Distrutto 4 - Tentang Rian

3.7K 239 5
                                        

Tidak selamanya, wajah tersenyum hati gembira. Terkadang, gejolak amarah menguasai namun enggan terlihat oranglain.

*****

"Bangsat!"

Samar. Rian -sahabat Kevin- yang masih berjarak 100 meter dari tempat duduk Kevin mendengar umpatan dengan nada emosi. Hal biasa sih! Hanya saja, latarnya yang membuat Rian cemas. Bagaimana tidak. dua puluh lima menit yang lalu, ia sedang berkumpul bersama genk night sporty dan tiba-tiba Kevin menelpon menyuruhnya datang ke kantin rumah sakit.

What's the hell?

Tanpa bertanya, ia bergegas memacu sport hitamnya menerobos lampu lalu lintas, tanpa pamit apapun pada teman-temannya, tentu saja mengendarai seperti orang kesetanan. Untung saja ini malam jadi jalanan tak terlalu padat.

"Napa dah, Lu?" Tanya Rian, "Gue Dateng main muncak aja tuu emosi."

Tanpa mau menengok siapa yang protes atas umpatannya, Kevin berubah diam.

Rian tahu, Kevin akan cerita apa yang ia alami bila ia mau. Jadi, Rian hanya duduk diam menanti suasana hati Kevin membaik.

Lima belas menit berlalu, dan Kevin masih bungkam. Layaknya patung yang terbujur kaku tanpa bisa bergerak. Bahkan berkedip pun sepertinya ia enggan.

Bosan. Rian berniat beranjak dan memesan secangkir kopi. Ia merasa mengantuk melihat Kevin yang lebih aneh dari biasanya.

Melihat Rian bangkit, Kevin bersuara. "Ken sakit." Hanya itu yang Kevin ucapkan.

Hah? Tak salah dengar kan dia? Bukannya selama ini Kevin membenci keberadaan Ken!

Mendengar satu kalimat itu, Rian urung bangkit dan kembali duduk.

"Maksud Lo?" Rian hanya ingin memastikan. Apakah manusia dengan badan kekar di depannya benar-benar Kevin Narendra si pembuat ulah?

Memutar bola mata malas. Kevin tak ada niat menjawab pertanyaan setan di depannya. Oh, maksudnya manusia.

"Mau Lo apa manggil gue?"

"Bantu gue."

"Selagi bisa, gue bantu." Tentu saja ia akan membantu Kevin tanpa diminta. Dahulu, sewaktu keluarganya miskin Kevin selalu suka rela membantu keluarganya. Bahkan ia meminjamkan dana untuk modal usaha salon ibunya dan mempekerjakan ayahnya di perusahaan terbesar Narendra. Hingga kini, keluarganya memiliki perusahaan sendiri yang tentu memiliki hubungan baik dengan perusahaan Narendra.

"Bantu gue cari tahu apa yang mestinya gue tau."

******

Hari ke tiga, seusai Ken dirawat intensif dengan beberapa dokter spesialis. Tapi, seperti biasa. Ken selalu merajuk.

"Nggak mau tahu! Pokoknya aku mau pulang hari ini. Atau aku lepas semua selang ini secara paksa terus nggak mau minum obat." Dengan wajah pucat pasi, Ken masih bisa merajuk layaknya anak kecil yang tak di belikan mainan.

Tepat disaat sifat manjanya timbul. Kevin datang. Dengan santai ia menyahut, "yakin? Berdiri aja keknya nggak bisa." Sambil melipat kedua tangan di depan dada dan bersandar di pintu masuk, Kevin melempar tatapan mengejek pada Ken yang tak mau tahu keadaan tubuhnya sendiri.

Tak terima dihina, Ken menyahut lebih ketus dan membalas ucapan Kevin. "Tentu, kata siapa aku nggak bisa jalan tegap?!"

Sepersekian detik, Ken berusaha bangkit meski susah sekali. Dalam sekejap pandangannya gelap, rasanya seluruh darah yang ada di tubuh Ken naik dan bergumpal di kepala. Alhasil, bukannya berdiri tegak, Ken malah ambruk menyentuh lantai dengan keras.

Distrutto (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang