"Kau sudah besar rupanya."
"Cukup! kalian masuk ke kamar masing-masing."
Dan telak, tak ada yang ingin memperpanjangnya.
"Tolong jangan katakan itu." Cicitan Kevin yang seolah memohon pada sang dokter membuyarkan kenangan manis Bunda.
Ya, menurutnya cukup manis. Bukan kah amat sangat wajar si kembar yang serupa namun 360° berbeda perilaku. meski ia harus bekerja keras mendamaikan mereka, melihat reaksi Kevin yang diluar bayangannya membuatnya terharu.
Tersadar, Tangan kanannya menepuk bahu Kevin yang bergetar menahan tangis.
"Bukankah itu keinginan Ken, sayang?"
Seolah Bunda mengetahui apa yang dipikirkan sulungnya sejak tadi, Bunda berusaha menjadi sandaran anaknya yang sedang lemah. Meski ia pun tak merelakan salah satu cahayanya harus hilang. Namun melihat perubahan Ken yang semakin hari semakin menurun, Bunda tak tega melihatnya.
ia ingin egois, namun bagaimana dengan putranya yang berjuang?
Kevin berbalik, melangkah pergi meninggalkan bunda beserta orang yang menjelaskan sebelumnya. menulikan pendengarannya, mengabaikan nuraninya.
Ia ingin egois!
Namun, baru saja tangannya akan memegang knop pintu dan membukanya. seorang suster membuka pintu tiba-tiba.
"Pasien kamar 1203 collaps!" Sontak mendengar rekan kerjanya berbicara tergesa, sang dokter berlari menghampiri pasien. berharap tangannya mampu menjadi tangan kanan tuhan yang sering ia dengar dari para pasien.
menyelamatkan nyawanya, maksudku.
Beberapa detik kedua manusia yang memiliki hubungan darah terdiam sesaat, belum mencerna apa yang dikhawatirkan kedua sejoli yang memiliki profesi sebagai penyembuh di sebuah rumah sakit.
Namun, kesadaran Kevin lebih cepat kembali.
1203?
Bukankah itu kamar Ken?
Tersadar, Kevin dengan secepat kilat berlari menuju kamar adiknya. sembari menepis semua pikiran-pikiran negatifnya, menepis Ken yang akan pergi dari kehidupannya.
"Gak! Gak boleh. lu gak boleh pergi, bangsat," Batinnya terus membantah.
Berikut Bunda nya yang ikut berlari dibelakang, Pasrah bila anak bungsunya memilih menyerah pada penyakit yang menyerangnya beberapa bulan terakhir ini.
Tak menyangka, kisahnya dengan sang anak begitu singkat tanpa kenangan.
Langkahnya terus berlari cepat menuju ujung lorong tempat tubuh sang anak terbaring meregang nyawa. Kenangan-kenangan masa kecil menyeruak sedikit demi sedikit.
"Bundaaaaa. Kepin jahat."
"Kepin, ga bowle nackal," Ken kecil memarahi Kevin yang selalu menjahilinya.
"Aaaaa, Kepinn!"
"Aduh, sayang. udah-udah, maapin kepin ya." Bunda datang memangku Ken dan membujuknya memaafkan sang kakak. sedangkan Kevin hanya merenggut tak suka, lagi-lagi Ken lebih di perhatikan dibanding dirinya.
"Ayo, Kevin. minta maaf," ujar Bunda.
Kevin diam, tak merespon suruhan bundanya. sedangkan Ken menanti dengan binar mata yang Kevin artikan mengejek.
Menyebalkan!
"Nda mau!" Ken berbalik melipat kedua tangannya di depan dada.
Malas sekali harus meminta maap!
Langkah cepat Bunda terhenti begitu manik matanya menangkap Kevin yang terjatuh meraung di lantai.
Dapat Bunda dengar teriakan dan makian Kevin yang tak menerimanya.
Bungsu nya t'lah pergi.
Pergi bersama cintanya.
Menemui ketenangannya bersama sang terkasih.
Bunda terdiam. setetes air berbentuk bola kristal terjatuh dengan bibir tersenyum.
Hatinya begitu sakit namun bahagia.
Anaknya tak sakit lagi, sungguh kesakitan terdalam melihat anaknya menahan rintihan kesakitan di depannya.
"Selamat jalan, sayang." Dengan rasa yang mencoba Ikhlas, Bunda berucap sebelum melanjutkan langkah mendekati Kevin yang masih meraung-raung tanpa menghiraukan petugas rumah sakit yang mungkin memintanya tenang.
"Tolong jaga anak kita, mas. Aku ikhlas."
End.
Aaaaaaa, Bahagianya bisa nyelesain satu cerita ini yang super ngaret😭😭😭😭😭
Makasih banyak-banyak yang udah baca, huhu❤️❤️❤️
Maap kalo ceritanya masih gajeee🔫
Next aku bakal bikin cerita baru yang gabakal ngaret, insyaallah 😂
pokonya makasih banyak-banyak buat siapapun❤️❤️❤️❤️
See U next story ❤️❤️❤️
Tap bintang di pojok kiri kalo kalian suka part iniiiii⚠️⚠️
Komennya juga Jan lupa ayoooo!!!!!!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Distrutto (COMPLETED)
De Todo(New cover) "Sometimes following your heart means breaking someone else's."
