part 3

21 6 0
                                    

Demi apapun, Jasmine takut sekarang. Semua orang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun sedetik kemudian, salah satu kakak kelasnya tiba-tiba saja memukul salah satu lawannya, tepat di belakang kepalanya hingga ia tak sadarkan diri. Lima orang yang lain langsung tersadar dan perkelahian kembali dilanjutkan. Jasmine bisa bernapas lega sekarang.

Namun kelegaannya hanya sementara. Karena saat ia hendak berbalik, Jasmine dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Keringatnya yang bercucuran terlihat sangat jelas di mata Jasmine. Tanpa basa-basi, orang itu langsung meraih tangan Jasmine dan menariknya paksa hingga berada di lapangan basket. Bahkan telapak tangan yang diperban itu kembali terasa sangat perih.

Perkelahian masih berlangsung, mereka belum sadar akan kehadirannya. Jasmine sudah menangis sejak tadi. Ia sangat takut akan perkelahian yang ia lihat dari jarak dekat seperti ini. Tiba-tiba saja ia dibayang-bayangi oleh wajah tantenya yang sudah meninggal.

"Sesuai perjanjian, jangan ada saksi!!!" Teriak orang yang semakin mencengkram erat tangan Jasmine.

Rey sempat terkejut mendengar teriakan salah satu lawannya. Dan ia lebih terkejut saat orang itu menarik tangan gadis berperban yang ia temui di UKS tadi. Rey mengepalkan tangannya, rahangnya mulai mengeras. Entah mengapa, emosinya tambah memuncak ketika melihat lengan gadis itu dicengkram kuat-kuat oleh orang yang paling ia benci.

"SMA Wijaya Kusuma." Salah satu dari mereka mendekat, membaca sebuah logo atribut yang dipakai Jasmine.

Jasmine yang berada tepat di sebelahnya hanya bisa menutup mata rapat-rapat.

"Karena lo udah bikin temen gue gak sadarkan diri, mendingan cewek ini gue bawa sebagai gantinya." Orang itu langsung merangkul Jasmine.

"Lo itu urusannya sama gue. Ngapain si lo bawa-bawa cewek kesini? Kurang belaian? Bilang sama gue pasti gue kasih cewek buat lo." Fariz merasa ini sebuah kecurangan. Ini perkelahian bebas. Semua orang bebas memukul di bagian mana saja.

Bagas bersidekap dan berdiri dengan santai, "Padahal kita dua lawan satu. Dan saat ketua lo itu pingsan, lo minta tumbal ke kita. Cewek pula yang lo bawa. Kurang lemah apa coba kalian semua?"

Tanpa pikir panjang, Rey menarik kerah baju seseorang yang sudah menggeletak tak berdaya yang ia pukul tadi, lantas menggeret paksa dan membantingnya begitu saja di hadapan orang yang merangkul gadis itu.

"Bawa aja ceweknya. Gue gak kenal juga. Asal ketua lo ini gue bakar sekarang juga. Lumayan lah bisa tuker tambah." Rey berusaha sesantai mungkin. Kemudian ia mengeluarkan korek api dari saku celananya. Dan tentu saja semua orang yang di sana pias. Sejak kapan Rey menjadi sekejam itu?

Rey tersenyum saat cengkraman orang itu lepas dari tangan adik kelasnya.

"Pilihan yang tepat." Rey menyimpan korek apinya kembali dan menarik gadis itu pergi dari sana.

Jasmine benar-benar tidak bisa berkata apa apa. Mau tak mau ia membonceng Rey daripada ditinggal bersama 6 orang asing di lapangan basket itu. Pertama, ia trauma dengan perkelahian. Lalu tangannya terasa sangat perih. Dan yang paling membuatnya sedih, buku kesayangannya sempat terjatuh rooftop saat ia ditarik paksa. Jasmine memeluk Rey erat-erat dan menangis di punggung lelaki itu. Jasmine tak peduli jika kakak kelasnya akan memarahinya. Untuk sekarang, ia hanya butuh tempat untuk bersandar.

Rey yang merasa dipeluk dari belakang oleh gadis itu sempat terkejut. Namun ia berusaha mentralisasikan keterkejutannya. Namun lagi-lagi ia dibuat kaget oleh tubuh gemetar di belakangnya. Dan tak beberapa lama, ia merasa baju bagian belakangnya susah basah. Apa gadis itu menangis?

Namun Rey tidak berniat untuk bertanya. Perempuan mana yang tidak ketakutan melihat kejadian seperti itu? Apalagi hampir saja gadis itu menjadi sandera oleh lawan-lawannya.

"Kita dimana?" Suara serak habis menangis itu bertanya seraya turun dari motornya.

Rey memarkirkan motornya di garasi, melepas helm, dan menggiring Jasmine untuk masuk ke rumahnya. Awalnya Jasmine ragu. Namun demi melihat raut tulus dari Rey, akhirnya ia menurut.

Jasmine memasuki rumah berlantai dua dengan warna cat yang serba abu-abu dan hijau tosca. Perpaduan warna yang sangat disukai Jasmine. Rey kembali dengan pakaian santai, lantas menyodorkan kotak tissue ke arah Jasmine saat melihat sisa-sisa tangis dan wajah sembab gadis itu.

Tak ada percakapan di antara mereka. Kepala jasmine masih dibayangi oleh perkelahian tadi, sedangkan Rey bingung harus kerkata apa. Saat beberapa lama, akhirnya Jasmine memberanikan diri menatap wajah Rey. Dan betapa terkejutnya ia yang baru sadar ternyata kakak kelasnya ini wajahnya sudah babak belur.

"Apa itu sakit?" Jasmine menunjuk luka di pipi Rey.

Rey bersandar di sofa, lantas tersenyum dan menggeleng. Lihat lah. Gadis itu masih ketakutan, namun sempat-sempatnya ia menanyakan apakah luka ini sakit atau tidak. Wajahnya sangat polos, namun ia dapat melihat gurat ketakutan yang amat mendalam di sana. Mungkin gadis itu punya trauma.

***

"WHAT?" Mega berteriak heboh.

"Kaget kodok!"

"Bangsul diem dong!"

"Cubit aja pankreas nya!"

Mega ikut menggerutu sebal saat anak-anak lain menggerutu karena ulahnya. Jasmine hanya tertawa demi melihat ekspresi kawan sebangkunya itu. Namun seujurus kemudian, ekspresi Mega kembali seperti semula. Terkejut.

"Gimana ceritanya sih lo bisa sampe ke rumah Kak Rey?"

Oh Jasmine baru sadar jika hari ini, Mega memakai lo-gue dengannya. Padahal kemarin masih aku-kamu. Jasmine sengaja tidak menceritakan kejadiannya sejak awal tentang perkelahian itu, karena ia memang sudah berjanji kepada Rey untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun.

"Ya gitu deh. Kepo bener." Jasmine mengendikkan bahunya. Bukan karena malas, tapi ia bingung harus mengarang alasan seperti apa kepada Mega.

"Yah gak seru nih. Males ah." Mega bersidekap dengan wajah kesal. Mega berdiri hendak keluar kelas, namun langkahnya terhenti ketika Jasmine bertanya mau kemana.

"Kantin." Jawabnya sambil meneruskan langkah.

"Tahu asin lima rebu dikasih cabe!" Teriak Jasmine yang berniat menitip makanan kepada Mega. Mega yang diteriaki hanya mengacungkan jempol.

Seperginya Mega, Jasmine menyetel musik kesukaannya dan memasang earphone ke telinga. Walaupun ini baru hari keduanya bersekolah di tempat ini, semua teman-teman kelasnya sudah akrab dengannya. Bahkan Jasmine sudah bisa menyesuaikan lingkungan di sana.

Tidak perlu menunggu waktu lama, Mega menenteng plastik berisi makanan mereka. Jasmine sudah kegirangan karena Mega benar-benar membawa pesanannya. Padahal ia ingat, beberapa menit yang lalu Mega sempat kesal karena tidak diceritakan tentang kejadian kemarin di rumah Rey.

"Bayar sini. Gue gak mau ada utang piutang di antara kita."

Jasmine terkekeh dan memberi uang 5.000 kepada Mega, "Kembaliannya ambil aja."

"Ini emang pas samprul."

Keduanya lantas unboxing kantong plastik yang Mega bawa dari kantin. Jasmine memakan tahu kotak-kotak kecil kesukaannya ditambah cabai hijau yang ia makan sedikit-sedikit. Hingga pada sabai keempat, ia sudah mulai kepedasan. Kedua tangannya mengibas-ibaskan wajahnya agar pedasnya bisa hilang. Namun percuma, Jasmine tidak membawa minum. Seolah keinginannya terkabul, tiba-tiba saja ada yang menyodorkan air mineral dingin impiannya tepat ke arah pipinya.

"Buat lo." Rey ternyata. "Kasian banget kepedesan. Lain kali kalo makan cabe kira-kira ya. Biar gak gini." Wajah babak belur sisa kemarin masih menghiasi wajahnya, menemani senyumnya.

Semua anak kelas mematung, terutama Jasmine dan Mega.

19 Juli 2019

***

Vote, kritik dan saran sangat dibutuhkan.

Abang Rey baik banget sih💙

Forever LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang