part 9

10 2 0
                                    

'Awalnya aku melihatmu dengan biasa saja.
Namun, lama-kelamaan aku mulai jatuh cinta.
Oh gadisku, bisakah engkau berhenti berputar di dalam pikiranku?'

"Ada surat lagi?" Meletakkan tas di atas meja, Jasmine bertanya.

Mega mengangguk semangat lantas menunjukkan isi surat itu kepada sahabatnya. Jasmine pun serta merta membaca isi tulisan yang ada di kertas merah muda itu, karena ia pun penasaran tentang siapa pengirim surat untuk Mega selama seminggu terakhir ini.

'Dear Mega...
Bagaimana kabarmu?
Aku masih di sini dengan perasaan yang sama.
Tapi mungkin aku terlalu pengecut untuk mengutarakannya.'

Jasmine tersenyum-senyum sendiri kala membaca isi surat itu, lantas menatap ke arah Mega dan surat itu secara bergantian.

"Eh kok gue jadi penasaran gini sih sama pengirimnya?" Jasmine menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja, dan diikuti Mega.

"Gak tau juga. Tapi so sweet tau gak sih?" Mega tersenyum dengan tatapan mata ke atas, seakan membayangkan sesuatu yang indah.

"Yahh percumah so sweet kalo gak gentle. Masa ngomongnya pake surat, gak langsung aja." Jasmine meletakkan surat itu di hadapan Mega.

"Ya mungkin kan dia emang cowok pemalu. Lagian jarang-jarang loh hari gini masih ada yang gombal pake surat gini. Lucu banget. Dan menurut gue sih itu udah termasuk gentle. Buktinya dia berani ke sini buat nganter suratnya. Iya gak?" Bela Mega.

Jasmine hanya mengendikkan bahunya. Bisa jadi memang apa yang dikatakan Mega itu benar. Tapi, tetap saja menurutnya cowok itu tidak gentleman. Mengapa tidak berbicara langsung saja kepada Mega? Cowok itu terlalu bertele-tele.

"Udah ah gak usah dipikirin." Kepala Mega turun menuju ke atas lipatan kedua tangannya di atas meja.

"Kenapa? Bukannya kemaren lo hebot banget?" Ada guratan samar di dahi Jasmine mendengar penuturan sahabatnya.

"Soalnya dihatiku masih ada abang Jeno." Mega menutup kedua matanya, seperti sedang membayangkan seseorang yang baru saja disebutnya.

"Jeno? Siapa sih?"

"Itu yang di nct dream. Yang paling ganteng." Senyum Mega bertambah lebar kala menjawab pertanyaan teman sebangkunya.

"Kpop mulu. Coba sekali-kali lirik kakak kelas di sekolah kita kek." Jasmine memutar kedua bola matanya melihat ke-kpop-an Mega kambuh.

"Udah kok. Ada sih yang ganteng. Tapi dia gak suka sama gue. Gimana dong?" Mega membuka matanya menatap Jasmine.

"Ya lo perjuangin lah. Gimana sih lo." Jasmine menyandarkan badannya ke kursi dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.

"Masalahnya dia udah suka sama cewek lain. Dan ceweknya itu tuh temen gue sendiri. Kan galau dong gue." Mega menyamakan posisinya dengan posisi duduk Jasmine.

"Kok lo tau banget? Emang siapa sih si dia itu?"

Mega berdecak. "Kepo banget sih lo. Kaya si samprul."

"Samprul?"

"Itu tuh, cowok yang rese plus suka ngutang." Dagu Mega menunjuk ke salah satu cowok yang baru saja memasuki kelas mereka, yang tak lain tak bukan merupaka Indra, cowok yang bertengkar dengan Mega saat ia pertama kali memasuki kelas ini.

"Apaan lo? Mau ngomongin gue? Iya gue tau gue ganteng, gak usah diomongin gitu deh." Cowok bernama Indra yang merupakan musuh bebuyutannya itu melewati bangku mereka berdua dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.

"Iyuhh dasar sok ganteng! Tukang ngutang! Najis!" Berbagai macam cacian keluar dari mulut Mega untuk Indra. Yang dicaci hanya mengendikkan bahunya acuh.

Forever LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang