Distrutto 2

5.8K 308 0
                                        

Hidup memang sering kali lucu. Semua terasa begitu mudah mempermainkan hidup ini. Tapi yakinlah, topeng lebih berarti dibanding tawa tulus yang menyakitkan.

*****

Dan di sinilah Ken berakhir. Di ruangan bernuansa putih dengan bau khas obat-obatan yang begitu menyengat di setiap sudut ruangan. Dan Ia tak pernah suka rumah sakit.

Setelah insiden muntah darah yang membuat panik seisi rumah, ia di larikan segera ke rumah sakit terdekat dengan keadaan Kevin yang masih menggunakan seragam putih abu-abu dan jaket jeans biru yang berubah warna menjadi merah. Dan tentu saja, kini Ken menjalani serentetan pemeriksaan guna mengetahui penyakit apa yang menyerang Ken tanpa mereka sadari.

Saat ini, Ken sedang melamun. Ia berpikir, apa yang akan mereka lakukan bila mana mengetahui penyakit yang Ken rasa satu bulan terakhir ini. Yang sebenarnya sudah ia ketahui jauh sebelum mereka tahu.

Setelah ini, akan ada tatapan yang berubah kasihan. Dan akan ada sikap yang berubah lebih lembut dari biasanya. Intinya semua akan berubah!

Tokk ...

Tokk ...

Suara pintu di ketuk, tanpa menunggu persetujuan dari sang empunya, seseorang masuk begitu saja. tak lama disusul derap langkah kaki yang santai namun pasti, tak membuat Ken menoreh ke seseorang yang melangkahkan kaki mendekati brankar.

"Ken. Udah bangun?" Suara seorang wanita yang telah merawatnya sedari kecil berhasil menarik Ken dari lamunan absurd yang ia rasakan sedari tadi.

Dan ia melihat mata sayu sang Bunda yang sedikit bengkak. Mungkin karena terlalu lama menangis. Atau terlalu banyak menangis? Entahlah.

"Udah," sahut Ken berusaha menampilkan senyuman tulusnya.

"Ken gak pa-pa?" Tanya Bunda sembari menarik kursi lipat yang tersediakan rumah sakit ini. Duduk, sambil menggapai lengan hangat anak manjanya.

"Emang Ken kenapa? Ken gak pa-pa, Bunda." Entah perasaannya saja atau memang mata Bunda sedang berkaca-kaca? Dan berusaha sekuat tenaga menahan butiran kristal itu jatuh membentuk sungai kecil di pipi mulusnya?

Ken benci itu.

"Bunda, jangan nangis."

Reflek Bunda mengusap air mata yang tanpa sadar menetes di depan putra keduanya. Ia tak boleh menangis. Ia harus kuat. Meski kenyataan itu membuatnya berkesiap. Membuatnya tak siap menerima ini semua.

"Enggak, Bunda nggak nangis ko." Sekuat tenaga, Bunda menyanggah perkataan Ken yang seolah meledek ketahanan jiwa seorang Ibu, melihat putra yang biasa begitu menyebalkan berubah lemah tak berdaya dengan wajah pucat pasi.

"Kevin mana, Bun?" Tanya Ken berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Lagi di kantin bawah," jawab Bunda singkat. Tak melepas pandangannya dari wajah tampan sang Putra. seolah bila ia berpaling barang sedetikpun Ken akan hilang selamanya.

"Bun, Ken ngantuk." Karena jengah dipandang sebegitu intens Ken memilih untuk pura-pura ngantuk. Mungkin dengan begitu Bundanya bisa sedikit mengalihkan pandangan sayu dari wajahnya.

"Oh, kamu ngantuk? Yaudah tidur yah," sadar Bunda beranjak dari tempat duduk, menarik selimut hingga dada Ken. "Bunda sayang kamu," ucap Bunda disertai kecupan di kening Ken, sebelum berlalu meninggalkan Ken yang ingin beristirahat.

"Maafin Ken, Bunda." Gumam Ken, memiringkan tubuhnya. Menitikkan air mata sembari menahan sakit di dada dan kepalanya.

*****

Distrutto (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang