• Beberapa tahun sejak chapter sebelumnya •
Part ini agak bikin diabetes
Sekarang Arvin sudah lulus dan bekerja mengurus usaha warisan sang ayah yang sebelumnya Iva yang menjalani. Wanita itu kini dikaruniai anak kembar laki-laki dan perempuan, tinggal diluar kota bersama sang suami, lebih tepatnya luar pulau karena mengikuti pekerjaan suaminya yang berpindah. Sedangkan Raka kini kuliah hampir semester akhir di fakultas yang sama dengan Arvin dulu.
Menatap jam dengan jarum berputar pelan, Raka kembali menunduk menghiup aroma coklat panas di balkon. Sekarang masih pagi sekitar pukul tujuh dan jam kuliah siang jadi ia bisa santai sebentar.
Dua kali tahun baru dihabiskan seorang diri dirumah. Iva biasanya berkunjung seminggu setelah malam pergantian tahun agar tak macet namun kali ini dia terpaksa tak datang karena salah satu anaknya demam. Sebagai gantinya, Iva ingin vidcall namun Raka menolak dengan alasan akan berkumpul dengan temannya tapi jelas omong kosong. Raka masih seperti dulu, tak suka menjalin pertemanan.
"Kau pasti minum coklat." Ujar Arvin di telepon, suaranya sedikit serak dan lebih berat dari biasanya.
"Iya, ehehh. Tumben sudah bangun, ada acara pagi ya?"
"Hmm, begitulah. Em, Raka.."
"Hn?"
"Emm.. bagaimana ya.."
Mendengar ucapan Arvin yang ragu, Raka segera menyela. "Kau tak bisa pulang lagi? Tidak apa-apa, jaga dirimu baik-baik disana."
"Seharusnya aku yang bilang begitu, Iva tak pulang tahun ini lalu kau bagaimana? Raka, carilah teman lalu pergi bersama mereka."
"Aku baik-baik saja."
"Kau selalu bilang begitu."
"Apa aku harus mengirim air putih untukmu? Apa air di luar negeri rasanya beda sampai kau jarang minum?"
"Apa..?"
"Kak, suaramu serak. Perbanyak minum dan istirahat cukup, kumohon. Nanti bisa sakit. Disana jauh lebih dingin kan?"
"Hmm.. yah, berapa suhu disana?"
Raka berkedip beberapa kali mencerna kalimat itu dan akhirnya mengerti, ia cepat-cepat melihat ponsel dan suhu udara saat ini terlihat. "21°"
"Disini 3°, oh sekarang malah jadi dua. Hahahah, astaga aku boros pakaian tebal."
Raka tersenyum hambar mendengar tawa sang kakak di telepon. Jelas ia sangat merindukan lelaki itu, sangat rindu hingga setiap telepon dan vidcall dadanya terasa seperti meledak namun tetap berusaha agar tak menangis. Dua tahun.. Dua tahun ini dan sebentar lagi tiga tahun mereka terpisah jarak karena suatu hal memaksa Arvin berpindah kerja sebentar keluar negeri. Rencara awalnya hanya satu setengah tahun namun lusa sudah tahun baru ketiga kali Arvin tak ada dirumah.
"Halo? Raka, kau masih disana?"
"Ah.. i iya masih. Jadwal kuliahku siang jadi aku ingin tidur lagi." Ujar Raka, sungguh dia tak bisa lagi menahan ledakan di dalam.
"Oh begitu. Yasudah, pakai selimutmu hingga keatas dan jangan lewatkan sarapan."
"Kau juga."
"Sayang, disini malam loh hahahh.."
"Hahah.. iya.. kumatikan ya."
"Hmm, aku menyayangimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Big Bro! (Complete)
Romance🔞 Brother Conflict. Kalimat singkat yang orang katakan jika melihat kami berdua. Namun tidak, sebenarnya tidak begitu. Aku tetap aku dan Arvin adalah orang lain. Dia bukan saudaraku. 🥇 1 #brotherconflict : 7 Maret 2024
