone else's."
